Tegas! Pelapor Khusus PBB Ajak Publik Boikot Produk Pendudukan Palestina
astakom.com, Jakarta – Aksi solidaritas buat Palestina enggak cuma cukup berhenti di story Instagram atau pamer kebaikan di media sosial. Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese, menegaskan kalau dukungan nyata harus dibuktikan lewat langkah konkret, salah satunya dengan berhenti membeli produk-produk yang secara sadar atau tidak ikut mendanai sistem pendudukan dan genosida.
Dalam forum diskusinya pada agenda WCCE 2026 dalam sesi Creative Economy and A Peaceful World di CGV Grand Indonesia Kamis, (22/10/2026). Albanese menyoroti bagaimana ekonomi pendudukan bekerja. Menurutnya, pemboikotan terhadap produk-produk tertentu seperti tidak lagi memakai aplikasi pesan akomodasi komersial atau membeli produk yang terafiliasi dengan wilayah pendudukan merupakan bentuk perlawanan paling dasar yang bisa dilakukan oleh siapa pun di seluruh dunia, termasuk warga Indonesia.
Stop mendanai pendudukan
"Jika itu berarti tidak membeli Coca-Cola, bisakah kita melakukannya? Jika itu berarti tidak menggunakan Airbnb atau booking.com, yang masih mengiklankan properti Palestina yang dicuri, seolah-olah itu milik Israel, bisakah kita melakukannya?" Tegas Francesca Albanese pada agenda WCCE 2026 dalam sesi Creative Economy and A Peaceful World di CGV Grand Indonesia Kamis, (22/10/2026).
"Ini adalah pilihan kecil yang diminta untuk kita. Maksud saya, kita tidak diminta untuk melakukan apa pun yang transendental. Tapi setidaknya untuk memastikan bahwa uang kita tidak masuk mendanai sebuah sistem keterlibatan yang mengekspresikan dirinya juga melalui ekonomi" sambungnya.
Perampasan budaya Palestina
Praktik kolonisasi pemukim (settler colonialism) di Palestina tidak pernah berhenti sejak puluhan tahun lalu. Segala bentuk identitas, mulai dari budaya, sejarah, pakaian tradisional seperti Keffiyeh, hingga makanan khas Levant seperti hummus, perlahan dicaplok untuk menghapus eksistensi warga lokal.
"Ini adalah kolonialisme pemukim. dan itu tidak berhenti pada apa yang menjadi Israel. Itu terus berlanjut. Israel melarang menikmati kenikmatan, yang kehidupan sebagai orang Palestina di bawah pendudukan Israel bendera Palestina dilarang dilarang, segala bentuk tampilan identitas Palestina, budaya Palestina, sejarah Palestina, itu dihancurkan atau diambil alih" paparnya.
"Hanya saja, sekarang itu adalah simbol identitas,hal itu dilarang ketika digunakan oleh orang Palestina, tetapi ada beberapa penata gaya yang mengambil alih dan sekali lagi, itu adalah cara untuk perlahan-lahan, perlahan-lahan menghapus budaya Palestina" jelasnya.
Albanese menyoroti bagaimana dehumanisasi ini berujung pada logika genosida yang brutal, di mana warga Palestina kerap disetarakan dengan ancaman eksistensial yang harus disingkirkan dari tanah leluhur mereka.
"seolah-olah mereka mereka dehumanisasi terhadap orang Palestina telah mencapai titik ekstrem. Itu sudah ada sebelumnya" sambungnya.
"Hari ini ini adalah orang Palestina yang disajikan sebagai kanker, sebagai hewan, dan ini adalah logika genosida" lanjutnya.
Perang narasi global
Perang hari ini tidak cuma pakai senjata fisik, tapi juga adu narasi dan propaganda global. Selama puluhan tahun, narasi arus utama di Barat dibentuk seolah-olah Israel adalah korban abadi, sementara penderitaan jutaan warga Palestina diabaikan begitu saja. Situasi ini diperparah dengan upaya kriminalisasi di beberapa negara Eropa terhadap siapa saja yang berani mengkritik kebijakan apartheid pemerintah Israel.
"Dan Israel selama beberapa dekade telah mendorong narasi bahwa orang Palestina tidak ada, Anda tahu, Golda Meir yang merupakan perdana menteri Israel mengatakan, selama tahun 60-an, orang Palestina tidak ada" ungkapnya.
"David Ben Gurion, yang merupakan perdana pertama Israel, mengatakan, bahwa orang Palestina yang tua akan mati dan yang muda akan lupa" jelasnya.
Model startup nation dan inovasi militer Israel kerap dipuji di dunia Barat. Padahal, inovasi tersebut lahir dari eksploitasi dan uji coba sistem pengawasan serta persenjataan canggih langsung kepada manusia di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Albanese memperingatkan bahwa tren militerisasi ini kini mulai menulari benua Eropa, di mana aksi protes damai justru dibalas dengan kekerasan dan ancaman hukuman penjara bagi anak-anak muda.
"Jadi negara-negara menjadi semakin miskin dan protes adalah hak konstitusional tapi pemerintah sedang merespons dengan kekerasan" ujarnya.
Aksi nyata lewat BDS
Solusi untuk mengakhiri ketidakadilan ini ada di tangan masyarakat global. Albanese mengajak warga Indonesia dan dunia untuk berhenti menjadi kaki tangan pendudukan dengan tidak membeli produk yang berafiliasi dengan militer, pariwisata, perbankan, maupun perusahaan multinasional yang mendukung agresi. Mengubah kebiasaan konsumtif lewat gerakan BDS menjadi bentuk solidaritas paling minimal agar uang kita tidak dipakai untuk mendanai sistem penjajahan.
"Jadi saya mendorong semua orang untuk melihat apa yang diboikot dan divestasi serta sanksi yang dipimpin oleh orang Palestina yang menuntut penegakan hukum internasional" tutupnya. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Beneran dukung Palestina tuh enggak cuma lewat story Instagram atau sekadar ikutan trend, tapi juga keberanian buat ngelakuin action nyata lewat smart choice waktu belanja. Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, ngingetin kalau pilihan simpel kayak stop konsumsi merek atau platform yang terafiliasi sama wilayah pendudukan itu krusial banget biar uang kita enggak muter buat mendanai sistem penjajahan dan genosida. Fix, pilihan konsumsi harian kita adalah bentuk perlawanan paling nyata!









