Riset Halal BRIN-MUI: Genjot Industri Nasional
astakom.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memperkokoh pengembangan riset produk halal berbasis sains dan teknologi. Kolaborasi strategis ini dibentuk guna memperluas implementasi hasil riset dalam mendukung ekosistem industri halal domestik, sekaligus memacu kemajuan bangsa lewat jalur ilmu pengetahuan dan inovasi.
Komitmen itu ditegaskan dalam Silaturahmi Nasional Ukhuwah Islamiyah MUI yang berlangsung di Gedung B.J. Habibie BRIN, Jakarta, Senin (29/06/2026). Pertemuan ini juga menjadi bagian dari inisiatif BRIN Goes to Society, sebuah program yang menjembatani para peneliti dengan berbagai lapisan masyarakat guna memperluas implementasi hasil riset dan inovasi.
Bukan cuma sertifikat
Kepala BRIN, Arif Satria menegaskan kalau riset halal menjadi salah satu sektor strategis yang wajib terus diperkokoh. Ia menilai, pembangunan ekosistem halal nasional tidak boleh berhenti pada aspek sertifikasi semata, melainkan harus ditopang kuat oleh penguasaan sains dan teknologi.
"Riset halal membutuhkan teknologi, mulai dari metode deteksi cepat terhadap bahan yang tidak memenuhi ketentuan halal hingga pengembangan material alternatif yang aman digunakan. Halal juga harus berjalan beriringan dengan konsep halalan thayyiban, sehingga tidak hanya memenuhi aspek kehalalan, tetapi juga keamanan, mutu, dan nilai gizi produk," ucap Arif dikutip oleh astakom pada Selasa, (30/6/2026).
Ia menambahkan, pertumbuhan pusat sains halal di berbagai perguruan tinggi saat ini menunjukkan tren yang positif. Walaupun begitu, Indonesia dinilai masih harus mendongkrak kapasitas riset domestik agar mampu tampil sebagai salah satu pemain kunci di panggung industri halal global.
Hilirisasi nyata, bukan kertas
Di sisi lain, Arif menggarisbawahi kalau progress suatu bangsa berakar kuat pada ketangguhan riset, inovasi, dan kewirausahaan. Ia memandang hasil penelitian tidak boleh sekadar berakhir sebagai lembaran publikasi ilmiah, melainkan harus dikonversi menjadi dampak nyata bagi masyarakat, sektor industri, serta pembangunan nasional.
"Banyak riset yang berhenti sebagai informasi dan publikasi. Yang kita perlukan adalah riset yang memiliki dampak terhadap kemajuan, memberikan kemaslahatan, dan menghadirkan perubahan bagi masyarakat," jelasnya.
Menurutnya, BRIN konsisten mengawal proses hilirisasi hasil riset agar dampaknya langsung dirasakan masyarakat dan dunia industri. Berbagai program inovasi strategis juga terus dikembangkan, yang mencakup teknologi material penghemat energi, manajemen sampah, teknologi kedirgantaraan, serta agenda peluncuran satelit nasional pada 2027 mendatang.
Ukhuwah jadi aksi
Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI, Zaitun Rasmin menyampaikan kalau kolaborasi strategis bersama BRIN menjadi momentum penting untuk menghadirkan kemanfaatan sains bagi masyarakat luas. Menurutnya, ukhuwah harus bertransformasi dari sekadar simbol keharmonisan menjadi kerja kolaboratif yang produktif demi mendorong kemajuan bangsa.
"Melalui kolaborasi dengan BRIN, kami ingin memperkuat pengembangan sains dan teknologi di tengah umat, termasuk melalui BRIN Goes to Society dan penguatan riset halal. Ukhuwah bukan hanya soal kebersamaan, tetapi juga harus menjadi jalan menuju kemajuan," paparnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla menggarisbawahi kalau penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prasyarat mutlak bagi umat dan bangsa untuk meraih martabat serta daya saing yang tinggi. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI tersebut menilai, persatuan tidak boleh sekadar menjadi jargon, melainkan harus dibuktikan lewat kerja nyata yang melahirkan kemajuan.
"Perbedaan adalah rahmat. Perbedaan bukan untuk diperdebatkan, tetapi menjadi kekuatan untuk hidup berdampingan. Namun, ukhuwah tidak cukup hanya melahirkan kedamaian, melainkan juga harus membawa kita menuju kemajuan," ucap Jusuf Kalla.
Sains di balik label
Lebih lanjut ia memaparkan kalau riset memegang peranan krusial dalam menyokong ekspansi industri halal. Khususnya, dalam memberikan kepastian hukum dan kualitas kalau suatu produk benar-benar memenuhi standar halal melalui pengujian dengan pendekatan ilmiah.
"Yang memerlukan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan yang tidak diperbolehkan, seperti alkohol atau unsur tertentu lainnya. Di situlah ilmu pengetahuan dan riset menjadi sangat penting," tuturnya.
Melalui kolaborasi antara BRIN dan MUI ini, akselerasi riset halal diharapkan mampu memperkokoh ekosistem inovasi nasional. Dengan demikian, berbagai output penelitian tidak lagi sekadar menjadi temuan di atas kertas, melainkan menjadi sebagai solusi nyata yang memperkuat daya saing industri halal domestik sekaligus menopang pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Bro-Sist, produk halal zaman sekarang tuh enggak cuma soal tempelan logo di kemasan doang, tapi udah next level pake riset sains dan teknologi canggih! Lewat kolaborasi BRIN-MUI ini, riset akademis yang tadinya cuma berakhir jadi tumpukan kertas laporan, bakal disulap jadi inovasi nyata—mulai dari deteksi cepat kandungan produk sampai teknologi ramah lingkungan. Buat kita yang peduli sama lifestyle yang bersih, aman, dan berdampak, langkah ini jadi bukti kalau industri lokal kita siap scale up dan makin kompetitif di pasar global!







