Ekonomi RI Masih On TracK! OJK Lapor Kredit Bank Tembus Rp8.918 Triliun, Likuiditas Aman

Pewarta: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 8 Juli 2026 | 19:01 WIB
Ekonomi RI Masih On TracK! OJK Lapor Kredit Bank Tembus Rp8.918 Triliun, Likuiditas Aman
Ekonomi RI Masih On TracK! OJK Lapor Kredit Bank Tembus Rp8.918 Triliun, Likuiditas Aman (astakom/OJK)

astakom.com, Jakarta - Meski ekonomi global masih dibayangi berbagai tantangan, mesin pembiayaan di dalam negeri masih on track. Perbankan nasional tetep ngegas menyalurkan kredit ke dunia usaha dan masyarakat. 

Sinyal ini nunjukin kalau aktivitas ekonomi domestik masih cukup resilien, related sama dorongan pemerintah yang lagi jaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sampe Mei 2026, penyaluran kredit perbankan mencapai Rp8.918 triliun, atau tumbuh 11,51 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini terjadi di tengah kondisi likuiditas yang tetap longgar, kualitas kredit yang terjaga, hingga permodalan bank yang masih tebal.

Lonjakan kredit investasi

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, bilang kalau kenaikan kredit terjadi hampir di semua lini pembiayaan, dengan sektor investasi menjadi motor utama.

"Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,95 persen (yoy), diikuti kredit modal kerja sebesar 8,09 persen (yoy) dan kredit konsumsi sebesar 5,89 persen (yoy)," kata Dian dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), yang dikutip oleh astakom.com pada Rabu (08/07/2026).

Lonjakan kredit investasi dinilai mencerminkan dunia usaha yang masih ekspansif. Tren ini juga sejalan dengan berbagai proyek hilirisasi, pembangunan infrastruktur, hingga investasi industri strategis yang terus didorong pemerintah dalam beberapa bulan terakhir.

Kredit korporat tumbuh paling tinggi

Kalau dilihat berdasarkan jenis debitur, perusahaan atau korporasi masih menjadi game changer. Kredit korporasi tumbuh 18,39 persen (yoy) dan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan pembiayaan nasional.

Sementara itu, pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga mulai menunjukkan tren yang makin positif. Kredit UMKM tumbuh 0,60 persen (yoy) pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,16 persen (yoy) pada April lalu. 

Dari sisi kelompok bank, bank-bank BUMN menjadi yang paling agresif menyalurkan kredit dengan pertumbuhan mencapai 15,98 persen (yoy).

Pay later lagi hype

Fenomena transaksi digital juga makin terasa. Outstanding kredit buy now pay later (BNPL) perbankan yang tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) melonjak menjadi Rp30,1 triliun, atau naik 37,72 persen (yoy). 

Jumlah rekening BNPL ikut bertambah menjadi 31,76 juta rekening, meski porsinya terhadap total kredit perbankan masih relatif kecil, yakni 0,34 persen.

Di sisi penghimpunan dana, masyarakat juga terlihat makin aktif menyimpan uang di bank. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,49 persen (yoy) menjadi Rp10.294 triliun.

Giro naik 20,53 persen

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan giro sebesar 20,53 persen (yoy), deposito 10,17 persen (yoy), dan tabungan 10,21 persen (yoy). Kondisi ini menunjukkan likuiditas perbankan masih cukup kuat untuk menopang kebutuhan pembiayaan ke depan.

OJK juga memastikan kondisi likuiditas industri perbankan masih berada dalam kategori aman. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat 108,20 persen, sedangkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 24,74 persen. 

Kedua indikator itu jauh melampaui ambang batas minimum regulator masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 186,54 persen.

Profitabilitas perbankan solid

Dari sisi kualitas aset, risiko kredit juga masih terkendali. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 2,17 persen, sedangkan NPL net tercatat 0,84 persen. Adapun rasio loan at risk (LaR) berada di angka 8,72 persen, melanjutkan tren perbaikan dibanding beberapa tahun terakhir.

Profitabilitas industri perbankan pun tetap solid. Return on Assets (ROA) tercatat 2,45 persen, sementara Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 23,74 persen, menandakan perbankan masih memiliki bantalan modal yang kuat untuk menghadapi berbagai risiko sekaligus mendukung penyaluran kredit ke depan.

Overall, data OJK menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih keep going strong. Kredit terus tumbuh, dana masyarakat meningkat, kualitas aset tetap terjaga, dan modal bank masih kuat. Kombinasi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mendukung berbagai agenda pembangunan dan investasi yang tengah dipacu pemerintah. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Kredit bank masih gaspol sampai Mei 2026, ditopang investasi yang lagi all out. Duit masyarakat di bank juga makin numpuk, sementara kondisi perbankan tetap safe dengan modal dan likuiditas yang strong. Overall, ini jadi green flag kalau mesin ekonomi domestik masih on track.

OJK Bank Perbankan

Infografis

Terkini