Sosok Irjen Ahrie Sonta, Baru Sebulan Jabat Kadivkum kini jadi Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
astakom.com, Jakarta – Penetapan tiga jenderal perwira tinggi sebagai tersangka skandal penyadapan ilegal terhadap ponsel Presiden Prabowo Subianto benar-benar menghentak perhatian publik. Di antara deretan nama tersebut, sosok Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri, Irjen Pol. Ahrie Sonta (ASN), menjadi sorotan tajam setelah resmi ditahan di Rutan Mabes Polri bersama mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo (LSP) dan Irjen Eko Hadi (EH).
Kabareskrim Polri Komjen Pol. Asep Safrudin membeberkan bahwa ketiga perwira senior tersebut dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara berdasarkan hasil penyidikan berbasis Scientific Crime Investigation.
"Berdasarkan hasil penyidikan secara Scientific Crime Investigation dan proses manage- proses manajemen penanganan perkara, penyidik telah menetapkan terhadap 3 orang tersangka dengan inisial LSP, ASN, dan EH," kata Komjen Asep dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa (3/11/2026).
Sepak terjang karier moncer reserse dan penangkapan buronan Djoko Tjandra
Sebelum terjerat kasus hukum ini, Ahrie Sonta dikenal sebagai salah satu perwira berprestasi dengan rekam jejak mumpuni di bidang reserse. Kelahiran Bandung, 2 April 1981, alumni Akpol 2002 Batalyon Wicaksana Laghawa ini sempat dipercaya memimpin Satgas Operasi Nemangkawi di Papua serta menduduki posisi Kasat Lantas Polres Sidoarjo.
Namanya kian meroket pada 2020 saat bertugas di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Kala itu,Ahrie memimpin tim khusus yang sukses menciduk buronan kasus korupsi Bank Bali, Djoko Tjandra, di Kuala Lumpur, Malaysia. Keberhasilan tersebut membawanya dipercaya memimpin sebagai Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok.
Jejak panjang di lingkaran istana: dari sekpri kapolri hingga ajudan presiden
Karier Ahrie terus melesat cepat ke pusat lingkaran kekuasaan. Pada Februari 2021, ia ditunjuk mengisi posisi Sekretaris Pribadi (Sekpri) Kapolri. Setelah dua tahun mendampingi pimpinan tertinggi Polri, Ahrie kemudian mendapat kepercayaan besar ditarik ke Istana Negara sebagai Ajudan Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2024.
Langkah kariernya kian tak terbendung saat menorehkan rekor sebagai lulusan Akpol 2002 pertama yang sukses "pecah bintang" menjadi Brigadir Jenderal pada Oktober 2025. Tak berhenti di situ, ia juga merampungkan pendidikan akademik hingga meraih gelar Doktor (S3) di bidang Ilmu Kepolisian.
Baru sebulan menjabat Kadivkum Polri sebelum berakhir di rutan
Puncak promosi jabatan Ahrie terjadi pada Oktober 2026 ketika Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto melantiknya sebagai Kadivkum Polri sekaligus menyematkan pangkat Inspektur Jenderal (bintang dua). Jabatan strategis ini diraihnya berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026.
Namun, posisi mentereng yang baru diemban seumur jagung tersebut mendadak runtuh. Hanya sebulan setelah dilantik, Irjen Ahrie Sonta kini harus menanggalkan seragam kebanggaannya dan menghuni Rutan Mabes Polri akibat keterlibatannya dalam skandal penyadapan ilegal. (RaM)
Gen Z Takeaway
Perjalanan karier Irjen Ahrie Sonta ini beneran definisi from hero to zero yang bikin publik geleng-geleng kepala (what a plot twist!). Punya rekam jejak mentereng dari nangkep buronan Djoko Tjandra, pecah bintang paling cepet di angkatannya, sampai jadi ajudan Presiden Prabowo, karier mentereng yang baru aja naik ke puncak Kadivkum Polri langsung runtuh seketika gara-gara nekat terlibat skandal penyadapan LIMS.









