Mantan Agen FBI Bobol Aset Kripto Senilai Rp44 Miliar, Sempat Curhat ke ChatGPT Tanya Buat Kabur ke Negara Lain

Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 7 November 2026 | 10:02 WIB
Mantan Agen FBI Bobol Aset Kripto Senilai Rp44 Miliar, Sempat Curhat ke ChatGPT Tanya Buat Kabur ke Negara Lain
Ilustrasi tangan di borgol. [Dok. Pexels]

astakom.com, Jakarta - Skandal besar baru aja ngerontokin citra lembaga penegak hukum ternama di Amerika Serikat. Mantan agen senior FBI bernama Patrick Steven Yaroch (37) resmi mengaku bersalah usai ketahuan membobol aset kripto sitaan senilai USD 2,47 juta atau setara Rp 44 miliar. Aksinya ini bikin geger setelah Departemen Kehakiman AS membongkar kejahatan wire fraud dan pencucian uang yang ia lakukan di Pengadilan Federal Alexandria,Virginia.

Berikut deretan fakta mencengangkan di balik aksi nekat agen rahasia yang tergiur indahnya dunia crypto:

Manfaatin Kredensial Rahasia Buat Tilep Dana dari 35 Kasus

Rekam jejak Yaroch di FBI sejatinya cukup mentereng. Berdinas sejak 2017 hingga awal 2025 di Divisi Boston, ia kemudian digeser ke Divisi Kontraintelijen dan Spionase buat nanganin kasus-kasus kelas atas lawan negara asing. Sayangnya, akses eksklusif ke sistem internal FBI ini malah disalahgunakan.

Sejak Desember 2024, ia nekat memakai kredensial rahasia buat nguras dompet digital target operasi maupun rekening kontrol internal FBI. Enggak main-main, Yaroch melancarkan sekitar 100 kali transaksi ilegal buat memindahkan aset dari 35 kasus berbeda, lalu menyamarkan jejaknya dengan cara menukar ke berbagai jenis coin. Efek domino aksi nekat ini sampai bikin rusak skenario investigasi prioritas tinggi serta membahayakan keselamatan para informan di lapangan.

Pakai ChatGPT Buat Rencana Kabur dan Beli Kebun Anggur di Portugal

Uang hasil kejahatan tersebut dipakai Yaroch buat ngelunasin cicilan pribadi, mulai dari utang kartu kredit sampai tagihan mobil. Uniknya, di tengah-tengah aksinya, Yaroch sempet curhat dan berkonsultasi ke ChatGPT buat nyari saran investasi sekaligus milih negara tujuan di Uni Eropa buat tempat kabur.

Usai mendapat rekomendasi AI buat membeli kebun anggur di Portugal, ia langsung menyewa pengacara lokal di sana demi mengurus nomor pajak atas namanya. Yaroch bahkan udah nyiapin skenario buat angkat kaki dari AS pada September lalu sebelum aksi jahatnya terendus oleh penyidik.

Menyerahkan Diri Sendiri dan Terancam Bui 20 Tahun

Aksi main belakang ini akhirnya terbongkar setelah Yaroch dilanda rasa bersalah dan 'spill' ke mantan rekannya di Departemen Kehakiman. Ia kemudian memutuskan mendatangi Markas Besar FBI untuk menyerahkan diri. Dalam pengakuannya, ia berdalih frustrasi atas lambatnya respons lembaga dalam mengeksekusi aset target, meski akhirnya mengaku menyesal.

Saat kediamannya digeledah, tim penyidik menemukan hardware wallet Trezor, beberapa paspor, serta seed phrase dompet kripto. Aparat kini telah berhasil mengamankan kembali sebagian besar aset, termasuk ratusan ribu dolar AS di bursa Kraken dan Suilend. Atas aksi nekatnya ini, Yaroch bakal menjalani sidang vonis pada 4 Maret 2027 dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun penjara untuk tiap pasal yang disangkakan. (RaM)

Gen Z Takeaway

Kasus ini bener-bener definisi plot twist paling unexpected dari seorang penegak hukum!Bayangin aja, sosok yang harusnya jadi pengawal keamanan malah tergiur fast money sampai konsultasi ke AI demi bisa live happily ever after di kebun anggur luar negeri. Pada akhirnya, se-clever apa pun trik menyamarkan jejak digital, hukum tetep punya cara buat bikin game over. So, pesan penting buat kita semua:tetep stay on track, kerja jujur, dan jangan pernah keblinger sama godaan instan yang ujung-ujungnya cuma ngerusak masa depan sendiri.

Pembobolan Aset Kripto FBI Pembobolan Rekening

Infografis

Terkini