Epidemi Kesepian Bayangi 12% Lansia Indonesia

Editor: Henni Rachma Sari
Jumat, 6 November 2026 | 09:06 WIB
Epidemi Kesepian Bayangi 12% Lansia Indonesia
Prioritaskan Lansia, PPIH Siapkan Menu Makanan Khusus dan Kamar Lantai Dasar (Astakom / Nadiah)

astakom.com, Jakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Wihaji, memberikan sorotan tajam terhadap dinamika sosial serta psikologis yang diam-diam mengintai kelompok lanjut usia (lansia) di Indonesia. Di balik degradasi kondisi fisik, persoalan paling krusial dan nyata yang kini membayangi para senior adalah rasa kesepian (loneliness).

Wihaji menekankan pentingnya respons cepat atas krisis emosional ini seiring melesatnya populasi aging population di Tanah Air yang kini sudah menyentuh angka 11,9% atau hampir 12%.

"Program lansia itu (masalahnya) satu saja: kesepian," ungkap Wihaji saat mengisi helatan GENTING Collaboration Summit 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (06/11/2026).

Ledakan populasi lansia 2045 dan realita anak merantau

Potret demografi menunjukkan bahwa tren penduduk lansia bakal merangkak naik secara signifikan hingga menyentuh angka 20% pada tahun 2045 mendatang. Bahkan saat ini, tercatat ada sekitar 25 juta dari total 74 juta keluarga di Indonesia yang memiliki anggota keluarga berusia lanjut.

Wihaji memberikan analogi sosial yang sangat dekat dengan fenomena masyarakat perkotaan saat ini, di mana anak-anak yang telah sukses meniti karier atau berkuliah di luar negeri sering kali tak kembali ke kampung halaman.

"Anaknya sudah berhasil. Lalu, anaknya sekolah ke Amerika, habis itu enggak balik. Punya keluarga di sana,di sini sudah enggak ada orang, tinggal istrinya doang tiap hari nonton TV, capek, kesepian," jelasnya menggambarkan realita ruang hampa yang dirasakan orang tua.

Lansia berdaya dan sekolah lansia jadi benteng emosional pemerintah

Menjawab krisis isolasi sosial tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyiagakan dua instrumen program khusus, yakni 'Lansia Berdaya' dan 'Sekolah Lansia'.

Melalui program terstruktur ini, para lansia diberikan wadah interaksi sosial, stimulasi aktivitas produktif, serta edukasi kesehatan fisik dan mental agar tetap memiliki komunitas yang suportif di hari tua.

Inisiatif ini dirancang agar para orang tua tidak hanya menghabiskan waktu secara pasif di rumah, tetapi tetap merasa dihargai, dibutuhkan, dan memiliki support system yang solid.

Pengingat siklus hidup: suatu saat kita juga bakal seperti mereka

Mengakhiri orasinya, Wihaji mengajak seluruh lapisan masyarakat dan generasi muda untuk mengasah empati terhadap keberadaan kelompok lansia. Ia mengingatkan bahwa menjadi tua adalah fase pasti dari perjalanan hidup setiap manusia yang tidak bisa dihindari.

Memberikan perhatian, ruang aman, serta kasih sayang kepada generasi pendahulu merupakan wujud investasi sosial untuk masa depan diri sendiri.

"Karena itu kita punya program namanya Lansia Berdaya, kita punya program namanya Sekolah Lansia. Itu yang kita kerjakan untuk kita supporting bahwa kita suatu saat akan seperti mereka," pungkas Wihaji. (RaM)

Gen Z Takeaway

Spill dari Menkependudukan Wihaji ini bener-bener jadi reality check yang eye-opening banget buat kita (check on your parents and grandparents, guys!). Di tengah kesibukan kita berburu karier atau studi sampai merantau jauh, ada rasa kesepian mendalam yang sering dipendam para lansia di rumah. Hadirnya program Lansia Berdaya dan Sekolah Lansia jadi langkah keren dari pemerintah buat bikin para senior tetap aktif dan punya komunitas, sekaligus pengingat buat kita biar gak lupa meluangkan waktu buat orang tua.

Lansia Wihaji Haji Ramah Lansia MBG untuk Lansia Rumah Lansia Kesehatan Lansia

Infografis

Terkini