Siap Tembus Pasar Eropa, Pemerintah Tancap Gas Selesaikan IEU-CEPA 2027!

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 22 Oktober 2026 | 05:05 WIB
Siap Tembus Pasar Eropa, Pemerintah Tancap Gas Selesaikan IEU-CEPA 2027!
Siap Tembus Pasar Eropa, Pemerintah Tancap Gas Selesaikan IEU-CEPA 2027! [Ilustrasi bendera IEU-CEPA/Gemini AI]

astakom.com, Jakarta – Pemerintah lewat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terus tancap gas nge-push percepatan penandatanganan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Targetnya, kerja sama besar ini sudah bisa spill dampaknya dan berlaku efektif pada awal 2027. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan perlunya jurus diplomasi yang makin sat-set demi mempercepat proses ratifikasi.

Target efektif 2027

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengungkapkan kalau Airlangga menyoroti IEU-CEPA sebagai game changer alias momentum krusial untuk membuka gerbang perdagangan serta investasi yang jauh lebih luas antara Indonesia dan Uni Eropa (UE).

Oleh karena itu, pemerintah tak henti-hentinya mengawal agar proses penandatanganan dan ratifikasi bisa langsung dilaksanakan segera.

"Penting untuk menjaga momentum positif penyelesaian IEU-CEPA melalui penguatan koordinasi dan diplomasi dengan institusi UE. Percepatan penandatanganan juga perlu diikuti dengan persiapan ratifikasi dan implementasi agar manfaat perjanjian dapat segera dirasakan oleh pelaku usaha kedua pihak," tutur Haryo pada keterangannya, dikutip oleh astakom.com pada Rabu (21/10/2026).

Saat ini, Indonesia dan UE sudah sampai di final chapter persiapan penandatanganan. Perjalanan panjang ini sebelumnya mencatatkan penyelesaian substantif pada September 2025, yang kemudian disusul dengan penuntasan proses legal scrubbing pada Agustus 2026.

Perkembangan makin intensif ketika pada Juni 2026, Komisi Eropa resmi menyodorkan proposal terkait IEU-CEPA kepada Dewan Uni Eropa. Langkah tersebut diambil guna mengantongi lampu hijau atau persetujuan resmi untuk penandatanganan dan penyelesaian perjanjian.

"Percepatan penandatanganan juga perlu diikuti dengan persiapan ratifikasi dan implementasi agar manfaat perjanjian dapat segera dirasakan oleh pelaku usaha kedua pihak," sambung Haryo.

Jalur cepat diplomasi

Di panggung diplomasi luar negeri, Kedutaan Besar RI untuk Belgia, Keharyapatihan Luksemburg, dan Uni Eropa melaporkan bahwa mereka terus melancarkan komunikasi super padat dengan para pemangku kepentingan UE.

Salah satu langkah konkritnya adalah berkoordinasi langsung dengan Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi UE, Maroš Šefčovič, guna memangkas jalur birokrasi dan mempercepat prosedur internal UE. Kedua pihak kini saling bahu-membahu agar proses penandatanganan IEU-CEPA bisa locked in sebelum pengujung tahun 2026.

Nggak cuma berfokus pada IEU-CEPA, pemerintah juga memperkokoh benteng kemitraan lewat perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement) lainnya yang siap rilis dalam waktu dekat. Dua di antaranya adalah Indonesia-Canada CEPA (I-CA CEPA) serta Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).

Pemerintah mewanti-wanti agar rentetan kerja sama ini tak sekadar jadi pajangan akses preferensial semata, melainkan benar-benar bisa dimanfaatkan secara optimal dan membawa cuan nyata bagi para eksportir lokal.

Potensi ekspor jumbo

Berdasarkan hitung-hitungan analisis dampak, IEU-CEPA punya potensi flexing nilai ekspor Indonesia hingga menembus angka US$10,9 miliar. Sementara itu, I-CA CEPA berpotensi menyumbang tambahan ekspor sekitar US$1,6 miliar, dan I-EAEU FTA diperkirakan bakal mendongkrak ekspor bernilai US$2,2 miliar hingga US$2,89 miliar.

Angka-angka besar ini membuktikan kalau perjanjian dagang sejatinya tidak hanya berfokus pada pemangkasan tarif, tetapi juga membuka ruang ekspansi lebar-lebar bagi komoditas yang punya daya saing tinggi dan potensi permintaan masif di negara mitra.

Hasil Export Potential Analysis turut memperlihatkan bahwa pemanfaatan perjanjian ini bisa langsung ditembakkan pada komoditas yang memiliki export gap cukup lebar. Export gap sendiri merupakan selisih antara realisasi nilai ekspor saat ini dengan nilai potensial yang sebenarnya masih sangat mungkin digarap di pasar mitra.

Untuk wilayah UE, Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA), dan Inggris, peluang emas terbuka lebar bagi produk kelapa sawit beserta turunannya, otomotif/kendaraan bermotor, kopi, hingga kakao. Tak ketinggalan, komoditas karet dan produk turunannya, besi dan baja, kayu olahan, serta produk perikanan juga punya porsi pasar yang amat menggiurkan.

Bergeser ke pasar Kanada, komoditas unggulan yang siap meluncur mencakup mineral dan logam, produk kimia, kendaraan, kayu, karet, hingga mesin dan peralatan elektronik. Lewat garansi I-CA CEPA, sektor makanan dan minuman, hasil laut, alas kaki, produk kayu olahan, elektronik, otomotif, serta kerajinan tangan dipastikan makin terdorong pesat.

Sedangkan di kawasan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), potensi ekspor terbesar datang dari sektor produk kimia, produk nabati, kendaraan, mineral dan logam, hingga kayu, kertas, karet, dan plastik. Menggiurkannya lagi, kelapa sawit, alas kaki, udang, karet alam, kopi, dan minyak atsiri bakal memperoleh keistimewaan tarif yang jauh lebih bersahabat melalui I-EAEU FTA.

Ekosistem industri futuristik

Haryo menyatakan kalau selain memacu percepatan IEU-CEPA, forum perjumpaan tersebut juga menggarisbawahi penguatan kemitraan ekonomi Indonesia dan UE pada sektor-sektor futuristik. Sektor strategis tersebut meliputi pengembangan industri semikonduktor, teknologi, hingga ranah ekonomi kreatif.

Kolaborasi lintas negara ini diharapkan mampu memantik datangnya investasi baru sekaligus menaikkan kelas kapasitas industri nasional. Di samping itu, kemitraan ini diplot menjadi katalis utama dalam membangun ekosistem inovasi dan teknologi yang makin solid di tanah air.

"Diperlukan sinergi antara Pemerintah Indonesia dan Perwakilan RI di Brussels untuk mengawal penyelesaian IEU-CEPA sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara anggota UE yang diharapkan dapat mempercepat realisasi manfaat perjanjian serta menjadi fondasi bagi kemitraan ekonomi Indonesia dan UE yang semakin erat dan berkelanjutan," tutup Haryo. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Pemerintah Indonesia lagi full gas mengawal perjanjian dagang IEU-CEPA biar resmi berlaku di 2027. Nggak cuma bikin barang ekspor lokal makin gampang masuk pasar Uni Eropa, kerja sama ini juga berpotensi nyumbang cuan ekspor sampai US$10,9 miliar sekaligus membuka investasi baru di sektor futuristik kayak semikonduktor, teknologi, hingga ekonomi kreatif!

IEU-CEPA IC-CEPA Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement Uni Eropa

Infografis

Terkini