Yuk Bahas Asal-usul Monas, Ikon Jakarta yang Penuh Makna
astakom.com, Jakarta – Monumen Nasional (Monas) bukan cuma tugu tinggi yang identik dengan Jakarta. Di balik bentuknya yang ikonik, ada perjalanan panjang tentang gagasan mengenang perjuangan kemerdekaan Indonesia, proses pencarian desain, hingga filosofi yang berkaitan dengan tanggal Proklamasi Kemerdekaan. Menariknya, pembangunan monumen ini dimulai pada masa Presiden Sukarno, tetapi baru dibuka untuk umum pada 1975.
Melansir laman resmi Kementerian Pariwisata melalui artikel Mengenal Arsitek Monas, Dipilih Langsung oleh Presiden Soekarno dikutip pada Kamis, (22/10/2026), sejarah Monas mencakup proses perancangan yang melibatkan sejumlah pihak. Gagasan pendiriannya dikaitkan dengan Sarwoko Martokoesoemo, sedangkan pengembangan desainnya melibatkan arsitek Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono.
Berawal dari keinginan mengenang perjuangan kemerdekaan
Pembangunan Monas berangkat dari gagasan menghadirkan sebuah monumen nasional untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Presiden Sukarno menginginkan monumen yang bukan hanya menjadi penanda ibu kota, tetapi juga merepresentasikan semangat perjuangan bangsa.
Proses menentukan desainnya tidak berlangsung dalam satu tahap. Kementerian Pariwisata mencatat adanya sayembara rancangan pada 1955 dan 1960. Frederich Silaban menjadi salah satu arsitek yang terlibat dalam proses tersebut.
Rancangan Silaban kemudian dibahas lebih lanjut karena Soekarno menginginkan bentuk yang merepresentasikan konsep Lingga dan Yoni. Pengembangan desain selanjutnya melibatkan R. M. Soedarsono hingga menghasilkan rancangan Monas yang kemudian dibangun.
Keterlibatan kedua arsitek tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan Monas. Bentuk tugu yang sekarang dikenal masyarakat merupakan hasil proses perancangan, bukan sekadar gagasan yang langsung diwujudkan tanpa tahapan.
Dibangun sejak 1961, baru dibuka untuk umum pada 1975
Berdasarkan profil resmi Monumen Nasional di situs Kementerian Kebudayaan, pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pembangunannya berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya Monas dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa pembangunan monumen ini melewati proses panjang sejak peletakan awal pembangunan hingga dapat dikunjungi masyarakat.
Monas kini berdiri di kawasan Lapangan Merdeka, Jakarta Pusat, dengan tinggi keseluruhan 132 meter. Bentuknya menyerupai tugu atau obelisk dengan lidah api di bagian puncak, yang menjadi salah satu ciri paling menonjol dari monumen tersebut.
Fun fact Monas: angka 17, 8, dan 45 punya makna
Salah satu detail menarik dari Monas adalah filosofi angka 17, 8, dan 45 yang dikaitkan dengan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.
Informasi yang dipublikasikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelaskan bahwa angka-angka tersebut tercermin dalam sejumlah ukuran bagian bangunan. Pelataran cawan berada pada ketinggian 17 meter, ruang museum sejarah memiliki tinggi 8 meter, sedangkan pelataran cawan berukuran 45 x 45 meter.
Dengan demikian, unsur angka dalam desain Monas tidak sekadar menjadi detail arsitektur, tetapi juga mengingatkan pada momen penting dalam sejarah Indonesia.
Hal menarik lainnya ada pada lidah api di puncak tugu. Bagian ini dilapisi emas dan menjadi elemen yang mencolok dari kejauhan. Dalam konsep Monas, api tersebut melambangkan semangat perjuangan bangsa Indonesia yang diharapkan terus menyala.
Bukan cuma ikon Jakarta, Monas juga menyimpan nilai edukasi
Monas tidak hanya dikenal sebagai landmark dan destinasi wisata di ibu kota. Di bagian dalamnya terdapat Museum Sejarah Nasional yang menyajikan diorama perjalanan sejarah Indonesia, sehingga pengunjung dapat mengenal berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa.
Keberadaan museum tersebut membuat Monas juga memiliki fungsi edukasi bagi masyarakat. Pengunjung tidak hanya bisa melihat bangunan ikonik, tetapi juga mempelajari kembali sejarah Indonesia melalui penyajian di dalam monumen.
Perjalanan Monas sejak gagasan awal, proses perancangan, hingga dibuka untuk umum memperlihatkan bahwa bangunan ini memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar penanda kota. Sejarah dan filosofi desainnya menjadi bagian dari upaya mengenang perjuangan kemerdekaan Indonesia. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Ternyata, Monas punya cerita lebih panjang daripada yang terlihat dari luar. Mulai dari proses perancangan yang melibatkan Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono hingga filosofi angka 17, 8, dan 45, ada banyak detail yang berkaitan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Jadi, saat berkunjung ke Monas, bukan cuma tugunya yang bisa dinikmati, tetapi juga cerita sejarah yang melekat di baliknya.









