WHO Dorong Perawatan Kesehatan Mental Berbasis Komunitas, Ini Cara Mendukung Orang Terdekat

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 4 November 2026 | 13:01 WIB
WHO Dorong Perawatan Kesehatan Mental Berbasis Komunitas, Ini Cara Mendukung Orang Terdekat
WHO Dorong Perawatan Kesehatan Mental Berbasis Komunitas, Ini Cara Mendukung Orang Terdekat [Ilustrasi/Pexels]

astakom.com, Jakarta – Mendampingi seseorang yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental ternyata tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar. Terkadang, menanyakan kabar, memberi ruang untuk bercerita, hingga membantu mencari pertolongan profesional bisa menjadi langkah awal yang berarti.

Melansir keterangan resmi World Health Organization (WHO) bertajuk WHO urges shift from institutional to community-based mental health care yang dikutip pada (03/11/2026), WHO mendorong negara-negara memperkuat layanan kesehatan mental berbasis komunitas. Pendekatan ini menggeser fokus perawatan dari ketergantungan pada institusi dengan masa rawat panjang menuju dukungan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, tanpa mengabaikan hak dan pilihan pasien.

Di Indonesia, kebutuhan memperluas dukungan tersebut juga menjadi perhatian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa sekitar 9 dari 10 orang dengan depresi belum mendapatkan layanan kesehatan. Karena itu, kepedulian keluarga dan lingkungan sekitar, ditambah akses terhadap tenaga profesional, menjadi bagian penting dalam memperkuat penanganan kesehatan jiwa.

Mengapa perawatan kesehatan mental berbasis komunitas penting?

Menurut WHO, perawatan berbasis komunitas bukan sekadar memindahkan pasien dari rumah sakit ke lingkungan tempat tinggal. Pendekatan ini membutuhkan jaringan layanan yang saling terhubung, mulai dari fasilitas kesehatan umum, pusat kesehatan mental komunitas, dukungan sebaya, hingga pendampingan sosial.

Dalam panduan terbarunya, WHO juga menekankan bahwa proses pemulihan perlu didukung akses terhadap tempat tinggal, layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, serta dukungan keluarga. Dengan begitu, orang yang mengalami masalah kesehatan mental tetap memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan sosial dan mengambil keputusan terkait perawatannya.

WHO turut mengingatkan bahwa perubahan tersebut tidak berarti rumah sakit jiwa harus dihilangkan atau semua pasien dipulangkan begitu saja. Peralihan perlu direncanakan dengan matang, disertai layanan alternatif yang memadai dan kesinambungan perawatan.

4 cara sederhana mendukung orang dengan masalah kesehatan mental

Dukungan dari orang terdekat dapat membantu seseorang merasa tidak menghadapi masalahnya sendirian. Kemenkes melalui Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memperkenalkan empat langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat, yaitu Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan.

Berikut cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Tanya kondisi orang tersebutJangan langsung berasumsi ketika seseorang terlihat lebih pendiam, mudah tersinggung, atau mengalami perubahan perilaku. Coba tanyakan kondisinya dengan cara yang hangat dan tidak memaksa. Pertanyaan sederhana seperti menanyakan apakah ia sedang menghadapi sesuatu dapat membuka ruang untuk berkomunikasi.
  2. Dengarkan tanpa menghakimiBerikan kesempatan kepada orang tersebut untuk bercerita sesuai kenyamanannya. Hindari meremehkan perasaannya, menyalahkan, atau membandingkan masalah yang dialami dengan pengalaman orang lain. Tidak semua cerita membutuhkan respons berupa nasihat; terkadang, didengarkan saja sudah menjadi bentuk dukungan.
  3. Temani agar tidak merasa sendirianTunjukkan bahwa ia tetap memiliki orang yang bisa dihubungi ketika sedang menghadapi masa sulit. Dukungan dapat diberikan melalui komunikasi, menemani mencari bantuan, atau tetap menjaga hubungan sosial tanpa memaksanya untuk langsung bercerita.
  4. Hubungkan dengan bantuan profesionalApabila masalah yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut, bantu orang tersebut mengakses layanan kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, psikolog klinis, atau psikiater. Dukungan teman dan keluarga penting, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan serta penanganan oleh tenaga profesional.

Kenali perubahan perilaku dan jangan menunda mencari bantuan

Kemenkes mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap perubahan kondisi fisik, emosi, dan perilaku yang berlangsung secara konsisten. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain gangguan pola tidur, kelelahan berulang, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, hingga perubahan pola bicara dan aktivitas.

Perubahan tersebut tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami gangguan mental tertentu. Namun, apabila berlangsung terus-menerus, terlebih lebih dari dua minggu, kondisi tersebut patut menjadi alasan untuk mencari penilaian dari tenaga kesehatan.

Masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan yang tersedia. Kemenkes menyebut skrining kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) maupun secara mandiri melalui SATUSEHAT. Hasil skrining bukan diagnosis, tetapi dapat membantu mengenali kebutuhan konsultasi lebih lanjut. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Kesehatan mental bukan urusan pribadi yang harus selalu dihadapi sendirian. Mulai dari bertanya, mendengarkan, menemani, hingga membantu mencari pertolongan profesional, setiap orang bisa mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih suportif. Namun, jangan lupa bahwa dukungan dari orang terdekat tetap perlu berjalan beriringan dengan bantuan tenaga kesehatan ketika dibutuhkan.

Kesehatan Kesehatan Mental Tips menjaga kesehatan Tips dan kiat-kiat Kemenkes

Infografis

Terkini