Dibangun Sejak 1988, Ini Sejarah Patung Sura dan Baya Ikon Surabaya
astakom.com, Jakarta – Berdiri di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS), Patung Sura dan Baya bukan sekadar monumen yang menjadi latar foto wisatawan. Ikon yang mempertemukan figur ikan hiu dan buaya ini menyimpan cerita tentang identitas Kota Pahlawan, sekaligus menjadi pengingat legenda yang sudah lama dikenal masyarakat.
Menghimpun dari informasi yang dikumpulkan astakom.com dari berbagai sumber, dikutip pada Kamis, (05/11/2026) keberadaan patung tersebut tercatat sejak 1988, monumen ini dibuat oleh pematung bernama Sigit Margono dengan rancangan arsitek Sutomo Kusnadi.
Kehadiran kedua figur hewan itu bukan tanpa makna. Sura dan Baya merupakan simbol yang lekat dengan nama Surabaya. Di balik bentuknya, terdapat cerita rakyat dan penafsiran sejarah yang membuat patung ini memiliki nilai lebih dari sekadar hiasan kota.
Dibangun pada 1988, Sigit Margono menjadi pematungnya
Patung Sura dan Baya yang berada di depan KBS dibangun pada 1988, ketika Surabaya dipimpin Wali Kota Purnomo Kasidi. Informasi tersebut disampaikan pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, dalam pemberitaan Radar Surabaya.
Dalam penjelasannya, Nur Setiawan menyebut Sigit Margono sebagai perupa yang mengerjakan patung tersebut, sementara Sutomo Kusnadi bertanggung jawab pada rancangan arsitekturnya.
Pendirian monumen ini berkaitan dengan upaya menghadirkan penanda kota atau landmark yang mudah dikenali. Pada masa itu, Surabaya juga tengah mengembangkan citranya sebagai kota pariwisata di Jawa Timur.
Patung tersebut menampilkan dua figur hewan, yaitu ikan sura atau hiu dan baya atau buaya. Komposisi keduanya menjadi representasi visual yang kemudian lekat dengan identitas Kota Surabaya.
Figur hiu dan buaya memiliki cerita di balik namanya
Bentuk Patung Sura dan Baya berkaitan dengan legenda asal-usul nama Surabaya yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam cerita rakyat tersebut, ikan Sura digambarkan sebagai penguasa wilayah laut, sedangkan Baya merupakan buaya yang menguasai kawasan sungai.
Keduanya dikisahkan terlibat pertarungan untuk mempertahankan wilayah masing-masing. Cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu versi yang menjelaskan hubungan antara nama Surabaya dengan figur hiu dan buaya.
Namun, ada pula penjelasan berbeda mengenai makna nama kota tersebut. Melalui laman sejarah resminya, Pemerintah Kota Surabaya menerangkan bahwa kata sura berarti berani, sedangkan baya bermakna bahaya. Gabungan kedua kata itu dimaknai sebagai keberanian dalam menghadapi bahaya.
Menghubungkan nilai kepahlawanan Surabaya dengan peristiwa pertempuran Raden Wijaya melawan pasukan Mongol pada 1293. Karena itu, legenda pertarungan hiu dan buaya sebaiknya dipahami sebagai cerita rakyat, sementara penjelasan mengenai makna kata Sura dan Baya merupakan versi yang dicantumkan dalam sejarah resmi pemerintah kota.
Tetap menjadi ikon di kawasan Kebun Binatang Surabaya
Seiring berjalannya waktu, Patung Sura dan Baya tetap dikenal sebagai salah satu penanda visual Kota Surabaya. Lokasinya di depan KBS membuat monumen ini mudah dijumpai pengunjung kebun binatang maupun wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.
Keberadaan patung juga menjadi bagian dari perhatian pemerintah dalam menata kawasan sekitar KBS. Pada 9 Juni 2026, Pemerintah Kota Surabaya menginformasikan pengerjaan area plaza patung Sura dan Baya di sisi selatan KBS.
Penataan tersebut mencakup pengecatan dinding, perbaikan plaza, pembenahan drainase, penebangan pohon, serta pembersihan kawasan. Langkah ini merupakan bagian dari pembenahan area luar Kebun Binatang Surabaya.
Perjalanan Patung Sura dan Baya sejak 1988 memperlihatkan bagaimana sebuah karya seni dapat melekat dengan identitas suatu kota. Bukan cuma menjadi spot foto, monumen ini juga menyimpan cerita budaya dan simbol yang terus dikenal masyarakat Surabaya. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Patung Sura dan Baya di depan KBS ternyata punya cerita lebih dari sekadar spot foto ikonik. Dibangun sejak 1988, monumen ini mempertemukan legenda hiu dan buaya dengan identitas Kota Surabaya. Jadi, saat melewatinya, bukan cuma visualnya yang menarik, tetapi juga cerita di balik keberadaannya.








