Kanker Serviks Bisa Dicegah, Ini 7 Kiat yang Perlu Diketahui Perempuan
astakom.com, Jakarta – Menjaga kesehatan reproduksi tidak cukup hanya dilakukan ketika tubuh mulai menunjukkan keluhan. Perempuan juga perlu mengenali risiko kanker serviks sejak dini, salah satunya melalui vaksinasi HPV dan pemeriksaan rutin. Langkah ini penting karena infeksi virus penyebab kanker serviks bisa berlangsung tanpa gejala, sehingga deteksi dini menjadi salah satu upaya untuk mencegah perkembangan penyakit.
Melansir keterangan resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengenai perluasan skrining kanker leher rahim melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), dikutip pada Selasa, (03/11/2026), pemerintah mengembangkan pemeriksaan DNA HPV dan metode pengambilan sampel mandiri atau self-sampling untuk memperluas akses deteksi dini. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong lebih banyak perempuan memeriksakan kesehatan leher rahim tanpa harus menunggu munculnya keluhan.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui artikel Cervical Cancer yang diperbarui pada 3 Juli 2026 menjelaskan bahwa sebagian besar kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV risiko tinggi yang menetap. Infeksi tersebut dapat memicu perubahan sel pada leher rahim dan berkembang menjadi kanker apabila tidak terdeteksi serta ditangani dengan tepat.
Kenali langkah pencegahan kanker serviks sejak dini
Berikut list dari informasi yang astakom.com himpun, pencegahan kanker serviks tidak harus menunggu sampai muncul tanda-tanda penyakit. Ada beberapa langkah yang dapat mulai diperhatikan perempuan untuk mengurangi risiko sekaligus meningkatkan peluang menemukan perubahan sel sejak awal.
Berikut tujuh kiat yang bisa menjadi perhatian:
- Pertimbangkan vaksinasi HPVVaksin HPV menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi tubuh dari infeksi virus yang dapat menyebabkan kanker serviks. WHO merekomendasikan vaksinasi bagi anak perempuan usia 9–14 tahun sebelum mereka terpapar HPV. Perlu dipahami, vaksin ini berfungsi mencegah infeksi baru, bukan mengobati infeksi yang sudah terjadi.
- Jangan melewatkan pemeriksaan skriningPemeriksaan leher rahim tetap penting dilakukan meskipun tidak ada keluhan. WHO merekomendasikan pemeriksaan menggunakan tes berkinerja tinggi mulai usia 30 tahun bagi perempuan pada populasi umum. Jadwal pemeriksaan berikutnya perlu disesuaikan dengan pedoman nasional dan saran tenaga kesehatan.
- Pahami perbedaan tes HPV dan Pap smearKeduanya sama-sama digunakan dalam upaya deteksi dini kanker serviks, tetapi memiliki fungsi berbeda. Tes HPV bertujuan mendeteksi keberadaan virus HPV berisiko tinggi, sedangkan Pap smear memeriksa perubahan atau kelainan sel pada leher rahim. Pemilihan pemeriksaan dapat dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan sesuai kebutuhan.
- Manfaatkan metode pengambilan sampel mandiri jika tersediaPemeriksaan self-sampling memungkinkan perempuan mengambil sampel sendiri menggunakan alat khusus untuk mendeteksi HPV. WHO menjelaskan bahwa metode ini dapat menjadi alternatif pemeriksaan yang andal apabila menggunakan tes dan prosedur yang tervalidasi. Di Indonesia, Kemenkes juga mengembangkan penerapannya dalam program skrining CKG dengan pendampingan petugas kesehatan.
- Jangan mengabaikan hasil tes HPV positifMendapatkan hasil HPV positif bukan berarti seseorang langsung didiagnosis menderita kanker serviks. Infeksi HPV cukup umum dan sebagian besar dapat dibersihkan secara alami oleh sistem kekebalan tubuh. Meski begitu, hasil positif tetap perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan tambahan sesuai arahan tenaga medis.
- Hindari kebiasaan merokokMerokok termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko perkembangan kanker serviks, terutama pada perempuan yang mengalami infeksi HPV. Karena itu, menghindari rokok maupun mulai berhenti merokok menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh dan mengurangi risiko penyakit.
- Jangan menunggu jadwal skrining jika muncul gejala mencurigakanPerdarahan di luar menstruasi, perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan setelah menopause, hingga keputihan yang tidak biasa atau berbau merupakan kondisi yang perlu diperiksakan. Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker serviks, tetapi tetap membutuhkan evaluasi medis agar penyebabnya dapat diketahui.
Mengenal pemeriksaan HPV mandiri yang mulai diperluas
Salah satu hal yang mulai mendapat perhatian dalam pencegahan kanker serviks adalah metode self-sampling. Cara ini memberi kesempatan bagi perempuan untuk mengambil sampel sendiri menggunakan alat khusus, sehingga dapat menjadi alternatif bagi mereka yang menghadapi hambatan dalam mengakses pemeriksaan langsung.
Dalam penerapannya, sampel yang sudah dikumpulkan tetap harus melalui pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui keberadaan HPV risiko tinggi. Artinya, metode mandiri bukan berarti perempuan dapat mendiagnosis kanker serviks sendiri tanpa bantuan tenaga medis.
Sebagai contoh, NHS Inggris pada Agustus 2026 mulai memperluas penawaran alat tes HPV mandiri kepada hampir empat juta perempuan yang belum mengikuti pemeriksaan skrining setelah menerima undangan. Kebijakan tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi pemeriksaan kanker serviks.
Di Indonesia, Kemenkes juga mengembangkan pemeriksaan DNA HPV dan pengambilan sampel mandiri dengan pendampingan petugas kesehatan melalui program CKG. Perempuan yang ingin memanfaatkannya dapat menanyakan ketersediaan layanan tersebut di fasilitas kesehatan terdekat.
Deteksi dini membantu mencegah perkembangan kanker serviks
WHO menjelaskan bahwa kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang sebagian besar dapat dicegah melalui vaksinasi HPV, pemeriksaan berkala, serta penanganan terhadap kondisi prakanker. Proses perkembangan penyakit ini umumnya berlangsung dalam waktu panjang, sehingga pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan perubahan sel sebelum berkembang menjadi kanker.
Karena itu, memahami faktor risiko dan tidak menunda pemeriksaan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Perempuan juga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar memperoleh informasi mengenai jenis skrining, jadwal pemeriksaan, dan tindak lanjut yang sesuai dengan kondisinya. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Menjaga kesehatan reproduksi bukan berarti harus menunggu sampai tubuh memberikan sinyal bahaya. Vaksinasi HPV, pemeriksaan serviks berkala, dan memahami hasil tes merupakan langkah yang bisa mulai diperhatikan sejak dini. Jika tersedia, metode self-sampling juga dapat menjadi alternatif untuk membantu perempuan mengakses pemeriksaan dengan lebih nyaman. Intinya, jangan abaikan pemeriksaan maupun gejala yang tidak biasa karena deteksi dini dan tindak lanjut medis punya peran penting dalam mencegah perkembangan kanker serviks.









