Dorong Industri Halal, BRIN Hadirkan Teknologi Deteksi dan Pakan
astakom.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendongkrak ekosistem halal di Indonesia dengan menggenjot riset dan inovasi di berbagai sektor. Langkah strategis ini mencakup pengembangan teknologi pelacakan produk halal, inovasi pangan, sektor peternakan, hingga penyediaan bahan baku industri.
Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Ratih Asmana Ningrum, menekankan krusialnya pengembangan alat deteksi halal berbasis DNA. Menurutnya, teknologi seperti real-time PCR dan LAMP memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi, sehingga mampu mengidentifikasi kandungan non-halal secara akurat.
"Inovasi ini diharapkan dapat menghasilkan kit deteksi yang cepat, sensitif, spesifik, dan mudah digunakan, bahkan tanpa memerlukan fasilitas laboratorium yang lengkap,” ucap Ratih dalam kegiatan BRIN Goes to Society: Riset dan Inovasi Halal, di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, dikutip oleh astakom pada Selasa (30/06/2026).
Alat deteksi mini
Langkah riset ini sengaja diarahkan BRIN untuk menciptakan alat deteksi halal yang portabel dan ramah digital. Inovasi tersebut dirancang khusus guna mensupport kebutuhan para pelaku industri kecil dan menengah.
Di sisi lain, fokus riset pangan halal turut dipaparkan oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Andi Febrisiantosa. Penelitian yang berpusat di Kawasan Sains dan Teknologi Gunungkidul ini di dukung oleh fasilitas laboratorium biomolekuler serta analisis pangan terpadu, dengan fokus utama pada metode autentikasi berbasis omics, seperti proteomik dan metabolomik.
Substitusi Gelatin impor
Tak hanya itu, Brin juga sedang menggarap bahan substitusi lokal untuk menggantikan bahan impor non-halal seperti gelatin babi. Sebagai alternatif, mereka memanfaatkan potensi sumber daya laut dan tumbuh-tumbuhan yang melimpah di dalam negeri.
"Indonesia kaya akan sumber daya laut yang pada dasarnya halal. Hal ini menjadi kekuatan bangsa dalam mengembangkan produk pangan halal,” lanjutnya.
Pakan ternak aman
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyoroti kontaminasi yang ada pada pakan hewan ternak. Menurutnya, bahan seperti meat and bone meal (MBM) harus diawasi ketat karena memiliki potensi besar terpapar unsur non-halal.
"Kami telah mengembangkan bahan substitusi pakan yang halal, seperti tepung ikan dan mikroalga, untuk menjamin kehalalan sekaligus keberlanjutan sistem pakan nasional,” jelasnya.
Santoso menegaskan kalau riset dan inovasi halal gak hanya sekadar berfokus pada pemenuhan aspek syariah. Lebih dari itu, inovasi tersebut berdampak besar dalam menjaga mutu, keamanan, dan keberlanjutan ekosistem pangan nasional.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menegaskan kalau pihaknya berkomitmen penuh membangun riset dan inovasi demi menjamin kehalalan produk pangan. Langkah ini, menurutnya, dilakukan dengan menerapkan prinsip zero tolerance atau tanpa toleransi sedikit pun terhadap kontaminan non-halal.
Puji menambahkan kalau Brin terus mendorong penggunaan bahan pengganti untuk menggantikan komoditas pangan strategis yang bersifat non-halal maupun produk impor. Fokus utamanya adalah beralih ke bahan-bahan lokal yang status kehalalan serta keamanannya sudah terjamin.
"Upaya tersebut mencakup pengembangan bahan berbasis bioteknologi, seperti enzim, mikroba, serta bahan tambahan pangan berupa pewarna dan perasa,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada riset, Brin juga menaruh perhatian besar pada penguatan regulasi dan perizinan halal. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkokoh sistem jaminan keamanan pangan di tingkat nasional.
"BRIN berkomitmen membangun riset dan inovasi untuk menjamin pangan dan produk halal yang aman, berkelanjutan, dan berdaya saing,” ucap Puji.
Sinergi ekosistem global
Senada dengan hal itu, Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Andes Hamuraby Rozak, menggarisbawahi kalau kokohnya ekosistem halal nasional mustahil terwujud tanpa sinergi yang kuat. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi erat antara lembaga riset, ulama, lembaga pemeriksa halal, hingga pelaku industri.
Andes menambahkan, perpaduan antara teknologi deteksi halal terkini dan pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia merupakan modal utama untuk melahirkan inovasi halal yang kompetitif di pasar global.
"Kami berupaya mencari bahan substitusi lain dengan memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang mencapai 120 ribu jenis flora dan fauna,” ucapnya.
Tak hanya memaparkan riset, agenda tersebut juga menghadirkan kisah sukses dari dunia industri. Di antaranya adalah langkah Dewan Serat Indonesia yang memanfaatkan daun nanas sebagai bahan baku tekstil halal, serta peran Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia dalam menjembatani pengembangan produk-produk inovatif berbasis riset ilmiah. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Industri halal di Indonesia lagi leveling up nih, guys! Berkat inovasi teknologi dari BRIN, ngecek kehalalan produk bakal makin satset dan digital banget, bahkan ramah buat UMKM. Gak cuma soal patuh syariah, langkah keren pakai bahan lokal dan mikroalga ini juga jadi bukti kalau produk lokal kita bisa super aman, sustainable, dan siap bersaing di pasar global. Support lokal, zero tolerance buat yang meragukan!







