Trump Pakai Chaos Prancis untuk Gempur Demokrat di Pemilu Sela

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:04 WIB
Trump Pakai Chaos Prancis untuk Gempur Demokrat di Pemilu Sela
Trump Pakai Chaos Prancis untuk Gempur Demokrat di Pemilu Sela [White House]

astakom.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyulap kerusuhan di Prancis jadi amunisi kampanye pemilu sela. Situasi di Negeri Menara Eiffel itu dijadikan senjata untuk menyerang Partai Demokrat, demi menjaga kursi Senat di Kansas yang sudah lama dikuasai Partai Republik.

Chaos Prancis jadi amunisi

Melansir dari Reuters, Selasa (20/10/2026), Trump membahas aksi protes soal naiknya biaya hidup di Prancis yang berubah jadi ajang pembakaran dan penjarahan. Topik itu ia bawa saat kampanye di Kansas pada Senin (19/10/2026), untuk mendukung kandidat petahana Republik, Roger Marshall.

Kursi Kansas mulai goyah

Memang, kursi Senator Kansas sudah lama jadi "rumah" Partai Republik. Tapi belakangan, para kandidat Republik mulai goyah dan main bertahan, gara-gara pemilih AS kecewa dengan perang Iran dan harga-harga yang terus melonjak naik.

Di depan pendukungnya, Trump mengajak warga Kansas tetap memilih Marshall dalam pemilu sela 3 November nanti. Ia lalu menyebut demo besar-besaran di Prancis sebagai skenario yang bisa saja menimpa AS kalau Partai Republik gagal menang. Tapi, ia tidak menyodorkan bukti apa pun untuk klaim itu.

Api di Prancis

Dalam beberapa hari terakhir, Prancis dihantam salah satu gelombang kerusuhan terparah dalam beberapa tahun. Protes besar-besaran meledak karena warga marah dengan biaya hidup yang makin mencekik, layanan publik yang semakin memburuk, dan keadaan sekolah yang jauh dari kata layak. Pada akhirnya, terjadi pembakaran dan penjarahan massal.

Di sisi lain, Trump sendiri juga lagi struggling buat bikin barang dan jasa di AS lebih terjangkau.

Di Kansas yang cenderung konservatif, Trump juga melempar retorika anti-imigran dan anti-Muslim. Jurus semacam ini sebelumnya sudah ia pakai untuk menggerakkan kampanye pencapresannya di setidaknya tiga pemilu AS sebelumnya.

"Kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi di negara ini," tutur Trump, berdasarkan pada aksi demo di Prancis.

"Saat Anda melihat menara gereja terbakar dan api berkobar di Prancis, ingatlah bahwa itulah yang ingin dilakukan oleh para Dumocrat radikal terhadap Amerika," ungkapnya, memakai kata "Dumocrat" buat menyerukan Partai Demokrat.

Bertahun tahun lamanya, para aktivis HAM berulang kali mengkritik gaya bicara Trump yang kerap menyasar dan mengolok-olok imigran serta kelompok etnis minoritas. Menurut pendapat kelompok hak sipil, retorika seperti itu bikin perilaku diskriminatif kepada komunitas terpinggirkan jadi dianggap biasa.

Maraton kampanye 30 hari

Persaingan sengit dj pemilu sela tahun ini memperlihatkan beratnya tantangan Partai Republik yang harus melawan aliran  politik yang tidak berpihak sambil berusaha menjaga kontrol atas DPR dan Senat AS.

Demi menjaga dominasi di Kongres, Trump kini menjalani maraton kampanye intensif selama 32 hari. Ia rajin mendatangi wilayah-wilayah yang dulu dimenangkannya dengan gampang di pemilu sebelumnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Intinya, Trump lagi pakai chaos di Prancis buat nakut-nakutin pemilih: "pilih Demokrat = negara kita bakal kebakar juga." Padahal dia sendiri nggak kasih bukti apa pun, dan di saat yang sama harga-harga di AS masih mahal plus orang kecewa soal perang Iran. Jadi ini strategi klasik: alihin perhatian dari masalah di rumah sendiri dengan nunjuk "bahaya" di luar negeri. Pelajarannya, kalau ada politisi yang bawa-bawa kerusuhan negara lain buat narik suara, cek dulu: klaimnya ada datanya nggak, atau cuma main rasa takut? Pemilu sela 3 November bakal jadi ujian apakah jurus ini masih ampuh.

Partai Demokrat Donald Trump Prancis Demo prancis

Infografis

Terkini