Menlu Sugiono di JGF: Multilateralisme Tak Bisa Berjalan Autopilot
astakom.com, Jakarta – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menekankan kalau Indonesia bakal tetep memperkokoh multilateralisme agar dapat bekerja di tengah dunia yang makin terpecah dan penuh atas ketidakpastian.
Menlu Sugiono menyampaikan hal tersebut pada sesi dialog pidato kunci dalam Jakarta Geopolitical Forum (JGF) yang ke-10 yang di inisiasi oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI.
Arti Bebas Aktif
Menlu Sugiono pada paparan pidatonya menegaskan kalau politik luar negeri yang bersifat bebas aktif bukan cuma sesuai, akan tetapi dibutuhkan terhadap fluktuasi politik saat ini. Ditengah dinamika global yang terpecah belah dan dipenuhi tensi persaingan kekuatan besar, prinsip bebas aktif menjadi fondasi strategis bagi Indonesia.
Pendekatan ini memungkinkan Tanah Air merumuskan kebijakan yang independen, sembari terus mengambil, peran proaktif dalam menjaga ketertiban,stabilitas serta perdamaian di seluruh dunia.
"Bebas aktif bukan berarti pasif atau netral. Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya,” tutur Menlu Sugiono dikutip oleh astakom.com pada Jumat (10/07/2026).
Reformasi tata kelola
Lebih lanjut, Menlu menegaskan kalau rapuhnya sistem multilateral saat ini bukan alasan untuk berbalik arah. Menurutnya, sistem tersebut justru perlu dibenahi agar menjadi lebih representatif, inklusif, adaptif, serta responsif dalam menghadapi tantangan zaman.
"Tata kelola global yang dibangun pada 1945 perlu terus diperbarui agar tetap relevan dalam menghadapi realitas dunia tahun 2045,” ucap Menlu Sugiono.
Guna mewujudkan hal tersebut, Indonesia berkomitmen menjaga sekaligus membenahi sistem multilateral. Langkah ini ditempuh dengan konsisten mendorong reformasi tata kelola global, termasuk mendesak Dewan Keamanan PBB agar menjadi lembaga yang lebih transparan, demokratis, efektif, dan akuntabel. Keberpihakan ini pun akan terus disuarakan Jakarta di berbagai forum internasional.
"Partisipasi di BRICS, peran aktif di G20, kepemimpinan di ASEAN, keterlibatan di D-8 dan dengan Global South, serta proses aksesi menuju OECD, semuanya merupakan bagian dari prinsip yang sama yaitu memperluas ruang strategis diplomasi Indonesia,” ucap Menlu Sugiono.
Kunci ketahanan nasional
Menlu Sugiono turut menegaskan kalau efektivitas diplomasi di kancah internasional tidak dapat dipisahkan dari kokohnya ketahanan nasional di dalam negeri.
"Ketahanan pangan adalah otonomi strategis. Ketahanan energi adalah keamanan nasional. Sumber daya manusia adalah kapasitas geopolitik. Dan teknologi bukan hanya inovasi, tetapi juga kekuatan,” papar Menlu Sugiono.
Mengakhiri pernyataannya, Menlu Sugiono kembali menegaskan komitmen bulat Indonesia untuk tetap berada di garis depan dalam mengawal dan mempertahankan sistem multilateralisme.
"Multilateralisme masih dapat bekerja, tapi tidak bisa berjalan secara autopilot.” tutup Menlu Sugiono.
Tentang JGF
Sebagai informasi, JGF merupakan agenda tahunan yang dibuat oleh Lemhannas RI dan dirancang khusus untuk membedah berbagai isu geopolitik global. Forum strategis ini mempertemukan lintas sektor, mulai dari kalangan pemerintah, militer, akademisi, dan think tank, hingga perwakilan organisasi internasional, pelaku swasta, serta media. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Di tengah dunia yang makin kubu-kubuan, Indonesia milih buat gak ikut-ikutan nge-geng, tapi fokus jadi bridge-builder global. Intinya, sistem dunia sekarang tuh butuh di-update total biar gak autopilot, dan itu semua harus dimulai dari memperkuat ketahanan dalam negeri kita sendiri mulai dari pangan, energi, sampai kualitas SDM-nya.









