Sering Pusing dan Mual Saat Mudik? Ahli Saraf Ungkap Penyebab Motion Sickness dan Cara Ampuh Mencegahnya
astakom.com, Jakarta - Bepergian menggunakan mobil, pesawat, kapal, hingga menjajal wahana permainan ekstrem kerap kali memicu gangguan mabuk perjalanan alias motion sickness. Kondisi tidak nyaman ini ditandai dengan munculnya rasa mual, pusing, hingga tubuh lemas membentang yang bahkan masih terus menyisa meski perjalanan panjang sudah lama usai.
Ahli saraf Victor S. Wang, MD, membeberkan bahwa motion sickness pada dasarnya merupakan respons abnormal tubuh akibat miskomunikasi internal pada sistem saraf pusat saat memproses gerakan.
Kondisi ini meledak ketika otak menerima pasokan informasi yang saling bertabrakan dari organ sensorik.Mata melaporkan apa yang ditangkap oleh penglihatan, sementara telinga bagian dalam bekerja keras menjaga keseimbangan tubuh.
Di saat bersamaan, otak wajib mengolah sistem proprioceptionkemampuan alami tubuh buat mendeteksi posisi serta pergerakan anggota badan. Begitu laporan dari ketiga sistem sensorik tersebut tidak sinkron, otak akan kebingungan dan memicu reaksi mabuk perjalanan.
“Dalam proses tubuh mengolah informasi untuk menjaga keseimbangan, terdapat masukan dari isyarat visual,sistem telinga, serta sensorik lainnya,” papar Wang, dikutip dari American Medical Association, Jumat (06/11/2026).
Kenali sinyal awal: dari air liur numpuk hingga gejala bertahan 3 hari
Wang menjelaskan bahwa awal mula motion sickness tidak selalu langsung dihantam rasa mual hebat atau pusing berputar. Pada fase early warning, penderita biasanya cuma merasakan ketidaknyamanan samar pada tubuh, produksi air liur melonjak tiba-tiba, berkeringat dingin, perubahan detak jantung, hingga sensasi melayang (lightheadedness).
Apabila paparan gerakan terus berlanjut, gejala bakal terakselerasi menjadi mual parah, vertigo, muntah,hingga kelelahan ekstrem. Pada beberapa kasus, penderita juga bakal mengeluhkan napas sesak, kesemutan pada jari tangan-kaki, serta kulit wajah yang mendadak pucat pasi.
“Rasa mual dan pusing mulai memburuk. Penderitanya juga bisa merasa semakin lelah dan terkuras seiring berkembangnya gejala,” terang Wang.
Bagi individu yang sangat sensitif terhadap dinamika gerakan, efek motion sickness ini bahkan tidak langsung hilang begitu sampai tujuan, melainkan bisa bertahan secara persisten selama 36 hingga 72 jam (1-3 hari).
Dari sisi demografi, perempuan dan anak-anak berusia di bawah sembilan tahun memiliki rasio kecenderungan lebih tinggi mengalami mabuk perjalanan. Selain faktor usia dan gender, riwayat medis seperti migrain, gangguan kecemasan (anxiety), masalah sistem vestibular, serta penderita asam lambung/pencernaan juga memperbesar risiko motion sickness.
Trik posisi duduk ideal buat meredam bentrokan sensorik otak
Guna meminimalkan potensi mabuk perjalanan, Wang membagikan sejumlah langkah preventif taktikal yang bisa diterapkan saat hendak bepergian jauh. Kunci utamanya terletak pada pemilihan posisi duduk yang strategis di dalam moda transportasi.
Saat naik mobil, disarankan mengambil posisi di kursi depan atau menjadi pengemudi agar pandangan mata bisa leluasa menyelaraskan arah pergerakan kendaraan. Sementara bagi penumpang pesawat, pilihlah seatdi area sekitar sayap karena memiliki tingkat stabilitas gerakan paling tinggi dibanding area depan atau ekor.
Ketika menumpangi bus, kereta api, maupun kapal laut, pastikan selalu duduk menghadap ke depan searah laju kendaraan. Titik fokus mata juga sebaiknya diarahkan memandang objek yang diam atau garis cakrawala di kejauhan guna membantu otak menyatukan isyarat visual dengan ketukan gerak tubuh.
Persiapan fisik: atur asupan makanan, sediakan jahe, dan jaga suhu dingin
Selain urusan seating position, kontrol asupan tubuh sebelum berangkat memegang peranan krusial. Pastikan hidrasi tubuh terpenuhi dengan baik dan hindari mengonsumsi makanan porsi besar (heavy meals) tepat sebelum melakukan perjalanan.
Selama perjalanan berlangsung, usahakan buat berdiri sebentar, berjalan lirih, atau meregangkan otot kaki apabila moda transportasi memungkinkan.
Menjaga sirkulasi udara dan suhu kabin tetap sejuk dingin juga terbukti efektif menekan timbulnya rasa mual.Terakhir, mengonsumsi camilan ringan atau olahan jahe sebelum berangkat bisa menjadi solusi alami yang manjur buat menenangkan pencernaan. (RaM)
Gen Z Takeaway
Buat kamu yang suka mendadak tumbang tiap kali perjalanan jauh, fenomena motion sickness ini beneran ada penjelasan medisnya (it's all about mixed signals in your brain!). Bentrokan informasi antara mata, telinga dalam, dan sensor tubuh bikin otak pusing sendiri sampai nimbulin mual. Biar momen traveling tetap fun tanpa drama muntah di jalan, kunci utamanya adalah pinter pilih posisi duduk (di depan atau dekat sayap pesawat),hindari makan terlalu kenyang, plus selalu siapin olahan jahe atau udara sejuk biar badan tetap rileks.








