AS Serang Iran Lagi Usai Trump Nyatakan Kesepakatan Damai Berakhir!

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 9 Juli 2026 | 16:03 WIB
AS Serang Iran Lagi Usai Trump Nyatakan Kesepakatan Damai Berakhir!
AS Serang Iran Lagi Usai Trump Nyatakan Kesepakatan Damai Berakhir!(Gemini)

astakom.com, Jakarta – Militer Amerika Serikat kembali menggempur serangan berturut-turut ke Iran untuk hari kedua. Aksi ini terjadi hanya berjarak beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan kalau kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik perang sudah berakhir.

Gelombang ledakan mengguncang beberapa wilayah Iran pada Rabu malam, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran. Titik ledakan terdeteksi di kota pelabuhan Bandar Abbas yang berada di Selat Hormuz, kota pesisir Sirik di bagian selatan, hingga Provinsi Bushehr di barat daya yang merupakan pusat kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menegaskan kalau "Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran, Jika terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!" tegasnya melansir dari The Guardian pada Kamis, (09/07/2026).

Pihak Komando Pusat AS turut membenarkan adanya serangan tersebut melalui sebuah unggahan di platform X kalau  "Atas arahan Panglima Tertinggi, pasukan Komando Pusat AS telah mulai melakukan serangan tambahan terhadap Iran untuk lebih melemahkan kemampuan mereka mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz" tuturnya.

Konflik membara lagi

Ketegangan kembali memuncak setelah 3 kapal kargo yang tengah berlayar di Selat Hormuz diserang pada hari Selasa. Peristiwa ini menyulut konfrontasi senjata terluas antara kedua pihak sejak penandatanganan kesepakatan sementara bulan lalu, yang kemudian berbuntut pada keputusan Departemen Keuangan AS untuk membatalkan pelonggaran sanksi ekspor minyak bagi Iran.

Lonjakan konflik ini merusak peluang bagi kedua pihak untuk meningkatkan nota kesepahaman 17 Juni menjadi kesepakatan permanen guna menghentikan perang secara total.

Usai serangan terhadap pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait pada Rabu lalu, Iran kembali menggempurkan aksi serupa pada Kamis. Serangan lanjutan ini memicu bunyi sirene peringatan setidaknya 2 kali di Bahrain, wilayah yang menjadi pusat markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut Amerika Serikat.

Meski belum ada laporan langsung terkait kerusakan, pihak militer Kuwait mengonfirmasi kalau mereka terus aktif mencegat drone beserta rudal yang mengarah ke wilayah mereka.

​Mengutip laporan Reuters, seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya memperkirakan serangan semalam akan jauh lebih besar ketimbang putaran pertama.

Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan adanya rentetan ledakan susulan yang terdengar di Pulau Abu Musa. Pulau tersebut merupakan 1 dari 3 wilayah sengketa yang diklaim oleh Uni Emirat Arab (UEA), sekaligus menjadi pilar utama bagi kendali strategis Iran di kawasan Selat Hormuz.

Menurut Kantor berita Iran, Mehr, melaporkan kalau serangan yang menghantam Provinsi Bushehr di wilayah selatan negara tersebut sama sekali tidak menimbulkan kerusakan pada kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr.

Dampak pasar global

Dampak ekonomi dari konflik yang semakin meluas terus mengguncang pasar global. Pada hari Rabu, bursa saham AS terpantau melemah, sedangkan harga minyak mentah Brent meroket lebih dari 5% hingga hampir menyentuh angka $80 per barel.

Menyoroti keputusan Trump, Senator AS Bernie Sanders mengatakan: "Memulai kembali perang gegabah dengan Iran tidak akan membuat Amerika lebih kuat. Itu akan menelan lebih banyak nyawa dan membuang lebih banyak uang pembayar pajak.” ucapnya pada sebuah postingan di platform X.

