BPOM Perkuat Pengawasan Obat Lewat Kerja Sama dengan India, Regulasi Produk Medis Jadi Fokus
astakom.com, Jakarta – Upaya memperkuat pengawasan obat dan produk medis di Indonesia terus diperluas melalui kerja sama internasional. Salah satu langkah terbarunya ditandai dengan pengukuhan kolaborasi antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Central Drugs Standard Control Organisation (CDSCO) India sebagai bagian dari penguatan kemitraan strategis kedua negara di sektor kesehatan.
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Negara, Jakarta, Selasa (07/07/2026). Dalam pertemuan bilateral tersebut, Indonesia dan India mengukuhkan 16 kesepakatan kerja sama, termasuk Memorandum of Understanding on Cooperation in the Field of Medical Products Regulation yang menjadi landasan kolaborasi BPOM dan CDSCO dalam memperkuat pengawasan produk medis.
Melansir keterangan resmi BPOM pada Rabu (08/07/2026), nota kesepahaman tersebut merupakan kelanjutan kerja sama yang sebelumnya telah berlangsung pada periode 2018–2023. Sebelum dikukuhkan dalam pertemuan bilateral kedua kepala negara, dokumen itu lebih dahulu ditandatangani secara desk to desk oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Duta Besar Republik India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, yang bertindak mewakili CDSCO dan Kementerian Kesehatan India.
Perkuat regulasi produk medis
Melalui nota kesepahaman tersebut, BPOM dan CDSCO sepakat memfasilitasi dialog konstruktif terkait regulasi produk medis yang mencakup produk farmasi, termasuk bahan baku farmasi, produk biologi, hingga kosmetik.
Kolaborasi ini juga diharapkan dapat memperkuat sistem pengawasan produk medis di kedua negara melalui harmonisasi regulasi, pertukaran pengetahuan, serta peningkatan koordinasi antarlembaga.
Fokus kolaborasi
Dalam kerja sama tersebut, BPOM dan CDSCO menyepakati lima ruang lingkup utama. Fokus pertama adalah meningkatkan pemahaman mengenai regulasi produk medis, termasuk sistem regulatori dan farmakope nasional masing-masing negara.
Kerja sama juga mencakup pertukaran informasi dan praktik terbaik mengenai standar internasional, seperti Good Laboratory Practices (GLP), Good Clinical Practices (GCP), serta Good Manufacturing Practices (GMP).
Selain itu, kedua lembaga akan memperkuat sistem keamanan obat melalui pertukaran informasi farmakovigilans, data keselamatan produk, hingga penanganan kejadian tidak diinginkan (adverse events).
Kolaborasi turut diperluas melalui partisipasi dalam konferensi, simposium, seminar, serta penguatan koordinasi BPOM dan CDSCO di berbagai forum regulatori internasional.
Berlaku 5 tahun
Nota kesepahaman ini akan berlaku selama lima tahun dan dilengkapi mekanisme perpanjangan otomatis untuk lima tahun berikutnya.
Melalui sinergi tersebut, BPOM berharap pengawasan obat dan makanan di Indonesia semakin kuat. Kerja sama ini juga diharapkan memastikan bahan baku farmasi yang diimpor maupun diproduksi di dalam negeri memenuhi standar keamanan, mutu, dan kualitas yang ditetapkan sebelum digunakan masyarakat.
Bagian dari kemitraan strategis Indonesia–India
Dalam keterangan resmi BPOM, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi menjadi momentum untuk memperkuat hubungan strategis kedua negara melalui berbagai kerja sama yang saling menguntungkan.
"Kunjungan ini merupakan cermin komitmen kedua negara untuk terus memajukan Kemitraan Strategis Komprehensif melalui kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan," ujar Presiden Prabowo.
Kepala BPOM Taruna Ikrar turut menghadiri langsung prosesi pengukuhan kerja sama di Istana Negara. Setelah itu, ia juga mengikuti agenda Indian Community Reception yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) sebagai bagian dari rangkaian kunjungan resmi Perdana Menteri India ke Indonesia.
Sebagai latar belakang, dalam pernyataan pers bersama usai pertemuan bilateral, Perdana Menteri Narendra Modi menyampaikan komitmen India untuk memperluas akses obat-obatan berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Selain sektor farmasi, India juga menyatakan kesiapan mendukung peningkatan kapasitas dokter dan tenaga kesehatan, sekaligus memperkuat kerja sama di bidang ketahanan pangan melalui pasokan gandum dan pengembangan teknologi pertanian. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Kerja sama ini bukan cuma soal penandatanganan MoU. Di baliknya ada upaya menyelaraskan standar pengawasan obat antara Indonesia dan India agar regulasi, keamanan produk medis, hingga pengawasan bahan baku farmasi semakin kuat. Harapannya, masyarakat bisa mendapat akses terhadap obat dan produk medis yang lebih aman, berkualitas, dan sesuai standar internasional.









