Gebrakan BEI Sepekan: Reformasi Dikebut, RUPSLB hingga Luncurkan Indeks Komoditas Baru

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 1 November 2026 | 10:32 WIB
Gebrakan BEI Sepekan: Reformasi Dikebut, RUPSLB hingga Luncurkan Indeks Komoditas Baru
Gebrakan BEI Sepekan: Reformasi Dikebut, RUPSLB hingga Luncurkan Indeks Komoditas Baru (astakom/kolase foto idx-ojk)

astakom.com, Jakarta - Pekan penutup Oktober 2026 ini bursa saham kita lagi diuji banget mentalnya. Di saat grafik perdagangan kompak ngalamin koreksi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) justru gercep ngebut bikin gebrakan gede buat memperkuat reformasi pasar modal.

Mulai dari bersih-bersih regulasi, agenda RUPSLB, kolaborasi bareng Nasdaq, sampai ngerilis indeks baru. Recap selama satu minggu ini tepat saat mengawali pekan pada Senin (26/10/2026), BEI bareng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) langsung ngadain konferensi pers buat ngasih kejelasan soal pengawasan perdagangan dan tata kelola High Shareholding Concentration (HSC).

Hasilnya, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik membawa kabar adem kalau FTSE Russell fix menempatkan Indonesia tetap di klasifikasi Secondary Emerging Market dan bebas dari watchlist.

Reformasi pasar modal

Gak cuma itu, BEI juga bakal makin transparan soal indikasi awal investigasi manipulasi pasar. Biar makin objektif, komite HSC juga diperluas dengan nambahin anggota eksternal dari industri, akademisi, sampai investor.

"Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan penegasan FTSE Russell untuk menempatkan Indonesia tetap berada dalam klasifikasi Secondary Emerging Market dan tidak masuk watchlist."

RUPSLB gercep ketok palu demutualisasi

Masuk hari Rabu (28/10/2026), BEI ngadain Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Tahun 2026 secara offline yang dihadiri 88 Pemegang Saham atau sekitar 98,88% pemilik hak suara.

Hasilnya? Kompak setuju bulat buat ngerestui tiga agenda penting, mulai dari Perubahan Anggaran Dasar terkait Demutualisasi Bursa Efek, penggunaan saldo laba ditahan per 30 Juni 2026, sampai Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) buat tahun buku 2027.

Kolaborasi bareng Nasdaq dan rilis indeks baru

Nggak cuma sibuk di urusan regulasi, pada Kamis (29/10/2026) kemarin BEI juga collab bareng Nasdaq nggelar acara IDX x Nasdaq InnovAsia Jakarta di Main Hall BEI buat nambah wawasan soal inovasi teknologi perdagangan global.

Nah, puncaknya di hari Jumat (30/10), BEI resmi nge-launching Indeks IDX Commodity 20 (IDXCMDTY20)! Indeks ini bakal ngukur performa 20 saham pilihan dari sektor energi, logam, kimia, perkebunan, sampai hilirisasi komoditas yang pastinya bakal bikin portofolio makin keren dan terdiversifikasi.

Kinerja saham sepekan: asing catat net sell

Di balik seabrek gebrakan positif tadi, performa perdagangan sepekan (26-30 Oktober 2026) emang lagi ngalamin penyesuaian. Rata-rata nilai transaksi harian ada di angka Rp14,339 triliun, frekuensi transaksi nyentuh 1,54 juta kali, dan volume transaksi di kisaran 32,428 miliar lembar saham.

Kapitalisasi pasar tercatat berubah 7,52% jadi Rp8.862 triliun, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 7,03% ke level 5.057,050. Investor asing sendiri mencatatkan net sell sebesar Rp138,71 miliar pada hari Jumat, dengan total jual bersih kumulatif sepanjang 2026 mencapai Rp97,921 triliun.

Meski market lagi fluktuatif, komitmen BEI buat ngebangun pasar modal yang makin kredibel, kompetitif, dan berdaya saing global gak bakal kendor. Ke depannya, seluruh inovasi ini diharapin bisa terus kasih kontribusi nyata buat pertumbuhan ekonomi nasional. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Pasar modal Indonesia memang lagi menghadapi tekanan, terlihat dari IHSG yang terkoreksi 7,03% sepanjang pekan terakhir Oktober 2026. Namun, di tengah market yang belum stabil, BEI justru tancap gas memperkuat fondasi pasar modal lewat reformasi regulasi, persetujuan demutualisasi bursa, kolaborasi dengan Nasdaq, hingga peluncuran indeks saham komoditas terbaru. Kepastian Indonesia tetap berstatus Secondary Emerging Market dan bebas dari watchlist FTSE Russell juga menjadi angin segar bagi investor. Intinya, di tengah koreksi pasar, BEI tetap bergerak membangun pasar modal yang lebih transparan, kredibel, dan kompetitif secara global.

BEI Bursa Saham Indonesia (BEI) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik Reformasi pasar modal Saham Kinerja saham sepekan

Infografis

Terkini