Gegara MSCI, Asing Kabur Rp16,88 T! OJK Gaspol Terus Reformasi

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 7 November 2026 | 06:02 WIB
Gegara MSCI, Asing Kabur Rp16,88 T! OJK Gaspol Terus Reformasi
Gegara MSCI, Asing Kabur Rp16,88 T! OJK Gaspol Terus Reformasi [Kolase foto web]

astakom.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia lagi ngalamin fase reformasi besar-besaran, terlebih lagi ada keputusan dari indeks global MSCI. Diketahui sepanjang Oktober 2026, investor asing kompak bikin aksi cabut alias net sell sampai nyentuh angka Rp16,88 triliun. Usut punya usut, badai ini dateng gara-gara pengumuman MSCI soal klasifikasi pasar modal Indonesia yang digeser dari emerging market jadi standalone market.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fauzi, ngespill kalau gelombang tekanan ini langsung bikin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut kena mental. IHSG anjlok parah sampai terkoreksi 16,7 persen secara bulanan dan parkir di level 5.057 pada akhir Oktober 2026.

"Masih berlanjutnya ketidakpastian global dan dinamika persepsi risiko investor serta pengumuman MSCI atas konsultasi reklasifikasi status Indonesia, turut memengaruhi dinamika pergerakan pasar modal dalam negeri," kata Hasan dalam Konferensi Pers RDKB Oktober, dikutip astakom.com pada Jumat (06/11/2026).

Kapitalisasi pasar auto anjlok

Akibat indeks yang merah ini, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikutan kena demote drastis. Per Oktober 2026, kapitalisasi pasar nyisa Rp8.862 triliun aja, ambles 17,14 persen dibanding September 2026 yang tadinya masih di angka Rp10.695 triliun. Kalau ditarik mundur setahun lalu ke Oktober 2025 yang sempat nembus Rp14.857 triliun, kapitalisasi pasar BEI udah susut sampai 40,35 persen.

Tapi di balik tren IHSG yang lagi down, aktivitas jual-beli saham di BEI justru keliatan vibe-nya rame dan dari sisi volume serta nilai transaksi. Sepanjang Oktober 2026, total volume perdagangan saham meroket sampai 967,83 miliar saham naik 26,81 persen dibanding September 2026 yang cuma 763,23 miliar saham.

Nilai transaksi saham juga ikut terdongkrak naik 9,17 persen ke angka Rp358,88 triliun dari sebelumnya Rp328,75 triliun. Nggak ketinggalan, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) juga ikut gacor ke angka Rp16,31 triliun dibanding bulan sebelumnya yang cuma Rp14,94 triliun.

"Likuiditas di pasar saham juga mengalami peningkatan, dengan angka RNTH pasar saham pada Oktober 2026, meningkat dibandingkan September 2026," kata Hasan.

Frekuensi transaksi malah drop, OJK siap pasang badan

Walaupun volume dan nilai transaksinya makin bar-bar, kebalikannya justru kejadian di frekuensi transaksi yang malah drop. Total frekuensi perdagangan nyatanya turun 15,27 persen jadi 37,63 juta kali transaksi aja, kalau dibandingin sama September 2026 yang sempat nyentuh 44,41 juta kali transaksi.

Hasan nambahin kalau dinamika pasar modal Indonesia sepanjang Oktober 2026 emang lagi diuji tekanan tinggi banget. Tekanan ini datang keroyokan, mulai dari faktor eksternal kayak pusaran geopolitik global sampai sentimen internal di dalam negeri.

OJK langsung awasi ketat

Menghadapi situasi pasar yang lagi chaotic begini, OJK nggak tinggal diam dan langsung securing keadaan lewat pengawasan ketat.

"OJK terus memperkuat pengawasan dan penegakan hukum di bidang pasar modal guna menjaga integritas, meningkatkan kepatuhan, dan menjaga kepercayaan publik," pungkas Hasan. (Shnty/RaM)

Gen Z Takeaway

Pasar modal Indonesia lagi menghadapi tekanan serius setelah MSCI mengumumkan konsultasi reklasifikasi status Indonesia menjadi standalone market. Dampaknya, investor asing mencatatkan net sell Rp16,88 triliun sepanjang Oktober 2026 dan IHSG terkoreksi 16,7 persen. Meski indeks dan kapitalisasi pasar sama-sama tertekan, aktivitas perdagangan saham justru masih ramai dengan volume dan nilai transaksi yang meningkat. Menghadapi situasi ini, OJK terus memperkuat pengawasan serta penegakan hukum demi menjaga kepercayaan investor dan integritas pasar modal.

indeks saham global msci msci OJK IHSG

Infografis

Terkini