BI Spill Strategi Jaga Rupiah: Suku Bunga Ditahan, Likuiditas Perbankan Dilonggarkan

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Rabu, 4 November 2026 | 13:33 WIB
BI Spill Strategi Jaga Rupiah: Suku Bunga Ditahan, Likuiditas Perbankan Dilonggarkan
BI Spill Strategi Jaga Rupiah: Suku Bunga Ditahan, Likuiditas Perbankan Dilonggarkan! [Dok. Menkeu RI]

astakom.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, resmi ngespill strategi Bank Indonesia sebagai pemegang kebijakan moneter saat konferensi pers hasil rapat KSSK IV Tahun 2026 di kompleks gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, pada Selasa (03/11/2026).

Di tengah dinamika global, BI menegaskan komitmennya memperkuat bauran kebijakan demi ketahanan eksternal dan stabilitas.

Bank Indonesia juga berkomitmen buat all-out mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan lewat sinergi erat dengan pemerintah dalam mensupport Program Asta Cita Pemerintah.

Fokus utamanya jelas, yakni kebijakan moneter dipatok lebih pro-stability, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran dikawal pro-growth. Di bidang moneter, BI mengambil langkah-langkah taktis demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta mengamankan sasaran inflasi di kisaran 2,5±1% untuk tahun 2026 dan 2027.

"Kebijakan moneter lebih difokuskan untuk menjaga stabilitas atau pro stability sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau progrow," kata Destry.

Pertahankan suku bunga dan suntik likuiditas rupiah

BI secara konsisten mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 5,75% dan suku bunga Lending Facility pada level 6,50% sepanjang Agustus, September, dan Oktober 2026. Nggak cuma itu, suku bunga Deposit Facility turut dinaikkan menjadi 5,00% pada Oktober 2026 guna menarik aliran masuk modal asing serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

Demi memperkuat kecukupan likuiditas Rupiah di pasaran, BI secara strategis menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara rata-rata. Untuk Bank Umum Konvensional (BUK), GWM diturunkan dari 9% menjadi 7% lewat dua tahapan yakni turun ke 8% mulai 1 November 2026, lalu turun lagi ke 7% mulai 1 Desember 2026.

Sementara itu, bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS), GWM dipangkas dari 7,5% menjadi 5,5% dengan skema: turun ke 6,5% mulai 1 November 2026, dan menjadi 5,5% mulai 1 Desember 2026. Penurunan GWM ini juga diselaraskan dengan penyesuaian Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dari 6% menjadi 5% yang efektif berlaku mulai 1 Desember 2026.

Optimalisasi intervensi valas dan perluasan LCT

Untuk meredam tekanan eksternal, efektivitas stabilisasi nilai tukar Rupiah diperkuat melalui optimalisasi intervensi valuta asing. Langkah ini mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

"BI juga memperkuat efektivitas stabilitas nilai tukar rupiah dengan satu, mengoptimalkan strategi intervensi valuta asing, memperkuat stabilitas nilai tukar baik melalui transaksi non-deliverable forward di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan domestik non-deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik," katanya.

BI juga memperluas pemberian insentif pengurangan premi demi mendongkrak portofolio asing. Insentif ini diberikan pada instrumen DNDF Lindung Nilai (menjadi 40% untuk tenor 6 bulan dan 45% untuk tenor 12 bulan) serta Swap Beli Lindung Nilai Konvensional (sebesar 15% untuk tenor 3 bulan, 20% untuk tenor 6 bulan, dan 25% untuk tenor 12 bulan) dalam rangka underlying pendanaan luar negeri, baik portofolio, pinjaman bank, maupun foreign direct investment.

Nilai transaksi LCT melesat

Tak ketinggalan, transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra terus digenjot untuk diversifikasi valas. Tercatat, LCT kini telah diimplementasikan bersama tujuh negara mitra Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura dengan performa yang makin gacor.

Nilai transaksinya pada 2026 hingga September sukses menembus ekuivalen USD52,6 miliar, melesat lebih dari dua kali lipat dibanding total transaksi keseluruhan tahun 2025 yang sebesar ekuivalen USD25,7 miliar.

Lewat koordinasi erat bersama Pemerintah dan KSSK, BI optimis stabilitas ekonomi nasional bakal terus terjaga dengan vibes yang positif. (Shnty/RaM)

Gen Z Takeaway

BI lagi ngegas menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global lewat kombinasi kebijakan moneter dan makroprudensial. Suku bunga acuan dipertahankan di level 5,75%, sementara GWM perbankan diturunkan bertahap agar likuiditas Rupiah makin longgar dan penyaluran kredit tetap terjaga. BI juga memperkuat intervensi valas serta memperluas transaksi mata uang lokal dengan tujuh negara mitra. Hasilnya, transaksi LCT hingga September 2026 sukses menembus USD52,6 miliar atau lebih dari dua kali lipat total transaksi sepanjang 2025. Strategi ini jadi amunisi BI untuk menjaga Rupiah tetap stabil sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Bank Indonesia (BI) Gubernur BI Destry Damayanti nilai tukar rupiah Kebijakan Moneter

Infografis

Terkini