Selat Hormuz Ditutup, AS-Iran Saling Gempur!

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 12 Juli 2026 | 20:30 WIB
Selat Hormuz Ditutup, AS-Iran Saling Gempur!
Selat Hormuz Ditutup, AS-Iran Saling Gempur! [ GoogleMap]

astakom.com, Jakarta – Situasi di Timur Tengah mendadak chaos. Amerika Serikat (AS) baru saja meluncurkan gelombang serangan udara baru. Langkah ini diambil setelah pasukan Iran nekat menyerang kapal komersial yang sedang melintas di Selat Hormuz.

Gak tinggal diam, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung ambil tindakan ekstrem dengan menutup total jalur perairan vital tersebut sampai batas waktu yang belum ditentukan. Gak cuma itu, Iran juga langsung balas dengan menggempur pangkalan militer AS dan sekutunya di kawasan tersebut.

IRGC mengklaim telah berhasil menyerang pangkalan militer AS yang berada di Yordania. Di waktu yang sama, negara-negara tetangga seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain juga sibuk merespons serangan rudal dan drone yang ditembakkan dari Iran.

Selat Hormuz lumpuh

Eskalasi ini memuncak setelah awal pekan lalu ada 3 kapal tanker komersial yang diserang, hingga memicu aksi saling balas tembakan yang bikin AS dan Iran real bersitegang.

Sebelumnya pada hari Minggu, media pemerintah Iran melaporkan kalau Selat Hormuz resmi ditutup. Keputusan ini diambil setelah mereka menembakkan rudal jelajah angkatan laut ke arah kapal yang dinilai tidak patuh karena mencoba berlayar di rute yang tidak disetujui.

Pihak Garda Nasional menyatakan kalau kapal tersebut "terkena tembakan peringatan dan berhenti" setelah mengabaikan instruksi berulang kali. Mereka juga memberikan warning keras bahwa setiap "agresi" dari pihak AS akibat penutupan selat ini bakal direspons dengan cara yang jauh lebih kejam, termasuk menargetkan pangkalan-pangkalan baru.

Ketua Parlemen Iran yang juga bertindak sebagai kepala negosiator dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf, menumpahkan kekesalannya lewat sebuah platform X. Dia menegaskan bahwa "era kesepakatan sepihak telah BERAKHIR".

"Kami sudah bilang: tepati janji atau tanggung akibatnya. Kenyataan sedang menghampiri." lanjut Ghalibaf dalam unggahannya dikutip oleh astakom pada Minggu, (12/07/2026).

AS balas dendam

Di sisi lain, Komando Pusat AS (Centcom) yang melancarkan serangan putaran ketiga minggu ini menyatakan bahwa IRGC telah "secara terang-terangan menyerang" kapal berbendera Siprus, MV GFS Galaxy, di Selat Hormuz.

Menurut laporan Centcom, kapal tersebut "tidak dapat melanjutkan perjalanannya" karena ruang mesinnya mengalami kerusakan parah. 1 orang kru kapal juga dilaporkan hilang akibat insiden ini.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menambahkan kalau mereka mendapat informasi dari otoritas militer kalau seluruh awak kapal terpaksa stay alive dengan meninggalkan kapal dan menyelamatkan diri menggunakan sekoci.

"Iran diberi kesempatan lagi untuk menunjukkan kepatuhan terhadap Nota Kesepahaman setelah dimintai pertanggungjawaban atas serangan sebelumnya terhadap kapal-kapal komersial, tetapi sekali lagi gagal," demikian tulisan Centcom pada sebuah pernyataan yang disebar pada platform X.

Sebagai balasan, AS gak tanggung-tanggung. Serangan mereka dilaporkan menghantam 140 target militer di Iran, mulai dari lokasi peluncuran rudal dan drone, jaringan komunikasi, hingga pos pengawasan pantai.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, ikut membagikan pernyataan tersebut lewat akun X pribadinya dengan menulis kalimat tajam: "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka menanggung akibatnya." tegasnya.

