Spill Sejarah Tugu Tani Jakarta: Karya Seni Pematung Rusia Terinspirasi Pengorbanan Ibu dan Perjuangan Bangsa
astakom.com, Jakarta – Tugu Tani menjadi salah satu monumen di Jakarta yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan bangsa Indonesia. Di balik sosok pria bercaping yang membawa senjata dan perempuan yang memberikan bekal, terdapat kisah tentang gagasan Presiden Soekarno, perjalanan dua pematung asal Rusia, hingga pesan persahabatan antara Moskow dan Jakarta.
Mengutip artikel Galeri Nasional Indonesia (GNI), Kementerian Kebudayaan dikutip pada Rabu, (21/10/2026), monumen yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ini memiliki nama resmi Monumen Pahlawan. Masyarakat lebih akrab menyebutnya Tugu Tani karena figur pria dalam patung tersebut mengenakan caping yang identik dengan petani.
Karya berbahan perunggu dengan teknik cor ini dibuat oleh Matvey Genrikhovich Manizer dan Ossip Manizer, dua pematung asal Rusia. Dalam artikel GNI, monumen tersebut tercatat memiliki tinggi figur 11 meter, sedangkan pedestal atau bagian dudukannya berukuran 5 x 8 x 27 meter.
Berawal dari kunjungan Soekarno ke Uni Soviet
Sejarah Tugu Tani bermula dari kunjungan Presiden Soekarno ke Uni Soviet pada Mei 1959. Dalam perjalanan tersebut, Soekarno bertemu dengan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev dan tertarik pada berbagai patung yang tersebar di sejumlah kawasan kota.
Karya-karya yang menarik perhatiannya mengusung gaya realisme sosialis, yakni pendekatan seni yang kerap menampilkan kehidupan masyarakat, perjuangan, dan nilai-nilai sosial. Ketertarikan tersebut kemudian mempertemukan Soekarno dengan Matvey Genrikhovich Manizer, yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden Akademi Seni Uni Soviet, serta putranya, Ossip Manizer.
Soekarno kemudian mengundang kedua pematung tersebut ke Indonesia untuk mengerjakan sebuah monumen yang menggambarkan perjuangan bangsa. Fokusnya saat itu adalah perjuangan Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari kolonisasi Belanda.
Gagasan tersebut memperlihatkan bagaimana monumen tidak hanya dipandang sebagai karya seni untuk memperindah ruang publik. Patung juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan kebangsaan dan merekam semangat perjuangan pada periode tertentu.
Kisah seorang ibu di balik inspirasi patung
Sebelum mengerjakan patung, Matvey dan Ossip Manizer datang ke Indonesia dan mengunjungi sejumlah daerah untuk mencari gambaran yang sesuai dengan tema monumen. Salah satu perjalanan mereka membawa keduanya ke sebuah desa di Jawa Barat.
Di tempat tersebut, mereka mendapatkan cerita mengenai seorang ibu yang mengantarkan putranya pergi menuju medan perang. Sang ibu memberikan bekal berupa nasi sebagai bentuk dukungan sekaligus pengingat agar anaknya tetap mengingat orang tua dan tanah air.
Cerita itu kemudian menjadi inspirasi bagi komposisi Tugu Tani. Sosok pria yang membawa senjata menggambarkan seseorang yang berangkat berjuang, sedangkan perempuan yang memberikan bekal menghadirkan sisi lain dari perjuangan, yakni kasih sayang dan dukungan keluarga.
Dengan begitu, pesan monumen ini tidak hanya berpusat pada keberanian orang yang berada di medan perang. Ada pula pengorbanan orang-orang yang mengantarkan mereka pergi, memberikan dukungan, dan menaruh harapan pada perjuangan tersebut.
Kisah tersebut juga menjelaskan mengapa sosok perempuan menjadi bagian penting dari keseluruhan karya. Ia bukan sekadar figur pelengkap, melainkan bagian dari narasi yang menghubungkan perjuangan bangsa dengan ikatan keluarga.
Dibuat di Rusia dan dibawa ke Indonesia
Setelah memperoleh inspirasi dari kunjungan lapangan di Indonesia, kedua pematung kembali ke Uni Soviet untuk mengerjakan patung tersebut. Karya perunggu itu dibuat di Rusia, kemudian dikirim ke Indonesia menggunakan kapal laut.
Menurut katalog karya GNI, monumen tersebut dibuat sebagai tanda persahabatan Moskow-Jakarta. Kehadirannya pun memiliki dua konteks yang saling berkaitan, yakni pesan perjuangan bangsa Indonesia dan hubungan persahabatan antara Indonesia dengan Uni Soviet pada masa pemerintahan Soekarno.
Artikel GNI mencatat tahun karya Monumen Pahlawan adalah 1963 dan menyebut monumen itu diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun yang sama.
Namun, terdapat perbedaan pencatatan dalam publikasi GNI. Esai kuratorial berjudul Melanjut Dan Mengerut menyebut peresmian Patung Pahlawan berlangsung pada 24 Juni 1964. Karena ada perbedaan tersebut, tahun peresmian perlu dibaca dengan memperhatikan jenis sumber yang digunakan.
Dari Patung Pahlawan menjadi Tugu Tani
Nama Tugu Tani lebih populer digunakan masyarakat dibandingkan nama resminya, Monumen Pahlawan. Sebutan tersebut merujuk pada penampilan pria bercaping yang menjadi figur utama dalam patung.
Meski demikian, latar belakang pembuatannya menunjukkan bahwa monumen ini tidak secara khusus dimaksudkan sebagai patung yang hanya menggambarkan kehidupan petani. Karya tersebut dibuat untuk menyampaikan pesan perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya pembebasan Irian Barat.
Dalam publikasi GNI, terdapat pula pembahasan khusus mengenai sosok perempuan yang menjadi bagian dari monumen. Diskusi bertajuk Berjumpa Patung “Ibu Tani” di Sekitar Daerah Monasmembahas bagaimana figur perempuan itu dapat dipahami melalui proses penciptaan dan penafsiran karya seni.
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa patung yang sudah lama hadir di ruang publik masih menyimpan ruang untuk dipelajari lebih jauh. Orang yang setiap hari melewati monumen ini mungkin langsung mengenali bentuknya, tetapi belum tentu mengetahui kisah yang melatarbelakangi pembuatannya.
Tetap menjadi bagian dari sejarah Jakarta
Tugu Tani kini menjadi salah satu penanda kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Keberadaannya menghubungkan ruang kota dengan kisah sejarah yang melatarbelakangi penciptaan monumen tersebut.
Berdasarkan katalog GNI, patung ini berada di Jalan Menteng Raya Nomor 1, Jakarta Pusat. Pengelolaannya tercatat berada di bawah Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, sementara kepemilikannya tercatat atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Sejarah Tugu Tani menunjukkan bahwa karya seni di ruang publik dapat menyimpan lebih dari satu cerita. Selain menjadi penanda kota, monumen ini merekam gagasan Presiden Soekarno, proses kreatif dua pematung asal Rusia, serta kisah seorang ibu yang mengantarkan anaknya pergi berjuang. (deA/RaM)
Gen Z Takeaway
Tugu Tani bukan cuma patung pria bercaping yang sering terlihat saat melintas di Jakarta. Di balik bentuknya, ada cerita tentang perjuangan Indonesia, inspirasi dari kisah seorang ibu di Jawa Barat, dan hubungan persahabatan Moskow-Jakarta. Memahami sejarahnya membuat monumen yang akrab di mata masyarakat ini punya makna lebih dalam sebagai bagian dari perjalanan bangsa.









