Kronologi Kisruh Dualisme Kepemimpinan Keraton Solo saat Penyerahan SK oleh Menbud
astakom.com, Jakarta — Situasi di Keraton Kasunanan Solo memanas saat Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon tiba, kemarin (18/1/2026).
Ketegangan dipicu perselisihan antara kubu Paku Buwono XIV Mangkubumi dan pihak PB XIV Purbaya, yang mencuat menjelang penyerahan SK Menteri Kebudayaan.
Upaya membuka pintu Kori Gajahan memicu keributan, sehingga pengamanan diperketat dan agenda acara sempat tersendat.
Kronologi awal kericuhan
Berdasarkan laporan di lokasi, pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) yang dipimpin GKR Wandansari atau Gusti Moeng bersama Ketua Eksekutif LDA KPH Edy Wirabhumi dan sejumlah abdi dalem membawa dua tangga menuju Kori Gajahan.
Beberapa abdi dalem kemudian menggunakan tangga tersebut untuk membuka pintu dari arah dalam. Tak lama berselang, pintu Kori Gajahan berhasil dibuka sehingga rombongan LDA dapat masuk ke area dalam keraton.
Saat rombongan LDA bergerak menuju Ndalem Wiworokenjo, mereka dihadang oleh pihak pendukung Purbaya. Sejumlah tokoh, diantaranya GKR Panembahan Timoer Rumbay, GKR Devi Lelyana, dan GKR Dewi Ratih Widyasari, melarang rombongan LDA melanjutkan langkah.
Adu mulut pun terjadi antara GKR Timoer dan Gusti Moeng, meski akhirnya rombongan LDA tetap memaksa masuk hingga mencapai Ndalem Wiworokenjo.
Terjadi aksi saling dorong
Ketegangan berlanjut karena pihak Purbaya bersikeras melarang pembukaan pintu Ndalem Wiworokenjo yang terhubung langsung dengan Ndalem Handrawina, lokasi agenda Menbud Fladli Zon akan berlangsung.
Situasi memanas hingga terjadi aksi saling mendorong antara kedua kubu. Pintu Ndalem Wiworokenjo akhirnya terbuka setelah didorong dari dua sisi, baik dari dalam maupun luar.
Meski demikian, perseteruan belum sepenuhnya mereda dan aparat kepolisian tetap berjaga ketat, dengan pembatasan akses hanya bagi keluarga.
Ketegangan saat acara
Ketegangan kembali muncul saat acara penyerahan Keputusan Menteri Kebudayaan RI Nomor 8 Tahun 2026 berlangsung di Sasana Handrawina.
Dua kakak perempuan PB XIV Purbaya, yakni GRAy Rumbai Timur dan GRAy Devi Lelyana Dewi, berteriak dan menemui Fadli Zon sesaat setelah ia menyampaikan pidato sambutan.
Aksi tersebut memicu sorakan dari tamu undangan yang hadir. Belum diketahui secara pasti isi penyampaian keduanya kepada Fadli Zon, namun diduga berkaitan dengan dualisme kepemimpinan yang terjadi di Keraton Solo.
Fadli Zon merespons dengan meminta keduanya untuk tenang dan berjanji akan berdialog setelah acara selesai.
“Setelah ini kita bicarakan,” ungkap Fadli Zon di lokasi, kemarin (18/1/2026).
Akibat insiden tersebut, acara sempat terhenti sekitar 15 menit sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.
Tak ada simbolis penyerahan SK
Dalam rangkaian acara tersebut, tidak dilakukan simbolis penyerahan Surat Keputusan (SK) kepada KGPA Tedjowulan.
Berbeda dengan kegiatan serupa pada umumnya, penyerahan SK kali ini hanya diakhiri dengan sesi foto bersama setelah pidato sambutan selesai.
Meski sempat diwarnai keributan, acara akhirnya ditutup dengan doa dan hiburan, sementara pengamanan tetap dilakukan di area Keraton Kasunanan Solo.













