Dampak Karhutla Meluas, Pemerintah Kerahkan 9.355 Nakes dan Siapkan 814 Rumah Oksigen
astakom.com, Jakarta – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan warga di sejumlah daerah terus menjadi perhatian pemerintah. Hingga awal November 2026, sebanyak 401.586 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat di tujuh provinsi terdampak, sehingga penguatan layanan kesehatan dilakukan melalui pengerahan 9.355 tenaga kesehatan dan penyediaan 814 rumah oksigen.
Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada penanganan warga yang mengalami gangguan pernapasan. Pemerintah juga memperkuat fasilitas kesehatan dengan menyalurkan jutaan masker, konsentrator oksigen, tabung oksigen, obat-obatan, hingga perlengkapan medis lainnya.
Melansir keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, dikutip pada Kamis (05/11/2026), langkah penanganan dilakukan melalui koordinasi pemerintah pusat dan daerah. Penguatan ini diarahkan agar fasilitas dan bantuan kesehatan dapat menjangkau masyarakat sesuai kondisi serta kebutuhan masing-masing wilayah.
814 rumah oksigen tersedia di tujuh provinsi
Sebaran fasilitas rumah oksigen menjadi salah satu perhatian dalam penanganan dampak kesehatan akibat karhutla. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi per 3 November 2026, total terdapat 814 unit yang tersebar di tujuh provinsi.
Kalimantan Tengah menempati posisi teratas dengan 336 unit. Berikutnya, Kalimantan Selatan memiliki 175 unit dan Kalimantan Barat sebanyak 158 unit. Sementara itu, provinsi lainnya juga mendapatkan dukungan fasilitas dengan rincian sebagai berikut:
- Kalimantan Tengah: 336 unit.
- Kalimantan Selatan: 175 unit.
- Kalimantan Barat: 158 unit.
- Jambi: 131 unit.
- Riau: 10 unit.
- Sumatera Selatan: 3 unit.
- Kalimantan Timur: 1 unit.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati menegaskan, ketersediaan fasilitas oksigen perlu diikuti dengan kemudahan akses bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan.
“Yang menjadi perhatian kami sebenarnya bukan semata-mata jumlah dari rumah oksigen yang tersedia, melainkan juga bagaimana memastikan dukungan oksigen tersebut dapat diakses masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi pasien-pasien yang terganggu pernapasannya,” kata Widyawati dalam konferensi pers, pada Rabu (04/11/2026).
9.355 tenaga kesehatan dan jutaan masker disalurkan
Selain memperkuat fasilitas oksigen, pemerintah mengerahkan 9.355 tenaga kesehatan untuk mendukung pelayanan di tujuh provinsi terdampak. Personel yang dilibatkan berasal dari beragam kompetensi, mulai dari dokter, bidan, apoteker, ahli gizi, hingga pengemudi ambulans.
Kalimantan Timur mencatat pengerahan tenaga kesehatan terbanyak, yakni 5.525 orang. Disusul Jambi dengan 2.589 orang, sedangkan lima provinsi lainnya memperoleh dukungan dengan rincian berikut:
- Kalimantan Tengah: 487 orang.
- Sumatera Selatan: 382 orang.
- Riau: 209 orang.
- Kalimantan Barat: 121 orang.
- Kalimantan Selatan: 42 orang.
Widyawati menjelaskan bahwa respons terhadap dampak karhutla membutuhkan dukungan berbagai profesi kesehatan, bukan hanya tenaga medis. Koordinasi dengan dinas kesehatan di tingkat provinsi juga terus diperkuat untuk menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan masyarakat.
“Dan ini menunjukkan penanganan dampak karhutla tidak hanya membutuhkan tenaga medis, tetapi juga membutuhkan dukungan tenaga kesehatan lintas kompetensi untuk respons cepat. Kami memastikan koordinasi Dinas Kesehatan provinsi terus diperkuat untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak,” ujarnya.
Dukungan logistik turut diperluas. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 4 November 2026 pukul 15.00 WIB, bantuan yang telah disalurkan meliputi sekitar 3,8 juta masker, 280 konsentrator oksigen, 41 ribu pasang sarung tangan medis, serta 939 tabung oksigen.
Pemerintah juga mendistribusikan alat pelindung diri (APD), air purifier, makanan tambahan (PMT), obat-obatan, vitamin, dan perlengkapan penunjang medis lainnya. Penyaluran dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing fasilitas kesehatan agar bantuan yang tersedia bisa dimanfaatkan secara tepat sasaran.
“Kemudian pemberian makanan tambahan atau PMT, bermacam obat, vitamin, hingga kelengkapan penunjang medis lainnya. Disalurkan secara terukur sesuai dengan tingkat kebutuhan fasilitas di daerah masing-masing,” jelasnya.
Kasus ISPA tembus 401.586, balita ikut terdampak
Besarnya dukungan kesehatan tersebut berjalan beriringan dengan jumlah kasus ISPA yang tercatat di wilayah terdampak. Data per 2 November 2026 pukul 16.00 WIB menunjukkan terdapat 401.586 kasus secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.
Kelompok balita berusia 0–5 tahun mencatat 91.913 kasus. Sementara itu, kelompok anak usia 6–9 tahun mencapai 87.704 kasus dan kelompok lanjut usia di atas 60 tahun sebanyak 56.092 kasus.
Perhatian juga diberikan kepada kelompok masyarakat dengan kondisi atau aktivitas yang membutuhkan perlindungan lebih. Data yang dihimpun mencatat 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, serta 8.086 pekerja luar ruangan turut masuk dalam kelompok yang menjadi perhatian penanganan dampak kesehatan karhutla.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan kabut asap, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, ketersediaan oksigen, tenaga kesehatan, serta logistik medis menjadi bagian penting dalam menjaga pelayanan bagi warga di daerah terdampak. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Karhutla bukan cuma bikin udara jadi berkabut dan aktivitas terganggu. Dampaknya juga bisa menyasar kesehatan pernapasan, terutama kelompok rentan seperti balita dan lansia. Dengan ratusan ribu kasus ISPA yang tercatat, penguatan layanan kesehatan menjadi hal penting agar masyarakat terdampak tetap bisa memperoleh bantuan medis sesuai kebutuhan.









