Kemarau Bikin Hidung dan Tenggorokan Rewel? Debu Bisa Jadi Pemicu
astakom.com, Jakarta – Musim kemarau bukan cuma membuat cuaca lebih panas dan kering. Debu serta partikulat di udara juga perlu diperhatikan karena paparan dalam kadar tertentu dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kualitas udara cenderung menurun saat musim kemarau ketika partikulat dari debu dan asap meningkat. Kondisi ini membuat paparan partikel perlu diantisipasi, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Melansir dari laman World Health Organization (WHO) pada Rabu, (09/09/2026) yang menyebut paparan partikulat dalam kadar tinggi dapat menurunkan fungsi paru, memicu infeksi saluran pernapasan, dan memperburuk asma.
Kenapa debu perlu diwaspadai?
Partikulat atau particulate matter merupakan partikel kecil yang melayang di udara dan dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk debu. Ketika jumlahnya meningkat, sebagian partikel dapat terhirup dan masuk ke sistem pernapasan.
Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada jenis dan konsentrasi polutan serta kondisi kesehatan masing-masing. WHO juga menyebut anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Karena itu, ketika hidung terasa lebih sensitif, tenggorokan tidak nyaman, atau muncul keluhan pernapasan setelah berada di lingkungan berdebu, kondisi udara sekitar patut diperhatikan.
Kemarau dan El Nino
Kemarau yang lebih kering dapat membuat persoalan kualitas udara semakin perlu diperhatikan. Dalam konteks iklim 2026, El Nino juga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena dapat berkaitan dengan kondisi kemarau yang lebih kering di sejumlah wilayah.
Namun, El Nino bukan penyebab langsung debu atau gangguan pernapasan. Kondisi yang lebih kering dapat menjadi bagian dari situasi lingkungan yang membuat paparan debu dan partikulat lebih perlu diwaspadai.
Karena itu, informasi cuaca dan kualitas udara di wilayah masing-masing penting diperhatikan sebelum beraktivitas di luar ruangan.
Bagaimana dengan abu vulkanik?
Selain debu lingkungan, masyarakat di wilayah terdampak aktivitas gunung api perlu membedakan debu biasa dengan abu vulkanik.
Abu vulkanik berasal dari material gunung api yang dilepaskan saat erupsi. Jika wilayah terdampak sebaran abu, masyarakat sebaiknya mengikuti rekomendasi Badan Geologi, pemerintah daerah, dan otoritas kesehatan setempat.
Keluhan pernapasan yang semakin berat, termasuk sesak napas, juga sebaiknya tidak diabaikan dan dapat memerlukan pemeriksaan medis.
Kurangi paparan debu
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan ketika lingkungan sedang berdebu. Kurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk atau terdapat imbauan resmi, serta gunakan masker ketika harus berada di lingkungan berdebu.
Sebelum berolahraga atau melakukan aktivitas luar ruangan dalam waktu lama, perhatikan kondisi kualitas udara. Jika udara sedang kurang baik, aktivitas dapat dialihkan ke dalam ruangan.
Bagi orang dengan asma atau masalah pernapasan lainnya, mengurangi paparan polusi menjadi semakin penting karena partikulat dapat memperburuk kondisi tersebut.
Jangan tunggu napas terganggu
Kemarau tidak otomatis menyebabkan gangguan pernapasan. Namun, kondisi yang lebih kering dan meningkatnya partikulat membuat kualitas udara perlu menjadi perhatian.
Jangan hanya fokus pada cuaca panas. Perhatikan kondisi udara, batasi paparan debu jika diperlukan, dan ikuti informasi resmi ketika suatu wilayah mengalami penurunan kualitas udara atau terdampak abu vulkanik.
Jika muncul sesak napas, batuk yang menetap, atau keluhan pernapasan semakin berat, terutama pada orang dengan penyakit pernapasan, segera cari pertolongan medis. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Kemarau bukan cuma soal gerah dan gampang haus. Udara yang lebih kering juga bisa datang bersama paparan debu dan partikulat yang membuat saluran napas lebih sensitif. Jadi, sebelum keluar rumah, cek kondisi udara, kurangi paparan saat lingkungan berdebu, dan jangan abaikan keluhan pernapasan yang makin berat.









