MIWF 2026 Buka Ruang Perkuat Literasi Sastra Indonesia Timur dan Kolaborasi Penerjemahan Internasional
astakom.com, Jakarta – Festival sastra internasional kembali hadir di Indonesia Timur lewat penyelenggaraan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026. Digelar di Fort Rotterdam, Makassar, pada 14–17 Mei 2026.
Ajang ini menjadi titik temu penulis, seniman, akademisi, hingga komunitas lintas negara untuk membahas isu sosial, budaya, lingkungan, dan kemanusiaan melalui berbagai program kreatif.
Kementerian Kebudayaan RI menilai MIWF tidak hanya menjadi festival sastra tahunan, tetapi juga ruang kolaborasi budaya yang terus bertahan dan berkembang selama 15 tahun terakhir.
Mengusung tema “Re-coordinate”, MIWF 2026 menghadirkan diskusi publik, lokakarya, pameran seni, pertunjukan, hingga pemutaran film yang melibatkan ratusan peserta dan mitra internasional.
Melansir dari keterangan resmi Kementerian Kebudayaan yang diterima astakom.com pada Senin (18/5/2026). Menyebut penyelenggaraan MIWF menjadi capaian penting di tengah tumbuhnya berbagai festival sastra di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini adalah pencapaian yang luar biasa. Butuh komitmen, strategi, energi, dan resiliensi dari teman-teman yang menjadi motor penggerak MIWF” dikutip dari keterangan resmi Kementerian Kebudayaan pada Senin, (18/5/2026).
Ruang tumbuh komunitas
Menurut Anissa, MIWF tak hanya menghadirkan ruang diskusi sastra, tetapi juga membuka peluang kolaborasi lintas disiplin seni dan komunitas warga. Festival ini turut melibatkan seni pertunjukan, seni rupa, film, hingga aktivisme komunitas yang berkembang di Makassar maupun berbagai daerah lainnya.
Tema “Re-coordinate” dinilai relevan karena mengajak publik kembali meninjau makna kemanusiaan di tengah berbagai persoalan sosial yang berkembang saat ini. MIWF juga dipandang sebagai ruang relasional yang mempertemukan jejaring seni, budaya, dan sosial dalam satu ekosistem yang inklusif.
Perkuat literasi sastra
Pada penyelenggaraan tahun ini, MIWF menghadirkan 144 program yang melibatkan ratusan panelis, komunitas, serta kolaborator dari berbagai negara. Sejumlah program difokuskan pada pengembangan talenta di bidang sastra, film, seni pertunjukan, dan seni rupa melalui lokakarya, pameran, pertunjukan tari, serta pemutaran film.
Selain menjadi ruang kolaborasi lintas seni, MIWF 2026 juga dinilai memperkuat literasi sastra di Indonesia Timur melalui pengembangan talenta penulis muda, forum diskusi publik, hingga program penerjemahan karya sastra Indonesia ke tingkat internasional.
Kementerian Kebudayaan juga memberikan dukungan terhadap upaya internasionalisasi sastra Indonesia melalui program penerjemahan, forum diskusi publik, hingga ruang jejaring budaya. Selain itu, regenerasi penulis muda Indonesia Timur turut diperkuat melalui program Emerging Writers MIWF.
“Semoga seluruh program ini bisa memberikan dampak besar bagi penguatan ekosistem seni budaya di Indonesia. Saya juga berharap MIWF dapat terus hadir di tahun-tahun mendatang, tidak hanya sebagai festival sastra, akan tetapi sebagai ruang tumbuh bersama bagi semua kalangan,” tambah Anissa Rengganis.
Festival yang terus bertahan
Direktur MIWF, M. Aan Mansyur, mengatakan keberlangsungan festival ini tidak lepas dari dukungan warga dan komunitas yang terus menjaga eksistensinya sejak pertama kali digelar.
“MIWF mampu bertahan hingga saat ini karena digerakkan oleh warga dan komunitas yang menjaga festival ini tetap hidup dari tahun ke tahun,” ujar Aan Mansyur.
Melalui dukungan terhadap MIWF 2026, Kementerian Kebudayaan berharap tercipta ruang kolaborasi yang mampu memperkuat ekosistem sastra dan kebudayaan Indonesia secara inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperluas jejaring budaya di tingkat nasional maupun internasional.(deA/aRsp)













