Hasil Pemilu Israel dan AS 3 November Jadi Penentu Geopolitik Timur Tengah

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 1 November 2026 | 22:02 WIB
Hasil Pemilu Israel dan AS 3 November Jadi Penentu Geopolitik Timur Tengah
Hasil Pemilu Israel dan AS 3 November Jadi Penentu Geopolitik Timur Tengah [lustrasi bendera Israel/Gemini AI]

astakom.com, Jakarta – Konstelasi politik global kembali tersorot tajam menyusul dinamika pemilihan umum di Israel yang hasilnya masih jauh dari kata clear. Di tengah situasi kemanusiaan yang kian mendesak, masa depan Gaza kini sangat bergantung pada siapa yang akhirnya memegang kendali pemerintahan.

Deadlock politik Israel

Berdasarkan analisis eksklusif bersama pengamat internasional, hasil pemilu kali ini menunjukkan perolehan suara Benjamin Netanyahu yang mengalami penurunan drastis, sementara kubu oposisi juga belum mampu mengamankan mayoritas mutlak kursi parlemen.

Partai Arab jadi penentu

Situasi politik yang ujung-ujungnya berujung deadlock ini memaksa berbagai faksi untuk memutar otak mencari koalisi yang pas. Di sinilah peran Partai Arab dengan perolehan 19 kursi menjadi game changer atau penentu arah kebijakan koalisi ke depannya.

Jika faksi oposisi berhasil merangkul Partai Arab, potensi terciptanya ruang dialog yang lebih damai bagi Gaza terbuka lebar. Sebaliknya, jika Netanyahu kembali bermanuver menggalang kekuatan, dinamika konflik dikhawatirkan bakal berjalan stuck di tempat yang sama.

"Potensi untuk memberikan ruang bagi solusi Gaza yang lebih damai itu memungkinkan, tapi kalau itu tidak terjadi, bisa saja Netanyahu melakukan pendekatan kepada partai-partai oposisi yang untuk melengkapi suaranya," ucap Yon Machmudi selaku pengamat politik Timur Tengah dalam sambungan telepon kepada wartawan astakom.com pada Sabtu (31/10/2026).

Peluang koalisi moderat

Proses pembentukan kabinet pasca-pemilu menyisakan waktu dua minggu bagi presiden untuk menunjuk perdana menteri baru. Menariknya, dinamika koalisi kali ini tidak hanya berkutat pada faksi ekstrem kanan, tetapi juga membuka ruang bagi partai-partai di jalur tengah. Kehadiran tokoh-tokoh alternatif seperti mantan Menteri Pertahanan Gadi Eisenkot memberikan warna baru yang dinilai lebih moderat dibandingkan gaya kepemimpinan Netanyahu selama ini.

Walaupun begitu, proses koalisi yang lowkey tapi penuh intrik ini tentu memerlukan kompromi politik yang tidak mudah. Campuran antara partai tengah, kanan, hingga partai-partai Arab menuntut adanya soliditas tingkat tinggi agar pemerintahan yang terbentuk tidak rapuh. Apabila koalisi moderat ini sukses dibentuk, stabilitas domestik Israel diharapkan bisa bergeser ke arah yang lebih konstruktif dan less toxic bagi kawasan regional.

"Maka kalau dia yang berkuasa, saya bilang ya potensinya akan lebih ee lebih kuat ya ke arah pendekatan yang ee lebih ke tengah ya, tetapi memang agak rinci juga ya" jelasnya.

Faktor penentu dari AS

Perubahan kepemimpinan di tubuh pemerintahan Israel diyakini membawa angin segar bagi penurunan eskalasi konflik di Timur Tengah. Jika Netanyahu gagal berkuasa dan harus berhadapan langsung dengan proses hukum terkait kasus korupsi yang menjeratnya, semangat agresif untuk terus berperang diprediksi bakal mengalami penurunan drastis. Hal ini membuka peluang emas bagi terciptanya jalur negosiasi damai yang selama ini tertutup rapat.

Selain itu, dominasi faksi oposisi yang lebih terbuka terhadap tekanan publik internasional juga memberikan secercah harapan bagi perjuangan kemerdekaan Palestina. Peluang penerapan solusi dua negara (two-state solution) kembali mendapatkan momentumnya, terutama jika didukung oleh perubahan peta politik global, termasuk hasil pemilihan umum di Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 3 November mendatang.

"Saya kira ya perubahan di Amerika sendiri, apakah nanti Demokrat menguat atau Republik ya pendukung Donald Trump ya, 3 November nanti justru terjadi perubahan. Tapi kalau Demokrat menguat kan two-state solution harusnya bisa didorong kembali ya dengan perubahan di dua tempat itu." Jelasnya.

"Mereka akan menentukan nasib politik mereka sendiri tanpa kemudian melihat dari apa yang terjadi di luar Israel." tutupnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Hasil pemilu Israel dan AS kali ini tuh vibe-nya kayak penentu plot twist besar buat masa depan Gaza; kalau faksi moderat menang dan didukung AS, peluang peace treaty dan solusi dua negara bakal terbuka, tapi kalau salah langkah, konfliknya bakal stuck di situ-situ terus.

Pemilu Israel Pemilu Israel 2026 Gaza geopolitik

Infografis

Terkini