Waduh, Kunang-Kunang Kian Sulit Ditemukan, Ahli IPB: Jadi Sinyal Serius Perubahan Lingkungan!
astakom.com, Jakarta - Pemandangan kunang-kunang yang berkelap-kelip di malam hari kini semakin sulit ditemukan. Fenomena yang ramai dibicarakan warganet belakangan ini ternyata bukan sekadar nostalgia tentang masa kecil, melainkan berkaitan dengan kondisi lingkungan yang mengalami perubahan di berbagai wilayah.
Menurunnya jumlah kunang-kunang secara drastis disebut para ahli sebagai salah satu sinyal bahwa kualitas ekosistem sedang menghadapi tekanan. Serangga bercahaya tersebut dikenal sangat peka terhadap perubahan lingkungan, sehingga keberadaannya dapat menjadi petunjuk penting mengenai kesehatan alam di sekitarnya.
Melansir laman resmi IPB University, dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), Prof drh Upik Kesumawati Hadi, menjelaskan bahwa kunang-kunang memiliki peran sebagai bioindikator atau penanda kondisi lingkungan. Karena itu, berkurangnya populasi serangga tersebut tidak bisa dianggap sebagai fenomena biasa, melainkan perlu dibaca sebagai peringatan terhadap perubahan yang terjadi pada ekosistem.
Kunang-kunang jadi alarm alam
Menurut Prof Upik, kunang-kunang termasuk organisme yang dapat mencerminkan kualitas suatu ekosistem. Populasinya cenderung cepat menurun ketika lingkungan mengalami gangguan, baik akibat pencemaran maupun perubahan habitat yang signifikan.
"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," ungkapnya dikutip dari laman resmi IPB pada Kamis, (25/6/2026).
Penurunan populasi kunang-kunang juga terjadi di berbagai negara. Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi masuk kategori terancam. Beberapa spesies yang hidup di kawasan mangrove Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand, bahkan telah diklasifikasikan sebagai spesies rentan.
Habitat rusak, populasi menyusut
Berkurangnya ruang hidup menjadi faktor yang paling banyak berkontribusi terhadap penurunan jumlah kunang-kunang. Perubahan fungsi lahan hijau, rawa, dan area persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri membuat habitat alami serangga tersebut semakin terbatas.
Selain kehilangan habitat, polusi cahaya juga dinilai memperburuk kondisi populasi kunang-kunang. Cahaya buatan dari lampu dengan intensitas tinggi dapat mengganggu proses komunikasi yang mengandalkan sinyal cahaya saat musim kawin.
"Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina sehingga gagal bereproduksi."
Prof Upik juga menyebut sejumlah faktor lain yang ikut mempercepat penurunan populasi, seperti penggunaan insektisida kimia secara berlebihan, perubahan iklim yang memicu kondisi lebih kering, pembangunan saluran irigasi yang mengurangi area tanah lembap, hingga laju urbanisasi yang terus berkembang.
Ancaman bagi generasi mendatang
Meski populasinya terus menurun, kunang-kunang masih dapat ditemukan di sejumlah habitat yang relatif terjaga. Kawasan mangrove, rawa, tepian sungai yang masih alami, persawahan tradisional, perkebunan organik, serta hutan tropis yang lembap menjadi beberapa lokasi yang masih mendukung kehidupan serangga tersebut.
Namun, apabila kerusakan habitat dan polusi cahaya tidak dikendalikan, peluang generasi mendatang untuk melihat kunang-kunang secara langsung akan semakin kecil. Keberadaan serangga yang selama ini menjadi bagian dari kekayaan biodiversitas Indonesia berpotensi hanya dikenal melalui buku, museum, atau dokumentasi digital.
Sebagai langkah sederhana, masyarakat dapat ikut berkontribusi dengan menjaga ruang terbuka hijau di sekitar rumah, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk yang lebih ramah lingkungan, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air agar tetap menjadi habitat yang mendukung berbagai organisme.
"Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang," pungkasnya. (deA/asp)








