Industri Kakao RI Makin Gacor, Grinding Tembus 112 Ribu Ton pada Kuartal III 2026!

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 3 November 2026 | 23:03 WIB
Industri Kakao RI Makin Gacor, Grinding Tembus 112 Ribu Ton pada Kuartal III 2026!
Industri Kakao RI Makin Gacor, Grinding Tembus 112 Ribu Ton pada Kuartal III 2026! (astakom/Tanngkapan Layar IG@billymambrasar)

astakom.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) lagi all-out mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas alias Free Trade Agreement (FTA). Langkah ini diambil buat memperluas akses pasar sekaligus memuluskan ekspor produk kakao olahan nasional.

Upaya itu related sama strategi penguatan hilirisasi industri kakao demi mendongkrak nilai tambah, membuka lapangan kerja baru, serta membawa dampak ekonomi nyata buat masyarakat dan para petani kakao.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan kalau industri pengolahan kakao punya peran yang amat strategis dalam memperkuat struktur industri nasional dan meningkatkan nilai komoditas perkebunan lokal. Penguatan di sektor ini diyakini bakal memicu efek berganda (multiplier effect) yang positif.

Sarmuji menilai kalau penguatan industri pengolahan akan memberikan efek berganda seperti mendorong pertumbuhan ekspor, menciptakan kesempatan kerja, dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi petani kakao.

Kinerja triwulan III 2026

Sebagai bukti keseriusan dalam mengawal kinerja industri ini, Kemenperin bersama Asosiasi Industri Kakao Indonesia (ASKINDO) merilis data grinding kakao Triwulan III 2026. Berdasarkan catatan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), tren pertumbuhan industri pengolahan kakao Indonesia memang lagi menunjukkan grafik yang positif.

Volume grinding kakao pada Triwulan III 2026 berhasil menyentuh angka 112.628 ton. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 2,01 persen jika dibandingkan dengan Triwulan II 2026 yang berada di angka 110.410 ton. Kalau dihitung secara akumulatif dari Triwulan I hingga Triwulan III 2026, total volume grinding sudah menembus 307.882 ton atau setara 72,9 persen dari keseluruhan volume grinding sepanjang tahun 2025.

Peta persaingan di tingkat regional juga membuktikan bahwa Indonesia bukan pemain kemarin sore. Mengutip data Cocoa Association of Asia (CAA), volume grinding kakao Indonesia pada Triwulan III 2026 menyumbang 48 persen dari total grinding kakao di Asia yang mencapai 233.767 ton. Dominasi ini menegaskan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok kakao regional sekaligus membuka peluang emas buat memperkuat daya saing di kancah global.

Volume penjualan kakao per kategori produk

Dari sisi komersial, volume penjualan industri pengolahan kakao tercatat mencapai 93.253 ton pada Triwulan III 2026, alias naik 9,5 persen dibanding Triwulan II 2026 yang sebesar 85.138 ton. Jika dibedah per kategori produk:

  • Cocoa liquor: Melonjak drastis hingga 91,3 persen.
  • Cocoa cake: Menyusul naik sebesar 49,6 persen.
  • Cocoa butter: Tumbuh sebesar 8,8 persen.
  • Cocoa powder: Mengalami penurunan tipis sebesar 2,9 persen.

Tantangan iklim dan strategi menembus pasar global

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menyambut baik pencapaian ini sebagai sinyal positif bagi industri dalam negeri. Meski begitu, dia mengingatkan agar momentum bagus ini tetap dikawal lewat langkah-langkah strategis demi menjaga kelangsungan produksi, ketersediaan bahan baku, dan ekspansi pasar ekspor.

“Capaian grinding dan penjualan pada Triwulan III 2026 menunjukkan bahwa industri pengolahan kakao nasional memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Untuk menjaga momentum ini, diperlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi industri, dan memperluas akses pasar internasional,” kata Putu dalam keterangan tertulisnya, dikutip astakom.com pada Selasa (03/11/2026).

Tantangan industri

Bukan berarti jalan yang dilalui mulus tanpa hambatan. Industri kakao masih harus menghadapi tantangan riil seperti cuaca ekstrem curah hujan tinggi yang berkepanjangan hingga ancaman fenomena El Nino.

Kondisi alam ini perlu diantisipasi lewat penguatan budidaya, peningkatan produktivitas lahan, serta penerapan praktik pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Di sektor hilir, optimalisasi FTA menjadi kunci utama agar produk kakao olahan Indonesia nggak kalah saing. Pelaku industri dituntut untuk benar-benar paham soal ketentuan asal barang (rules of origin), kelengkapan dokumen, prosedur ekspor, hingga regulasi teknis di negara tujuan.

Sinergi lintas sektor

Kemenperin mendorong sinergi lintas sektoral antara kementerian, lembaga, asosiasi, dan pelaku usaha agar setiap peluang yang ada bisa dikonversi menjadi peningkatan ekspor yang berkelanjutan. Salah satu bentuk dukungannya adalah dengan menggelar workshop pengembangan ekspor produk kakao dan olahannya melalui pemanfaatan fasilitas kebijakan pemerintah dan FTA.

Agenda ini dirancang untuk membedah peluang perdagangan internasional sekaligus mencari jalan keluar atas berbagai hambatan ekspor di lapangan.

“Kami berharap workshop ini tidak berhenti pada diskusi dan pertukaran informasi, tetapi menghasilkan rekomendasi yang konkret, aplikatif, dan dapat ditindaklanjuti bersama. Dengan kolaborasi yang kuat, peluang dari berbagai perjanjian perdagangan dan fasilitas pemerintah dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dalam mendukung penguatan industri pengolahan kakao nasional yang produktif, berdaya saing, dan berorientasi ekspor,” tegas Putu. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Industri pengolahan kakao Indonesia lagi menunjukkan performa positif. Volume grinding kakao pada Triwulan III 2026 mencapai 112.628 ton, dengan kontribusi 48% terhadap total grinding di Asia. Kemenperin pun mendorong pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas (FTA) agar produk kakao olahan lokal makin mudah menembus pasar global. Meski masih dibayangi tantangan cuaca ekstrem dan pasokan bahan baku, penguatan hilirisasi, peningkatan produktivitas, serta kolaborasi lintas sektor jadi kunci agar industri kakao Indonesia makin kompetitif dan memberikan nilai tambah bagi petani.

Kemenperin industri kakao Free Trade Agreement (FTA) ASKINDO

Infografis

Terkini