Tok! Hasil Voting Muktamar NU Sepakat Pemilihan Ketum PBNU Pakai Mekanisme AHWA
astakom.com, Jakarta – Sidang Pleno III Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, resmi men-drop pola lama dan mengesahkan mekanisme baru untuk menentukan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031. Langkah ini diambil lewat pemungutan suara (voting) setelah jalur musyawarah mufakat sempat mengalami deadlock.
Hasil voting tipis-tipis? Big no, opsi berubah menang telak!
Hasil voting yang disahkan tepat pukul 00.38 WIB pada Minggu (30/8/2026) menunjukkan dominasi mutlak dari kubu pembaharuan. Dari total 552 suara yang masuk, opsi B atau "Berubah" sukses mengantongi 401 suara.
Merujuk laman resmi Muktamar NU, angka ini melesat jauh meninggalkan opsi A atau "Tetap" yang cuma dapat 150 suara, sedangkan satu suara dinyatakan tidak sah. Selisih yang sangat mencolok ini membuat forum muktamirin secara sah mengetok palu untuk memakai sistem baru dalam menentukan nahkoda PBNU mendatang.
Drama Sidang Pleno dini hari
Jalannya sidang hingga larut malam ini dipimpin langsung oleh Ketua Steering Committee Muktamar ke-35 NU, Prof. KH M. Nuh. Proses penentuan kebijakan ini sejatinya merupakan babak akhir dari dinamika alot yang sudah memanas sejak Sidang Komisi Organisasi pada Sabtu (29/08/2026) siang. Pembahasan sempat tertahan karena para peserta muktamar terbelah ketat dalam dua kubu.
Bye-bye sistem lama, halo format pengusulan baru!
Dengan diresmikannya opsi "Berubah", proses pemilihan Ketum PBNU periode mendatang dipastikan tidak akan lagi memakai mekanisme one man one vote secara langsung layaknya gelaran muktamar terdahulu.
Sebagai gantinya, setiap Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) bakal mengusulkan lima nama bakal calon Ketua Umum PBNU. Dari jajaran nama yang terkumpul, satu nama final akan dipilih dan ditetapkan secara langsung sebagai Ketua Umum PBNU oleh Rais 'Aam terpilih bersama jajaran anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
AHWA perkuat peran, prinsip syura jadi main character
Format anyar ini otomatis memberi porsi kewenangan yang amat krusial kepada AHWA—badan khusus bentukan muktamar yang memegang mandat sebagai otoritas pengambil keputusan tertinggi. Pendukung opsi ini menilai bahwa penjaringan usulan dari PCNU/PWNU/PCINU yang kemudian disaring oleh AHWA jauh lebih murni mencerminkan prinsip syura serta menjaga kualitas dan kepayakan calon pemimpin, ketimbang sekadar mengandalkan adu mekanik jumlah suara murni.
Ketegangan persidangan sempat memaksa jalannya acara beberapa kali diskors sebelum akhirnya voting rampung jelang dini hari. Berdasarkan timeline panitia, Muktamar ke-35 NU akan mulai memasuki penutupan pada Ahad (30/8/2026). Pada momen puncak tersebut, Ketum PBNU terpilih masa khidmah 2026-2031 dijadwalkan menyampaikan pidato pertamanya, disusul sambutan penguat dari Rais 'Aam PBNU terpilih.
Kini, next level perhatian publik NU bakal tertuju pada proses pengusulan lima nama calon oleh tiap PCNU, PWNU, dan PCINU, sebelum akhirnya pengumuman resmi Ketum PBNU definitif dirilis oleh AHWA dan Rais 'Aam terpilih. (aNs)
Gen Z Takeaway
Muktamar Ke-35 NU resmi plot twist usai opsi "Berubah" menang telak lewat voting 401 suara dibanding 150 suara untuk "Tetap", otomatis bikin sistem one man one vote resmi di-drop. Ke depannya, tiap cabang (PCNU, PWNU, PCINU) bakal mengusulkan lima nama calon yang kemudian disaring langsung oleh AHWA dan Rais 'Aam terpilih untuk menetapkan Ketum PBNU periode 2026-2031, bikin mekanisme pemilihan bernuansa syura ini makin auto valid dan punya aura kepemimpinan yang makin solid!









