Tabrakan Burung Ancam Penerbangan, Kemenhub Ajak Negara ASEAN Belajar Mitigasi di Bandara Soetta
astakom.com, Jakarta – Keberadaan burung dan satwa liar di sekitar bandar udara menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga keselamatan penerbangan. Sebab, aktivitas satwa di kawasan bandara berpotensi menimbulkan gangguan terhadap operasional pesawat, terutama saat lepas landas dan mendarat.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menggelar pelatihan regional pengelolaan risiko satwa liar di Jakarta pada 2–6 November 2026. Kegiatan ini melibatkan peserta dari sembilan negara Asia Tenggara.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keselamatan penerbangan melalui pemahaman terhadap potensi bahaya satwa liar serta penerapan langkah mitigasi yang lebih terarah di lingkungan bandar udara.
Pelatihan diikuti 50 peserta dari sembilan negara
Kegiatan bertajuk COSCAP-SEA and WBA Training on Integrated Wildlife Risk Management – A Risk-Based Approach to Aviation Safety ini diselenggarakan bersama oleh ICAO Cooperative Development of Operational Safety and Continuing Airworthiness Programme – South East Asia (COSCAP-SEA) dan World Birdstrike Association (WBA).
Sebanyak 50 peserta dari sembilan negara mengikuti pelatihan tersebut. Negara-negara yang terlibat meliputi Indonesia, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Singapura, Laos, Kamboja, dan Filipina.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara selaku Ketua COSCAP-SEA, melalui sambutan yang dibacakan Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Putu Eka Cahyadhi, menegaskan bahwa pengelolaan risiko satwa liar perlu menjadi bagian dari sistem keselamatan penerbangan.
“Pengelolaan risiko satwa liar harus menjadi bagian dari sistem keselamatan penerbangan. Kita tidak cukup hanya melakukan tindakan pengusiran atau pengendalian satwa, tetapi perlu memahami potensi bahayanya dan memastikan langkah mitigasi yang diterapkan benar-benar efektif,” jelas Putu.
Risiko tabrakan burung masih menjadi perhatian
Pentingnya pengelolaan satwa liar juga tercermin dalam Asia-Pacific Regional Aviation Safety Plan (AP-RASP) 2026–2028. Berdasarkan analisis ICAO terhadap National Aviation Safety Plan (NASP) dari 14 negara atau administrasi di kawasan Asia Pasifik, sebanyak 12 di antaranya mengidentifikasi risiko keselamatan operasional tambahan di luar Global High-Risk Categories (G-HRCs).
Dari berbagai risiko tersebut, Bird/Wildlife Strike atau tabrakan pesawat dengan burung maupun satwa liar menjadi risiko tambahan yang paling banyak diidentifikasi, yakni oleh delapan negara atau administrasi.
Meski tidak semua kejadian tabrakan burung atau satwa liar menyebabkan kecelakaan maupun insiden serius, potensi bahayanya tetap perlu diantisipasi. Terlebih, gangguan dapat terjadi pada fase penerbangan yang penting, seperti ketika pesawat lepas landas dan mendarat.
Indonesia juga menghadapi tantangan tersendiri dalam pengelolaan risiko ini. Sebagai negara kepulauan dengan ekosistem yang beragam, sejumlah bandar udara berada di dekat kawasan pesisir, lahan basah, hutan, area pertanian, hingga wilayah perkotaan.
Kondisi lingkungan tersebut membuat pengelolaan risiko perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing kawasan, termasuk keberadaan berbagai spesies burung, burung migran, serta pola aktivitas satwa di sekitar bandar udara.
“Keselamatan penerbangan merupakan kepentingan bersama. Pengelolaan risiko satwa liar yang efektif diharapkan dapat mengurangi potensi gangguan terhadap operasional pesawat, khususnya saat lepas landas dan mendarat. Dengan demikian, masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi udara dapat memperoleh layanan penerbangan yang semakin aman,” ujar Putu.
Peserta kunjungi Bandara Soekarno-Hatta
Tidak hanya mendapatkan materi pelatihan, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.
Dalam kegiatan tersebut, peserta berkesempatan mengamati secara langsung potensi bahaya satwa liar di lingkungan bandar udara. Mereka juga mempelajari penerapan langkah mitigasi dan pengendalian risiko dalam kegiatan operasional.
Kemenhub berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan melalui rencana aksi di negara serta organisasi masing-masing. Kolaborasi regional juga dinilai penting untuk menghadapi tantangan keselamatan penerbangan yang membutuhkan perhatian bersama.
Melalui kegiatan ini, Kemenhub menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama regional, mendorong pengawasan berbasis risiko, dan meningkatkan pengelolaan keselamatan penerbangan secara berkelanjutan.
Gen Z Takeaway
Keselamatan penerbangan ternyata bukan hanya soal kondisi pesawat dan kesiapan awak, tetapi juga bagaimana lingkungan sekitar bandara dikelola. Keberadaan burung dan satwa liar perlu diperhitungkan karena berpotensi mengganggu operasional pesawat. Lewat pelatihan regional ini, Indonesia bersama negara-negara Asia Tenggara memperkuat upaya pencegahan agar perjalanan udara semakin aman.









