Anak Nelayan ini Kasih Faham Pengkritik MBG: Logika 'Toilet' Sangat Dangkal!
astakom.com, Pulau Sembilan – Narasi sinis terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di media sosial. Program yang digagas sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia itu bahkan direduksi dengan logika sederhana yang menyebut makanan hanya berujung menjadi limbah tubuh.
Salah satu anak Nelayan dari Pulau Sembilan, Muzakkir Pratama menilai cara pandang tersebut sebagai bentuk penyederhanaan yang keliru sekaligus menyesatkan.
Menurutnya, kritik terhadap program publik semestinya dibangun di atas pemahaman yang utuh, bukan sekadar parodi yang mengaburkan esensi kebijakan.
“Logika yang menyebut makanan hanya berakhir di toilet itu sangat dangkal. Tubuh manusia bukan saluran pipa, melainkan sistem biologis kompleks yang menyerap nutrisi penting untuk pertumbuhan,” ujar Muzakkir dalam keterangannya.
Peran vital asupan gizi
Ia menjelaskan, setiap asupan bergizi memiliki peran vital dalam proses biologis tubuh. Protein, misalnya, berfungsi membangun jaringan otak dan mendukung perkembangan kognitif. Sementara zat besi membantu distribusi oksigen agar anak tetap fokus dalam proses belajar.
“Yang keluar dari tubuh hanyalah residu yang memang tidak dibutuhkan. Mengukur manfaat makanan dari limbahnya sama seperti menilai kualitas bahan bakar dari asap knalpot,” katanya.
Lebih jauh, Muzakkir menegaskan bahwa program MBG tidak sekadar bertujuan mengatasi rasa lapar, tetapi menjadi instrumen strategis untuk memutus rantai stunting dan kemiskinan kognitif, khususnya di wilayah tertinggal.
Ia menyoroti ketimpangan akses gizi yang masih terjadi di berbagai daerah. Bagi sebagian anak di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), asupan protein masih menjadi barang mewah yang sulit dijangkau.
“Tanpa intervensi serius, kita berisiko melahirkan generasi dengan kapasitas otak yang tidak optimal. Ini akan berdampak langsung pada masa depan bangsa,” ungkapnya.
Kritik harusnya fokus pada tata kelola anggaran
Kendati demikian, Muzakkir tidak menutup ruang kritik terhadap implementasi program. Ia menilai pengawasan terhadap tata kelola anggaran dan kualitas distribusi makanan harus menjadi fokus utama publik.
“Kritik itu penting, tetapi harus diarahkan pada eksekusi, bukan esensinya. Kita wajib mengawal agar anggaran tidak disalahgunakan dan kualitas makanan tetap terjaga,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kesalahan dalam memahami program strategis seperti MBG dapat berujung pada melemahnya dukungan publik terhadap upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia.
“Program ini adalah investasi untuk masa depan. Bukan sekadar soal mengisi perut, tetapi membangun kualitas berpikir generasi penerus bangsa,” pungkas Muzakkir. (Usm/aRsp)













