BI Spill Arus Modal Asing Comeback, Cadangan Devisa RI Tembus USD146,3 Miliar!
astakom.com, Jakarta - Menghadapi situasi yang penuh dengan ketidakpastian ekonomi global pemerintah terus melakukan berbagai langkah mitigasi demi menjaga ketahanan eksternal Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti ngespill kondisi finansial tanah air saat konferensi pers hasil rapat KSSK IV Tahun 2026 di kompleks gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, pada Selasa (03/11/2026).
Kabar baik datang dari sektor perdagangan internasional. Neraca perdagangan periode Januari sampai September 2026 sukses membukukan surplus sebesar USD10,61 miliar. Khusus buat bulan September 2026 saja, surplusnya tembus di angka USD3,36 miliar.
Neraca dagang surplus
"Neraca perdagangan pada Januari-September 2026 mencatat surplus sebesar USD10,61 miliar, dengan perkembangan pada September 2026 mencatat surplus USD3,36 miliar," jelas Destry Damayanti.
Bukan cuma itu, posisi cadangan devisa Indonesia per akhir September 2026 juga masih perkasa di angka USD146,3 miliar. Angka ini setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah yang posisinya jauh banget di atas standar kecukupan internasional (sekitar 3 bulan impor).
Arus modal asing comeback
Dinamika investasi portofolio asing sempat ngalamin drama. Destry ngespill kalau sepanjang triwulan III 2026, tercatat ada net outflows sebesar USD0,08 miliar yang mayoritas dipicu oleh aksi tarik dana di pasar saham.
Tapi, situasi langsung berbalik begitu memasuki awal triwulan IV 2026 (hingga 23 Oktober 2026). Arus modal asing berangsur membaik dan mencatat net inflows sebesar USD0,04 miliar, yang didukung penuh sama instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kalau ditotal secara keseluruhan dari Januari sampai 23 Oktober 2026, aliran investasi portofolio asing kita masih surplus bersih (net inflows) di angka USD13,23 miliar.
Nilai tukar rupiah sempet kena mental
Soal kurs, Rupiah sempat nunjukin penguatannya sampai pertengahan September 2026 kemarin. Sayangnya, per 2 November 2026, mata uang kita harus rela melemah tipis -0,11% ke level Rp18.145 per dolar AS jika dibandingin sama akhir Oktober 2026.
"Nilai tukar Rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026, namun pada 2 November 2026 melemah -0,11% menjadi Rp18.145 per dolar AS dibandingkan dengan level pada akhir Oktober 2026," kata Destry.
Pelemahan ini wajar banget terjadi karena dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, kebijakan bank sentral AS yang masih ketat, serta sentimen global yang lagi sensi ke aset-aset emerging market.
Pasar SBN resilient
Di sisi lain, pasar SBN RI justru ngebuktiin mental baja alias resilient di tengah gelombang volatilitas global. Sepanjang triwulan III 2026, kepercayaan investor asing masih tinggi. Investor Non-Residen bahkan rajin melakukan pembelian bersih alias net buy sebesar Rp28,79 triliun, dan bikin kepemilikan mereka naik 3,28% dibanding akhir 2025.
Hebatnya lagi, spread SUN seri benchmark 10 tahun terhadap UST 10 tahun ada di level 183 bps (turun tipis dari 184 bps di akhir 2025) di tengah lingkungan suku bunga global yang masih betah di level tinggi (higher for longer).
Overall, meskipun tantangan ekonomi global masih dihadapi Indonesia tapi fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih punya daya tahan yang solid. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketahanan eksternal Indonesia masih menunjukkan performa yang cukup solid. Neraca perdagangan mencatat surplus USD10,61 miliar sepanjang Januari–September 2026, cadangan devisa mencapai USD146,3 miliar, dan arus modal asing kembali mencatatkan net inflows. Meski Rupiah sempat melemah akibat tekanan geopolitik dan kebijakan suku bunga AS, pasar SBN tetap resilient dengan minat investor asing yang terjaga. Artinya, meski tekanan global belum mereda, fondasi ekonomi Indonesia masih punya bantalan yang cukup kuat untuk menghadapi gejolak.









