Bukan Cuma Spot Foto Aesthetic! Museum Fatahillah Dulu Bekas Balai Kota Sampai Penjara Bawah Tanah Batavia
astakom.com, Jakarta – Kalau berkunjung ke kawasan Kota Tua Jakarta, gedung Museum Sejarah Jakarta atau yang populer disebut Museum Fatahillah menjadi salah satu bangunan yang mudah dikenali. Namun, sebelum dikenal sebagai tempat wisata sejarah, gedung ini punya perjalanan panjang. Bangunannya pernah digunakan sebagai pusat pemerintahan Batavia, tempat pengadilan, hingga penjara yang berada di ruang bawah tanah.
Melansir keterangan resmi Museum Sejarah Jakarta di laman Kementerian Kebudayaan pada Kamis, (22/10/2026), bangunan yang beralamat di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat, ini dahulu merupakan Balai Kota Batavia atau Stadhuis van Batavia. Pembangunannya berlangsung pada 1707–1710 atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.
Dulunya pusat pemerintahan Batavia
Pada awal berdirinya, gedung ini tidak difungsikan sebagai museum seperti sekarang. Bangunan tersebut menjadi pusat administrasi pemerintahan Batavia sekaligus digunakan untuk kegiatan peradilan.
Menurut profil resmi museum, kompleks bangunannya terdiri atas gedung utama, dua sayap di bagian timur dan barat, serta bangunan tambahan. Arsitekturnya disebut menyerupai Istana Dam di Amsterdam, Belanda.
Pembangunan gedung selesai pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Pada 10 Juli 1710, bangunan Balai Kota Batavia tersebut diresmikan olehnya.
Fakta ini menunjukkan bahwa gedung yang sekarang menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Tua memiliki fungsi penting dalam tata pemerintahan Batavia pada masa kolonial.
Ruang bawah tanahnya pernah menjadi penjara
Salah satu fakta yang menarik dari gedung ini adalah keberadaan ruang bawah tanah yang dahulu digunakan sebagai penjara. Informasi tersebut tercantum dalam profil resmi Museum Sejarah Jakarta di situs Kementerian Kebudayaan.
Selain berfungsi sebagai Balai Kota Batavia, bangunan ini juga digunakan sebagai tempat pengadilan. Dengan demikian, kompleks tersebut tidak hanya menjadi pusat administrasi, tetapi juga berkaitan dengan pelaksanaan hukum pada masa itu.
Riwayat ini menjadi sisi lain dari Museum Fatahillah yang mungkin belum diketahui semua pengunjung. Di balik bangunan bergaya klasik yang kini menjadi tempat mempelajari sejarah Jakarta, tersimpan cerita tentang berbagai fungsi gedung selama masa kolonial.
Berubah fungsi sebelum menjadi museum
Perjalanan gedung ini tidak berhenti ketika pemerintahan kolonial berakhir. Berdasarkan profil resmi Museum Sejarah Jakarta, pada 1925–1942 bangunan tersebut digunakan sebagai kantor Provinsi Jawa Barat. Pada 1942–1945, gedung ini beralih fungsi menjadi markas Dainipon.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan itu kembali digunakan sebagai kantor pemerintahan Provinsi Jawa Barat pada 1945–1963. Pada 1964, gedung tersebut digunakan sebagai markas TNI Kodim 0503 Jakarta Barat.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menerima penyerahan gedung itu pada 1972 untuk diperbaiki dan dialihfungsikan sebagai museum. Museum Sejarah Jakarta akhirnya diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 30 Maret 1974.
Sejak saat itu, gedung bersejarah tersebut menjadi tempat untuk mengenal perjalanan Jakarta melalui koleksi dan informasi sejarah yang disajikan kepada pengunjung.
Bukan sekadar tempat foto di Kota Tua
Museum Sejarah Jakarta kini menjadi salah satu tempat untuk mempelajari perkembangan ibu kota dari masa ke masa. Berdasarkan informasi Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, koleksinya mencakup berbagai benda bersejarah, mulai dari peninggalan arkeologi hingga mebel antik dari abad ke-17 sampai ke-19.
Keberadaan museum ini membuat kawasan Kota Tua tidak hanya menarik untuk dikunjungi karena bangunan lamanya, tetapi juga karena menyimpan jejak perjalanan kota Jakarta. Sejarah gedungnya memperlihatkan bagaimana satu bangunan dapat mengalami perubahan fungsi mengikuti perkembangan zaman.
Gen Z Takeaway
Ternyata, gedung yang sekarang dikenal sebagai Museum Fatahillah punya riwayat panjang sebelum menjadi tempat wisata sejarah. Dulunya, bangunan ini merupakan pusat pemerintahan Batavia, pernah digunakan untuk pengadilan, dan memiliki ruang bawah tanah yang difungsikan sebagai penjara. Jadi, saat berkunjung ke Kota Tua, gedung ini bukan cuma menarik untuk dijadikan latar foto, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan Jakarta dari masa ke masa.









