BEI Dorong Emiten Manfaatkan Insentif PPh Badan 3% untuk Ekspansi Bisnis
astakom.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) baru aja kelar bikin kajian bareng PT Dimensi International Tax untuk menguji seberapa ampuh fasilitas insentif perpajakan buat perusahaan-perusahaan yang tercatat. Langkah ini bukan sekadar hitung-hitungan di atas kertas, tapi disiapin buat mendorong korporasi makin semangat manfaatin fasilitas pajak sekaligus leveling up tata kelola dan ekspansi bisnis mereka.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, ngespill kalau perusahaan terbuka yang sudah memenuhi kriteria tertentu berhak mengantongi potongan tarif Pajak Penghasilan (PPh) badan sebesar 3 persen sesuai aturan yang berlaku. Angka ini lumayan banget buat bikin arus kas perusahaan makin segar dan fleksibel.
“Kami tentu berharap kajian yang berfokus pada empat pilar insentif ini akan dapat menjadi penguatan bagi perusahaan-perusahaan calon maupun perusahaan tercatat,” kata Jeffrey dalam acara Go Public Academy for Small Medium Enterprises di Main Hall BEI, dikutip astakom.com pada Kamis (05/11/2026).
Efek domino pajak
Menurut Jeffrey, insentif perpajakan ini nggak cuma pajangan, tapi bisa jadi bensin tambahan buat perusahaan pas mau scale up bisnis mereka. Kejadian ini bukan cuma teori belaka, tapi sudah ada bukti nyatanya di lapangan.
Salah satu contoh nyatanya adalah PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR). Berkat jeli memanfaatin fasilitas pemotongan pajak ini, performa UVCR makin gacor hingga berhasil pindah kelas dari Papan Akselerasi ke Papan Pengembangan. Ini membuktikan kalau insentif fiskal bisa jadi daya dorong yang beneran riil buat pertumbuhan emiten.
Untuk mensupport momentum ini, BEI nggak melepaskan perusahaan begitu aja. Jeffrey menegaskan bahwa otoritas bursa siap memberikan pengawalan penuh sejak langkah awal lewat serangkaian program edukasi dan pembinaan intensif, termasuk menyiapkan kesiapan mereka sebelum akhirnya resmi melantai dan meraup pendanaan dari pasar modal.
“Bursa Efek Indonesia senantiasa berkomitmen untuk mendampingi perusahaan sejak tahap awal melalui edukasi dan pembinaan hingga siap naik kelas dan memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan untuk mengembangkan bisnisnya,” katanya.
Kualitas bisnis tetap yang utama
Di tengah maraknya perusahaan yang kepengin melantai di bursa, BEI menegaskan posisi dan standar kualitasnya. Jeffrey menyebut kalau strategi pengembangan pasar modal saat ini nggak boleh cuma terjebak pada angka penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) semata, melainkan wajib menitikberatkan pada bobot dan integritas dari emiten itu sendiri.
“Fokus kami bukan hanya sekadar meningkatkan jumlah IPO, tetapi melahirkan perusahaan publik dengan fundamental kuat, tata kelola yang baik, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Jeffrey.
Dongkrak daya saing korporasi
Melalui sinergi antara kajian insentif pajak yang matang dan pendampingan yang intensif, BEI menaruh harapan besar agar makin banyak entitas bisnis nasional yang sanggup melebarkan sayapnya. Tujuannya jelas: mendongkrak daya saing korporasi lokal agar nggak cuma jago kandang, tapi juga siap menginvasi pasar internasional.
Nggak lupa, Jeffrey juga ngajak para pelaku usaha agar nggak ragu mengambil kesempatan memanfaatkan akses pasar modal. Langkah ini dipandang sebagai jalan pintas yang terukur untuk memperkuat fondasi internal sekaligus mengakselerasi pertumbuhan bisnis dari skala lokal hingga mampu bersaing ketat di tingkat nasional maupun global. (Shnty/RaM)
Gen Z Takeaway
BEI lagi menyiapkan strategi agar perusahaan makin jeli memanfaatkan insentif pajak, termasuk potongan tarif PPh badan sebesar 3% bagi emiten yang memenuhi persyaratan. Fasilitas ini bukan cuma bisa meringankan beban pajak, tetapi juga membuka ruang bagi perusahaan untuk memperkuat arus kas, mengembangkan bisnis, hingga naik kelas di papan pencatatan bursa. Contohnya, UVCR yang berhasil berpindah dari Papan Akselerasi ke Papan Pengembangan. Meski begitu, BEI menegaskan bahwa target utamanya bukan sekadar memperbanyak IPO, melainkan menghadirkan emiten dengan fundamental kuat, tata kelola baik, dan daya saing berkelanjutan.








