Lagi Capek Kejar Produktivitas? 'Slow September' Ajak Hidup Lebih Santai
astakom.com, Jakarta – September biasanya identik dengan kembali ke rutinitas dan mengejar target baru. Namun, ada cara lain untuk menjalani bulan ini, yakni memperlambat ritme lewat gagasan “slow September” yang dibahas The Guardian.
Melansir dari The Guardian pada Selasa (08/09/2026), “slow September” mengajak orang mengurangi dorongan untuk terus melakukan self-optimisation atau berusaha menjadi versi diri yang dianggap lebih baik dan produktif setiap saat. September dinilai kerap terasa seperti momen untuk kembali mengejar kesibukan, mirip dengan semangat membuat perubahan pada awal tahun.
The Guardian menyoroti tekanan untuk terus mengoptimalkan diri dapat berujung pada kekecewaan dan burnout. Sebagai alternatif, artikel tersebut menawarkan cara menjalani keseharian dengan ritme yang lebih pelan dan memberi ruang untuk menikmati hidup.
Hidup lebih pelan
Heejung Chung, profesor pekerjaan dan ketenagakerjaan di King’s College London, menilai perkembangan digital ikut membuat berbagai aktivitas sehari-hari semakin intens.
“Di era digitalisasi, mulai dari pekerjaan hingga bersosialisasi, kita melihat semuanya menjadi semakin intens,” ujar Chung, mengutip dari The Guardian.
Menurut Chung, kebiasaan melakukan banyak hal sekaligus juga dapat membentuk standar baru yang kemudian dianggap normal oleh orang lain. Ia menilai pola tersebut perlu diubah karena menciptakan ekspektasi kolektif bahwa seseorang harus mampu melakukan semuanya.
Salah satu cara yang ditawarkan adalah memberi ruang untuk percakapan kecil dengan orang lain. Gillian Sandstrom, yang meneliti manfaat interaksi sosial sederhana, menyebut obrolan singkat dengan orang yang tidak dikenal dapat membantu seseorang memperlambat aktivitas dan lebih memperhatikan lingkungan sekitar.
“Ketika kita sibuk, kita merasa tidak punya waktu untuk orang lain. Namun, jika kita tidak pernah menyediakan waktu itu, kita tidak akan pernah berhenti merasa sibuk,” kata Sandstrom, mengutip dari The Guardian.
Jeda tanpa target
Konsep “slow September” juga dapat diterapkan dengan aktivitas yang tidak memiliki target tertentu. The Guardian mencontohkan kegiatan sederhana seperti menggambar, bermain bola bersama anak, atau mendengarkan musik.
Sarah Hodges dari Headspace menyarankan seseorang melakukan aktivitas yang tujuannya hanya untuk menikmati kegiatan tersebut, bukan untuk mencapai hasil tertentu. Cara ini disebut dapat memberi jarak dari kebiasaan yang terus mengukur waktu berdasarkan pencapaian.
Dalam aktivitas kerja, jeda singkat juga menjadi bagian yang disoroti. Mark Williams, pendiri Oxford Mindfulness Foundation, menyarankan mengambil jeda setelah menyelesaikan suatu pekerjaan sebelum langsung berpindah ke tugas berikutnya.
“Sebagian besar dari kita berjalan sambil terus memikirkan masa depan, secara mental terburu-buru menuju hal berikutnya,” ujar Williams, mengutip dari The Guardian.
Williams menyarankan mengambil satu menit untuk berhenti sejenak, misalnya dengan menarik napas perlahan atau berjalan untuk mengisi kembali botol minum.
Nggak harus sibuk
The Guardian juga menyarankan agar waktu bersama teman tidak selalu dibuat menjadi agenda besar. Bertemu teman bisa dilakukan dengan aktivitas sederhana seperti berjalan bersama atau makan tanpa perlu membuat acara yang terlalu rumit.
Gagasan tersebut juga bisa diterapkan dalam keseharian di Indonesia. Misalnya, mengambil jeda dari layar saat makan, berjalan tanpa terus mengecek ponsel, mengobrol langsung dengan teman, atau menikmati hobi tanpa merasa harus mengubahnya menjadi sesuatu yang produktif.
Selain itu, mindfulness dapat disisipkan ke dalam aktivitas yang memang sudah dilakukan. Saat makan, seseorang bisa lebih memperhatikan pengalaman makan. Ketika berjalan, perhatian dapat dialihkan sejenak dari pikiran yang memenuhi kepala ke hal-hal di sekitar. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Nggak semua waktu harus diisi target. Sesekali melambat bukan berarti berhenti beraktivitas, tetapi memberi ruang untuk menikmati hal-hal sederhana tanpa terus merasa harus menghasilkan sesuatu.







