Pantauan Satelit Carbon: Bantargebang Penghasil Metana Terbesar Ke-2 di Dunia, Emisinya Tembus 6 Ton per Jam
astakom.com, Jakarta — TPST Bantargebang kembali jadi sorotan setelah laporan internasional menempatkan lokasi pembuangan sampah itu sebagai penghasil emisi gas metana terbesar kedua di dunia sepanjang 2025.
Temuan tersebut dirilis UCLA Emmett Institute melalui STOP Methane Project berdasarkan pemantauan satelit Carbon Mapper dan instrumen EMIT milik NASA.
Berdasarkan penelusuran astakom.com pada Selasa, (19/05/2026), Bantargebang disebut melepaskan lebih dari enam ton gas metana setiap jam ke atmosfer. Angka tersebut membuat TPST Bantargebang berada tepat di bawah landfill Campo de Mayo di Argentina dalam daftar lokasi dengan semburan metana terbesar dunia.
Besarnya emisi dari Bantargebang kini tidak hanya dipandang sebagai persoalan sampah perkotaan, tetapi juga menjadi perhatian dalam isu perubahan iklim global.
Para peneliti menyebut metana termasuk gas rumah kaca dengan efek pemanasan yang jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam periode tertentu.
Bantargebang disorot dunia internasional
Melansir laporan UCLA Emmett Institute, pemantauan emisi dilakukan menggunakan teknologi satelit yang mampu mendeteksi semburan metana dari berbagai titik di dunia. Proyek STOP Methane mencatat lebih dari 2.900 plume atau semburan emisi metana di 707 lokasi global selama pemantauan berlangsung.
Direktur Eksekutif UCLA Emmett Institute, Cara Horowitz, mengatakan teknologi satelit kini membuat emisi metana yang sebelumnya sulit terlihat menjadi lebih mudah dipantau secara terbuka.
“Metana selama bertahun-tahun menjadi gas polutan tersembunyi. Namun, sekarang kita bisa melihat emisi yang sangat besar ini menggunakan satelit dan menjadikannya sebagai alarm peringatan bagi dunia,” kata Horowitz.
Bantargebang menjadi salah satu lokasi yang paling menonjol dalam laporan tersebut karena tingginya emisi yang berasal dari timbunan sampah organik. Temuan ini kemudian ikut disorot sejumlah media nasional yang membahas dampak lingkungan dari emisi metana landfill.
Tumpukan sampah picu metana
Tingginya emisi metana di Bantargebang disebut berkaitan erat dengan penumpukan sampah organik dalam jumlah besar selama bertahun-tahun. Kondisi gunungan sampah yang padat dan lembap menciptakan area minim oksigen yang memicu terbentuknya gas metana dari proses pembusukan alami.
Metana sendiri dikenal sebagai salah satu gas rumah kaca paling kuat dalam mempercepat pemanasan global. Karena itu, landfill dengan emisi besar seperti Bantargebang kini menjadi perhatian penting dalam upaya pengendalian perubahan iklim global.
Sorotan terhadap Bantargebang juga memunculkan dorongan agar sistem pengelolaan sampah Jakarta tidak lagi hanya berfokus pada penumpukan di TPA, tetapi mulai memperkuat pengurangan sampah dari sumber dan pemilahan rumah tangga.
Menyoroti temuan tersebut, anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menilai persoalan metana Bantargebang harus menjadi momentum perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah Jakarta.
Metana bisa jadi energi
Hardiyanto Kenneth mengatakan pengelolaan sampah di Jakarta perlu mulai mengutamakan pengurangan sampah sejak dari sumbernya, termasuk memperkuat sistem daur ulang dan teknologi pengolahan modern.
“Sudah saatnya Jakarta melakukan revolusi pengelolaan sampah berbasis pengurangan dari sumber, pemilahan rumah tangga, penguatan daur ulang, hingga pemanfaatan teknologi pengolahan modern yang ramah lingkungan,” kata Kenneth, dikutip astakom.com pada Selasa, (19/05/2026).
Selain menjadi ancaman lingkungan, emisi metana dari landfill juga dinilai memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui teknologi methane capture atau penangkapan gas landfill. Teknologi tersebut memungkinkan gas ditangkap sebelum terlepas ke atmosfer lalu dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik berbasis biogas.
Pemerintah Indonesia sebelumnya juga beberapa kali mendorong pengembangan pengolahan sampah menjadi energi sebagai bagian dari target pengurangan emisi nasional. Namun, pemanfaatan gas landfill dinilai membutuhkan dukungan teknologi, investasi, dan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi agar bisa berjalan optimal. (deA/aNs/aRsp)













