AS Setop Kucuran Senilai Rp60 Triliun untuk Israel, Gertakan atau Strategi Nyata?

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 4 November 2026 | 18:31 WIB
AS Setop Kucuran Senilai Rp60 Triliun untuk Israel, Gertakan atau Strategi Nyata?
AS Setop Kucuran Rp60 Triliun untuk Israel, Gertakan atau Strategi Nyata? [astakom/ breakingthenews]

astakom.com, Jakarta – Keputusan mengejutkan datang dari Gedung Putih tepat di hari pemilu sela. Presiden AS Donald Trump blak-blakan mengumumkan kalau Washington bakal mengakhiri kucuran dana bantuan tahunan sebesar US$3,8 miliar atau setara Rp60 triliun untuk Israel. Langkah ini mendadak jadi sorotan panas mengingat isu support dana ke Israel sedang digoreng habis-habisan di panggung politik AS.

"Kita memberi Israel US$4 miliar per tahun, dan kita membuat kesepakatan beberapa bulan lalu bahwa kita akan menghentikannya," tutur Trump pada s3si wawancara telepon dengan Fox News dilansir dari Channel News Asia pada Rabu, (04/11/2026).

Pembatalan Rp60 triliun

Uniknya, Trump mengklaim kalau Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak ambil pusing dan gak keberatan dengan pemangkasan bantuan militer serta dana pembelian senjata tersebut.

"Sekarang kita akan membantu Israel jika mereka membutuhkannya," ucap Trump.

"Israel adalah negara yang sangat makmur. Mereka tidak membutuhkannya." jelasnya.

Padahal, record Council on Foreign Relations mencatat sejak 1948 Israel sudah menyedot lebih dari US$300 miliar bantuan ekonomi dan militer dari AS. Angka ini menjadikannya penerima dana terbesar sepanjang sejarah Amerika. Netanyahu sendiri sempat memberikan sinyal ingin memangkas ketergantungan tersebut hingga nol dalam wawancaranya bersama CBS Mei lalu.

Oposisi Israel panik

Namun, pengumuman mendadak ini langsung bikin internal Israel kena mental. Pemimpin oposisi Gadi Eisenkot menyebut manuver Netanyahu ini sudah masuk tahap membahayakan.

"Fakta bahwa lembaga pertahanan Israel mengetahui adanya perubahan dalam hubungan strategis kita melalui media pada saat yang sama dengan publik Israel menunjukkan betapa berbahayanya perilaku Benjamin Netanyahu," papar Eisenkot pada sebuah pernyataan.

"Dia tidak lagi dapat dipercaya dan harus diganti." sambungnya.

Tekanan politik dalam negeri

Sikap tegas Trump ini kabarnya dipicu oleh derasnya tekanan politik dalam negeri, terutama dari tokoh progresif seperti Abdul El-Sayed yang gencar menyuarakan penghentian bantuan ke Israel di Michigan. Perpecahan di kubu Demokrat dan Republik pun tak terhindarkan, sampai-sampai politisi Demokrat Haley Stevens nekat membelot mendukung kandidat Republik, Mike Rogers.

"Mengapa kita harus menanggung cercaan dari orang-orang gila seperti El-Sayed ketika mereka tidak membutuhkannya? Itu adalah poin pembicaraan yang buruk," ungkap Trump di Fox, berdasarkan pada support buat Israel.

Gelombang protes publik AS memang makin deras seiring krisis kemanusiaan di Gaza pasca-serangan 7 Oktober 2023, ditambah lagi memanasnya konflik delapan bulan terakhir melawan Iran yang melibatkan gempuran militer AS baru-baru ini.

Gertakan politik pemilu?

Meskipun pengumuman ini bikin gempar, sejumlah pakar geopolitik menyarankan agar publik tidak langsung percaya 100%. Langkah Trump dicurigai cuma sekadar gertakan politik demi mengamankan suara voter di hari pencoblosan.

"Saya tidak memperkirakan hal itu akan benar-benar diterapkan. Akan sulit membayangkan dia melakukan itu setelah hari pemilihan," ungkap Angela Mancini, wakil presiden penasihat wawasan risiko global Dow Jones.

Mancini memperingatkan kalau fokus utama pasca-pemilu sebenarnya terletak pada potensi operasi militer bersama AS-Israel terhadap Iran yang diprediksi bakal makin memanaskan tensi kawasan.

“Iran tampaknya juga sedang mempersiapkan diri untuk itu. Semua mata tertuju pada apa yang terjadi setelah hari pemilihan jika kita melihat beberapa pergerakan dari AS terkait Iran, yang bisa mengarah ke arah yang sangat negatif.” ucapnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Langkah Trump nyetop bantuan ke Israel ini kelihatan kaya plot twist besar, tapi jangan gampang kecekik gimmick politik. Di balik klaim Netanyahu yang sok selow, internal Israel sebenarnya lagi freaking out dan kena mental. Para pakar geopolitik meyakini ini cuma manuver clout chaser Trump buat ngamanin suara pemilih di hari pencoblosan, padahal fokus aslinya pascapemilu justru potensi konflik yang makin memanas bareng Iran.

Amerika Serikat Amerika - Israel israel Donald Trump

Infografis

Terkini