Sering Susah Tidur? Cek 4 Kebiasaan yang Sering Nggak Disadari

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 10 September 2026 | 01:00 WIB
Sering Susah Tidur? Cek 4 Kebiasaan yang Sering Nggak Disadari
Sering Susah Tidur? Cek 4 Kebiasaan yang Sering Nggak Disadari (Ilustrasi/Pexels)

astakom.com, Jakarta – Tidur malam yang berantakan ternyata nggak selalu soal begadang atau terlalu lama main HP. Beberapa kebiasaan dan kondisi sehari-hari juga bisa ikut memengaruhi kualitas istirahat.

Hal ini dibahas Tom’s Guide dalam artikelnya, melansir pada Rabuv(09/09/2026). Artikel tersebut mengutip pakar tidur Dr. Lindsay Browning yang menjelaskan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tidur, termasuk kurangnya aktivitas fisik, berkurangnya paparan cahaya, kondisi tubuh saat sakit, hingga perubahan ritme tidur.

Meski pembahasan aslinya berkaitan dengan perubahan musim di negara empat musim, beberapa faktor tersebut tetap bisa diambil sebagai informasi umum. Jadi, bukan soal musim gugurnya, tetapi kebiasaan dan kondisi yang dapat membuat waktu istirahat terasa kurang optimal.

1. Jarang bergerak

Aktivitas fisik ternyata punya kaitan dengan kualitas tidur.

“Aktivitas fisik secara rutin berkaitan dengan tidur yang lebih baik.” jelas Dr. Lindsay Browning, mengutip dari artikel Tom's Guide.

Tom’s Guide menjelaskan bahwa ketika memasuki musim gugur dan musim dingin, sebagian orang cenderung mengurangi aktivitas fisik karena cuaca yang kurang mendukung serta berkurangnya waktu terang untuk beraktivitas di luar ruangan. Kondisi tersebut dapat berdampak pada tidur.

Sejumlah penelitian yang dirujuk Tom’s Guide juga menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik yang tidak mencukupi dan kualitas tidur yang lebih rendah. Sebaliknya, olahraga disebut dapat memberikan sejumlah efek positif terhadap tidur, termasuk membantu meningkatkan kualitas dan durasinya.

Jadi, kalau sehari-hari lebih banyak duduk dan jarang bergerak, kebiasaan ini bisa mulai diperhatikan. Nggak harus langsung olahraga berat, yang penting tubuh tetap aktif.

2. Kurang paparan cahaya

Cahaya juga punya peran dalam mengatur ritme sirkadian, yaitu sistem biologis tubuh yang membantu mengatur siklus tidur dan bangun.

“Cahaya khususnya merupakan isyarat yang kuat bagi ritme sirkadian kita,” jelas Dr. Browning.

Ia menjelaskan, berkurangnya paparan cahaya dapat membuat sebagian orang merasa lebih mengantuk atau lesu pada siang hari. Pada sebagian orang, kondisi tersebut juga berkaitan dengan perubahan suasana hati dan pola tidur.

Konteks artikel Tom’s Guide memang berkaitan dengan berkurangnya paparan cahaya saat musim gugur dan musim dingin. Namun, pentingnya paparan cahaya alami juga tercantum dalam panduan CDC untuk menjaga kebiasaan tidur yang baik. CDC menyarankan mendapatkan cukup cahaya alami, terutama pada awal hari, misalnya dengan berjalan pada pagi atau saat makan siang.

Jadi, kalau aktivitas harian lebih banyak dilakukan di dalam ruangan, sempatkan mendapat paparan cahaya alami pada pagi atau siang hari.

3. Tidur saat sedang sakit

Pilek dan flu juga bisa membuat waktu tidur jadi nggak senyaman biasanya.

“Musim gugur dan musim dingin dapat dikaitkan dengan meningkatnya pilek dan flu, yang keduanya dapat mengganggu tidur karena hidung tersumbat, batuk, atau merasa tidak enak badan,” ujar Dr. Browning.

Konteks musim dalam pernyataan tersebut memang berasal dari kondisi negara empat musim. Namun, bagian mengenai gejalanya tetap relevan secara umum. Tom’s Guide menjelaskan bahwa hidung tersumbat, batuk, dan rasa tidak enak badan dapat membuat tidur terganggu. Saat berbaring, lendir tidak mengalir dengan cara yang sama seperti ketika tubuh berada dalam posisi tegak sehingga dapat mengganggu pernapasan atau memicu batuk akibat post-nasal drip.

Karena itu, ketika tubuh sedang melawan infeksi, tidur yang terganggu bisa saja berkaitan dengan gejala penyakit yang sedang dialami, bukan semata-mata karena pola tidur yang berubah.

4. Jadwal tidur berubah-ubah

Tom’s Guide juga membahas perubahan jam akibat Daylight Saving Time sebagai salah satu faktor yang dapat mengganggu ritme tidur. Faktor ini memang tidak berlaku dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia seperti di Amerika Serikat.

Namun, prinsip mengenai menjaga jadwal tidur tetap konsisten tetap relevan. CDC merekomendasikan tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, termasuk pada akhir pekan.

Jadi, kebiasaan tidur terlalu malam pada satu hari lalu bangun jauh lebih siang di hari berikutnya sebaiknya nggak dijadikan rutinitas.

Jangan abaikan tidur yang terus terganggu

Nggak semua gangguan tidur berarti seseorang mengalami masalah kesehatan tertentu,

“Jika kamu mengalami kesulitan tidur yang cukup signifikan atau melihat perubahan suasana hati yang terus-menerus hingga memengaruhi kemampuanmu untuk beraktivitas, silakan berkonsultasi dengan dokter.” tegas Dr. Browning.

Untuk kebiasaan sehari-hari, beberapa langkah sederhana bisa dicoba, seperti menjaga jadwal tidur tetap konsisten, tetap aktif pada siang hari, dan mendapatkan cukup cahaya alami. CDC juga merekomendasikan jadwal tidur yang teratur, aktivitas fisik yang cukup, serta paparan cahaya alami sebagai bagian dari kebiasaan tidur yang baik. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Tidur berantakan nggak selalu karena kamu “kurang ngantuk”. Coba cek lagi rutinitas harian: sudah cukup bergerak, kena cahaya alami, dan punya jadwal tidur yang konsisten belum? Hal-hal kecil ini ternyata bisa ikut menentukan kualitas tidurmu.

Tips dan kiat-kiat Tips Tips Kesehatan Kebiasaan Tidur tips tidur nyenyak

Infografis

Terkini