Pemicu utama konflik

Pihak IRGC sendiri membenarkan kalau militer AS telah mengincar "sejumlah pangkalan pesisir dan menara telekomunikasi di pantai selatan". Namun, Iran langsung memulai "fase pertama" pembalasan mereka dengan menyerang Pangkalan Udara Pangeran Hassan di Yordania. Mereka mengklaim berhasil menghancurkan pusat komando serta hanggar drone canggih MQ9 di sana.

Ketegangan ini bermula awal pekan lalu ketika 3 kapal tanker diserang saat mencoba melewati rute yang direkomendasikan AS di perairan Oman. Iran bersikeras bahwa satu-satunya rute yang aman adalah jalur terpisah yang melewati wilayah perairan mereka sendiri.

Aksi saling serang ini sempat menewaskan 17 orang dan melukai 115 orang dari pihak Iran. Situasi yang makin no counter ini membuat Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan Iran menandakan gencatan senjata telah berakhir. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru menuduh pihak AS-lah yang melanggar kesepakatan.

Meski begitu, Trump menyebutkan kalau proses diplomasi akan tetap berjalan melalui bantuan para mediator. Berdasarkan laporan media AS, pejabat Iran sempat membisiki pihak Amerika bahwa serangan terhadap kapal tanker tersebut sebenarnya adalah sebuah kesalahan teknis dari kelompok internal yang bergerak di luar kendali pemerintah.

Kini, pejabat Amerika lewat perantara mediator menuntut agar Iran mau membuat pernyataan terbuka bahwa Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan internasional yang super vital tetap dibuka dan berjanji stop menembaki kapal komersial.

Ancaman pemimpin baru

Ketegangan yang memuncak ini merupakan buntut dari seruan balas dendam yang disuarakan oleh Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Ini adalah pidato publik pertamanya sejak naik takhta.

Ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara pada 28 Februari lalu, yang menandai hari pertama pecahnya perang AS-Israel melawan Iran. Jenazahnya baru saja dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada hari Jumat.

Saat membacakan pidato di televisi pemerintah, sang Ayatollah baru menegaskan bahwa balas dendam adalah "kehendak bangsa".

"Kami berjanji untuk membalaskan darah pemimpin yang gugur dan semua martir dari dua perang ini dari para pembunuh yang keji dan tercela," tegasnya.

"Masalah ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya maupun pejabat lainnya. Baik kita hadir atau tidak, hal itu akan tetap terjadi." jelasnya.

Saat prosesi pemakaman berlangsung, banyak warga Iran yang membawa poster berisi ancaman pembunuhan terhadap Presiden AS Donald Trump. Menanggapi hal itu, Trump langsung mengeluarkan ancaman balik yang gak kalah mengerikan: AS bakal "menghancurkan dan memusnahkan semua wilayah" Iran jika rencana itu benar-benar dilakukan.

Wall Street Journal belum lama ini melaporkan bahwa Israel sempat membagikan intelijen ke Washington soal rencana pembunuhan Trump oleh Iran, Trump sendiri justru membantahnya. Dalam wawancara dengan New York Post, Trump berkelakar bahwa dirinya memang sudah lama menjadi “nomor 1 dalam daftar target pembunuhan Iran untuk waktu yang lama.” (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Jalur perdagangan global di Selat Hormuz resmi lumpuh total setelah Iran nekat menutupnya dan membalas serangan udara AS. Ketegangan ini makin parah karena isu balas dendam atas kematian mantan Pemimpin Tertinggi Iran, yang bikin Presiden Trump sampai keluarin ancaman perang total. Situasi di Timur Tengah sekarang bener-bener no counter dan di ambang perang besar.

selat hormuz AS Serang Iran eskalasi timur tengah serangan Amerika Serikat

Infografis

Terkini