Kemenkes Mulai Skrining dan Cek Kesehatan Gratis Massal di 532 Lapas
astakom.com, Jakarta – Pemerintah mulai menjalankan skrining tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 532 lembaga pemasyarakatan (lapas) di seluruh Indonesia. Program ini menyasar lebih dari 321 ribu warga binaan dan petugas sebagai langkah memperkuat deteksi dini penyakit sekaligus menekan penyebaran TB di lingkungan dengan risiko penularan tinggi.
Langkah tersebut diambil karena angka kasus TB di lingkungan pemasyarakatan masih berada di atas rata-rata nasional. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi TB di lapas mencapai 0,54 persen, sedangkan prevalensi nasional berada di kisaran 0,3 persen. Kondisi hunian yang padat membuat risiko penularan penyakit menjadi lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum.
Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan, peluncuran program dilakukan di Lapas Kelas IIA Ngaseman, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Program yang menjadi bagian dari Quick Win Presiden RI ini akan dilaksanakan secara bertahap hingga akhir 2026 di 532 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang tersebar di 34 provinsi.
Tingginya kasus TB di lapas jadi fokus pemerintah
Melansir Kementerian Kesehatan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan seluruh masyarakat Indonesia berhak memperoleh layanan kesehatan, termasuk warga binaan pemasyarakatan.
Menurutnya, Presiden telah meminta agar program pemeriksaan kesehatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
"Pak Presiden berpesan agar program ini dilakukan kepada seluruh masyarakat, siapa pun mereka, termasuk 272 ribu warga binaan di lebih dari 532 lapas dan rutan di seluruh Indonesia," ujar Budi Gunadi Sadikin melansir dari keterangan resmi Kemenkes pada Rabu (01/07/2026).
Ia menjelaskan, skrining menjadi langkah penting karena TB merupakan penyakit menular yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Dengan menemukan kasus lebih awal, pasien dapat segera menjalani pengobatan sehingga peluang sembuh lebih tinggi sekaligus mengurangi risiko penularan.
"TB ini menular dan jangan dianggap remeh. Tapi pengobatannya ada. Kalau ketahuan sejak awal, diobati pasti sembuh dan tidak menularkan lagi. Inilah mengapa skrining TB kita lakukan di lapas agar angka kematian akibat TB bisa menurun tajam," kata Budi.
Selain TB, pemerintah juga memanfaatkan program tersebut untuk mendeteksi penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi melalui pemeriksaan kesehatan rutin.
Sasar 321 ribu peserta hingga akhir 2026
Melansir penjelasan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni, program nasional ini menargetkan 321.449 peserta, terdiri atas 272.573 warga binaan dan 48.876 petugas pemasyarakatan di 532 UPT Pemasyarakatan.
Pelaksanaan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026. Sebagai tahap awal, kegiatan di Nusakambangan berlangsung pada 29 Juni hingga 1 Juli 2026 dengan target 5.768 peserta, yang terdiri atas 4.842 warga binaan dan 926 petugas.
Paket layanan Cek Kesehatan Gratis meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, tes cepat HIV (Rapid Diagnostic Test), skrining TB menggunakan foto rontgen dada, hingga pemeriksaan dahak bagi peserta yang mengalami gejala agar dapat segera memperoleh penanganan lanjutan.
Kemenkes dan kemenimipas perkuat layanan kesehatan di lapas
Melansir Kementerian Kesehatan, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyatakan pihaknya siap mendukung penuh pelaksanaan deteksi dini penyakit di seluruh lapas dan rutan. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting untuk mendukung target eliminasi TB di Indonesia pada 2030.
"Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Oleh karena itu, diperlukan langkah luar biasa, termasuk deteksi dini di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki risiko penularan tinggi," ujar Agus Andrianto.
Untuk memperkuat layanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan, Kementerian Kesehatan juga menyerahkan bantuan alat kesehatan senilai Rp2,2 miliar kepada Rumah Sakit Umum Pemasyarakatan Nusakambangan. Bantuan tersebut berasal dari kolaborasi RS Fatmawati, RS Kanker Dharmais, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), serta dukungan mitra swasta.
Agus mengatakan sebagian alat kesehatan telah diterima dan diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan medis bagi warga binaan selama menjalani masa pidana.
"Sebagian alat kesehatan sudah kami terima, dan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga binaan," ujarnya. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Lapas bukan hanya tempat menjalani masa hukuman, tetapi juga lingkungan yang rentan terhadap penyebaran penyakit menular karena kepadatan penghuninya. Melalui skrining TB dan Cek Kesehatan Gratis, pemerintah berupaya menemukan kasus lebih cepat, memastikan pengobatan dilakukan sejak dini, serta mengurangi risiko penularan ketika warga binaan kembali ke tengah masyarakat.