Sanders turut menyatakan kalau “setelah menyeret Amerika Serikat ke dalam perang yang didasarkan pada kebohongan, Trump kini telah menyatakan gencatan senjata dengan Iran 'berakhir' setelah kurang dari sebulan” jelasnya.

Klaim & saling balas

Ketegangan ini berawal ketika Iran menargetkan sejumlah kapal dagang di kawasan lepas pantai Oman. Menanggapi aksi tersebut, militer AS langsung menggempurkan serangan fase pertama dengan menghantam berbagai situs militer serta infrastruktur pelabuhan.

Dalam kesempatan sebelumnya, di KTT NATO yang berlangsung di Ankara, Trump sempat menegaskan kalau Amerika Serikat "mungkin akan menyerang Iran dengan keras lagi malam ini" ucap Trump.

Ia pun menambahkan kalau operasi militer terbaru ini dipastikan tidak akan berlanjut menjadi sebuah aksi bersenjata dalam jangka panjang.

“Apa pun yang terjadi akan terjadi dengan sangat cepat,” ucap Trump.

Walaupun di sisi lain, ia turut mengisyaratkan adanya kemungkinan bagi militer AS untuk bergerak cepat menyelesaikan seluruh aksi tersebut tanpa penundaan.

Di sela sela agenda KTT, Presiden AS menjelaskan kalau serangan  tersebut merupakan kelanjutan dari aksi pembalasan atas provokasi Iran yang menargetkan kapal dagang di kawasan Selat Hormuz. Walaupun begitu, ia menjamin kalau langkah tersebut tidak akan meluas pada konfrontasi militer dalam jangka panjang.

"Mereka berperilaku sangat buruk,” ucapnya sembari memberi tuduhan kepada negara tersebut.

Di pihak lain, Iran menekankan kalau kesepakatan gencatan senjata sementara memberikan kewenangan penuh bagi negaranya untuk mengatur lalu lintas pelayaran di selat tersebut.

Menegaskan posisi tersebut, Mohammad Bagher Ghalibaf selaku Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama dalam upaya penghentian perang secara permanen, turut melayangkan peringatan lewat platform X

"Era intimidasi dan pemerasan telah berakhir. Itu tidak membawa ke mana-mana. Kami tidak akan menyerah.”tegasnya.

Dalam perjalanan pulang dari KTT NATO, Trump membantah rumor kalau faktor keamanan terkait Iran menjadi alasan di balik keputusan mengejutkannya untuk beralih menggunakan pesawat lama Air Force One. Klarifikasi ini menanggapi pertanyaan mengapa ia tidak menggunakan jet baru mewah hadiah dari Qatar yang ditumpanginya saat tiba di lokasi konferensi.

Saat dikonfirmasi mengenai potensi ancaman nyata dari pihak Iran atas pesawat Air Force One, Trump memilih untuk menepis pertanyaan tersebut.

"Saya selalu mendapat ancaman. Saya nomor satu dalam daftar mereka,” tuturnya.

Situasi dalam negeri

Gelombang serangan terbaru ini terjadi di tengah persiapan masyarakat Iran untuk memakamkan Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, di kota kelahirannya, Mashhad, Iran timur laut. Sang pemimpin dilaporkan wafat pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel yang memicu pecahnya perang tersebut.

Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi tersebut dilaksanakan menyusul rangkaian upacara penghormatan selama beberapa hari terakhir. Prosesi tersebut dilaporkan berhasil menarik perhatian hingga jutaan pelayat yang datang dari berbagai penjuru kota di Iran maupun Irak. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Gencatan senjata AS-Iran ternyata cuma bertahan sebulan dan sekarang resmi flop. Efek drama geopolitik ini langsung bikin harga minyak dunia meroket 5% dan bursa saham melemah. Intinya, tensi di Timur Tengah kembali naik, pasar global ikut ketar-ketir, dan netizen di X (Twitter) lagi ramai memperdebatkan keputusan impulsive Trump ini.

Iran AS Trump Vs Iran AS Serang Iran serangan Amerika Serikat

Infografis

Terkini