astakom.com, Jakarta – Di Desa Grajegan, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah Rohmat Riyadi (24) dengan teliti menyapu setiap sudut ruangan fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebelum aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai.
Dengan seragam lengkap menggunakan masker, penutup kepala, dan sarung tangan, ia memastikan lantai toilet bersih saat digunakan oleh pegawai SPPG yang hampir setiap hari menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak penerima program.
Rohmat, warga Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, memiliki gangguan penglihatan pada mata kiri membuat penglihatannya rabun.
Dia juga penyandang disabilitas pada kaki kiri akibat polio sejak kecil, yang membuat langkahnya tidak sepenuhnya tegak saat berjalan.
Meskipun dalam kondisi tersebut, Rohmat tidak terpinggirkan. Dia bekerja Di SPPG Yayasan Permata Mitra Keluarga, sebagai petugas kebersihan (cleaning service), yang membantu menjaga kebersihan fasilitas dapur program MBG.
Ruang untuk berdaya
Rohmat merasa pekerjaan yang dilakukannya bukan hanya sumber penghasilan untuknya, tapi bekerja di dapur MBG memberinya ruang untuk tetap berdaya dan menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga mampu bekerja tanpa diskriminasi.
“Teman-teman di sini baik semua. Mereka memperlakukan saya sama, tidak dibedakan,” kata Rohmat, seperti dikutip pada Senin (16/3/2026).
Bersyukur bisa terlibat di program gagasan Presiden
Sebelumnya, Rohmat, sempat bekerja di pabrik mebel, namun dia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Sekarang Rohmat ngerasa sangat bersyukur atas kesempatan yang dia dapatkan. Bahkan dia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto jika dia punya kesempatan.
“Terima kasih untuk Pak Prabowo. Kaki saya sakit karena polio, saya disabilitas, mata saya juga agak rabun. Tapi saya bisa bekerja di dapur MBG dan bisa membantu orang tua serta memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Rohmat.
Harapannya disabilitas bisa diberdayakan
Dia pengen dapur MBG bisa terus ngasih kesempatan kerja tanpa diskriminasi. Sehingga penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya punya peluang yang sama buat bekerja.
“Harapan saya dapur MBG bisa terus berjalan dan disabilitas seperti saya bisa bekerja di dapur MBG,” pungkasnya.
Rohmat punya harapan kalau hasil dari pekerjaannya bisa digunakan untuk membahagiakan orang tua dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Manfaat program MBG dirasakan berbagai lapisan masyarakat
Dari cerita Rohmat menunjukkan bahwa Program MBG bukan cuma buat meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga membuka peluang ekonomi buat masyarakat secara lebih luas.
Program ini terbukti menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat. Lewat operasional dapur SPPG di berbagai daerah, semua lapisan masyarakat bahkan kelompok rentan dan penyandang disabilitas, bisa merasakan manfaatnya.

