Dirut BEI Spill Rahasia Saham Syariah Lebih Resilien Saat Sell-off!

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 5 November 2026 | 21:04 WIB
Dirut BEI Spill Rahasia Saham Syariah Lebih Resilien Saat Sell-off!
Dirut BEI Spill Rahasia Saham Syariah Lebih Resilien Saat Sell-off! [astakom/Shintya]

astakom.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai instrumen saham berbasis syariah punya daya tahan alias resilience yang relatif lebih kuat pas pasar saham domestik lagi dilanda tekanan hebat. Ketahanan super kokoh ini nggak lepas dari karakteristik portofolionya yang terbebas dari sektor perbankan konvensional, plus ketiadaan transaksi berbasis pinjaman alias margin.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik ngespill faktor tahan bantingnya saham syariah, nggak adanya emiten perbankan konvensional dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) ini yang justru bikin saham syariah relatif aman dan minim terdampak dari koreksi tajam yang kerap melanda sektor perbankan saat kondisi pasar lagi amsyong atau tertekan.

“Kalau kita lihat memang demikian ya, baik dari sisi produknya ya maupun dari sisi investornya, daya tahannya harusnya lebih baik yang di syariah,” kata Jeffrey dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, dikutip astakom.com pada Kamis (05/11/2026).

Bebas riba, bebas drama

Jeffrey menambahkan, faktor lain yang makin memperkuat daya tahan pasar syariah adalah profil transaksi investornya yang nggak hobi cari gara-gara pakai utang. Karena bertransaksi sesuai prinsip syariah, para investor nggak akan memanfaatkan fasilitas pinjaman berbasis bunga seperti transaksi margin.

Langkah ini secara otomatis bikin risiko eksekusi margin call maupun penjualan paksa (forced sell) jadi terminimalkan banget saat harga saham lagi bergejolak dan naik-turun nggak karuan. Investor syariah bisa tetap chillin tanpa perlu overthinking digulung aksi jual mendadak.

“Investor syariah tentu akan bertransaksi saham tanpa riba, apalagi margin, ya jadi tentu tidak ada risiko margin call atau force sell,” katanya.

Kapitalisasi pasar tetap jumbo

Penilaian terhadap ketahanan instrumen syariah ini mengemuka tepat di tengah tekanan pasar saham nasional yang bikin panik banyak pihak. Merujuk pada data resmi bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nangkring di level 5.266,13 per 26 Oktober 2026, atau sudah terkoreksi lumayan dalam sebesar 39,80 persen sejak awal tahun (year-to-date).

Walaupun performa IHSG lagi melemah dan terpuruk, kapitalisasi pasar instrumen syariah rupanya tercatat tetap jumbo dan nggak gampang goyah. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2026 menunjukkan kapitalisasi pasar Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sukses menembus nilai fantastis mencapai Rp5.658,68 triliun.

Daftar efek syariah

Sementara itu, untuk kapitalisasi pasar Jakarta Islamic Index (JII) berada kuat di posisi Rp1.891,89 triliun. Nggak kalah mentereng, Jakarta Islamic Index 70 (JII70) juga berhasil mencatatkan nilai sebesar Rp2.681,94 triliun.

Dari sisi ragam opsi buat investing, OJK telah menetapkan sebanyak 622 saham masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) Periode I 2026, di luar tambahan tiga saham lainnya dari penetapan DES insidentil. Pilihan koleksi portofolio pun jadi makin bervariasi buat para pelakunya.

Tetap perlu do your own research

Kendati punya fundamental dan karakteristik yang jauh lebih stabil, BEI tetap menggarisbawahi serta mengingatkan bahwa investasi saham syariah bukan berarti sepenuhnya bebas dari risiko pasar. Jangan sampai para investor terlena atau langsung blindly follow.

Pergerakan harga saham syariah pada dasarnya bakal tetap berfluktuasi mengikuti dinamika pasar global, kondisi makroekonomi terkini, serta kinerja fundamental dari masing-masing perusahaan yang tercatat. Makanya, analisis mendalam tetap jadi kunci utama sebelum mengeksekusi keputusan investasi. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Saham syariah dinilai punya daya tahan lebih kuat saat pasar saham sedang tertekan karena tidak melibatkan emiten perbankan konvensional dan transaksi berbasis utang atau margin. Karakteristik ini membuat risikonya terhadap margin call dan forced sell relatif lebih rendah. Meski begitu, bukan berarti saham syariah kebal koreksi. Dengan kapitalisasi ISSI mencapai Rp5.658,68 triliun per Agustus 2026 dan 622 saham masuk DES Periode I 2026, instrumen ini menawarkan pilihan investasi yang beragam. Tetap, investor perlu melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.

saham syariah Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Saham Indonesia (BEI)

Infografis

Terkini