Presiden Prabowo Bawa Big Plan Swasembada Energi: B50 Bisa Hemat Devisa Rp157 Triliun
astakom.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto terus menunjukkan komitmennya mewujudkan kemandirian bangsa dengan memperkuat sektor energi. Di acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 yang digelar di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, kemarin (24/06/2026) Presiden Prabowo spill kalau beberapa hari lagi Indonesia bakal launching B50.
“Bulan Juli ini, berapa hari lagi, kita akan launching B50. B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, dan kita akan menghemat banyak sekali," kata Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo bahkan punya target supaya dalam 4 tahun ke depan bisa stop impor BBM dan mandiri di sektor energi.
B50 sendiri berasal dari campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen lainnya mengandung BBM jenis solar. Jadi, Indonesia step by step melepas ketergantungan terhadap BBM fosil.
Target swasembada energi dalam 4 tahun
"Saya perkirakan 3 tahun lagi, maksimal 4 tahun lagi, kita akan swasembada energi. Kita tidak mau impor apapun untuk BBM kita, untuk energi kita,” kata Presiden Prabowo.
Komitmen Presiden Prabowo ini related dengan data yang menunjukkan kalau penerapan B50 bisa hemat devisa sampai Rp157,28 triliun sepanjang tahun ini.
Dikutip dari astakom.com, sebelumnya Dwi Anggia selaku Juru Bicara Kementerian ESDM spill kalau kebijakan B50 ini bisa menurunkan kebutuhan Indonesia terhadap BBM jenis solar dan lebih jauh lagi efeknya pada mengurangi impor solar. Sehingga berpengaruh pada penghematan devisa negara.
Hemat devisa sampai Rp157,28 triliun
"Dan di 2026 ini, dengan implementasi B50, diharapkan kita bisa menghemat devisa Rp157,28 triliun," kata Dwi dalam keterangannya di Jakarta dikutip dari astakom.com pada Kamis (25/6/2026).
Dampak ekonomi selanjutnya dari pengimplementasian B50 yaitu berpotensi menciptakan nilai tambah minyak kelapa sawit mentah atau CPO sebesar Rp24,68 triliun, menyerap 2,21 juta tenaga kerja.
Push pertumbuhan ekonomi
Maka dari itu, implementasi B50 nggak cuma berdampak positif terhadap neraca perdagangan, tapi juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Kenapa mendukung pertumbuhan ekonomi? Karena implementasi B50 ini juga akan meningkatkan nilai tambah untuk sawit kita. Sehingga, manfaat secara ekonominya akan lebih banyak dirasakan oleh petani sawit kita," ungkapnya.
Selain itu, efek lebih jauhnya lagi yaitu B50 lebih ramah lingkungan. Jadi penggunaan B50 bisa menurunkan emisi gas rumah kaca sampe 46,72 juta ton. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Presiden Prabowo siap meluncurkan B50 sebagai langkah baru menuju swasembada energi RI. Biodiesel dari sawit ini ditargetkan kurangi impor solar, hemat devisa Rp157 triliun, buka lapangan kerja, dan bikin energi lebih sustainable.









