Waspada! Teguh Arifiyadi : Menjelang Lebaran, Kasus Scam Biasanya Melonjak
astakom.com, Techno – Kasus penipuan digital atau scam di Indonesia masih terus bermunculan dan bahkan makin beragam modusnya. Pemerintah mengungkap salah satu penyebab utamanya adalah sistem penyaringan internet yang digunakan Indonesia, yaitu model blacklist.
Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik di Kementerian Komunikasi dan Digital, Teguh Arifiyadi, menjelaskan secara global ada dua pendekatan utama yang digunakan negara untuk mengatur konten di internet, yakni sistem blacklist dan whitelist.
“Indonesia menganut model blacklist. Itulah sebabnya banyak orang bisa melakukan penipuan, karena dengan sistem blacklist semuanya menjadi anonim,” kata Teguh, dikutip dari pemberitaan media pada Kamis (11/3/2026).
Sistem Internet Indonesia Ibarat Kolam Terbuka
Teguh menjelaskan sistem blacklist pada dasarnya memberi kebebasan bagi semua konten untuk beredar di internet, kecuali yang secara jelas melanggar aturan. Artinya, pemerintah baru akan bertindak setelah menemukan konten bermasalah.
Ia mengibaratkan sistem tersebut seperti sebuah kolam terbuka yang bisa dimasuki air dari mana saja.
Jika kemudian ada kotoran yang masuk, barulah kotoran tersebut dibersihkan. Namun, dengan pola seperti ini, kolam tersebut tidak akan pernah benar-benar bersih, terutama jika konten bermasalah sudah terlanjur viral di ruang digital.
Berbeda dengan sistem whitelist yang diterapkan di beberapa negara seperti China dan Iran. Dalam sistem ini, semua konten pada dasarnya dilarang terlebih dahulu dan hanya yang mendapat izin saja yang bisa diakses melalui sistem gateway tertentu.
Pemerintah tidak bisa akses percakapan pribadi
Meski begitu, Teguh menegaskan sistem blacklist yang digunakan Indonesia tetap menjaga prinsip demokrasi dan privasi pengguna internet.
“Walaupun Indonesia memakai model blacklist, pemerintah tidak membaca pesan pribadi dan masih menerapkan asas demokrasi,” ujarnya.
Dengan sistem ini, pemerintah memang tidak memiliki akses untuk memantau seluruh aktivitas digital masyarakat, termasuk isi percakapan pribadi atau perangkat yang digunakan oleh pengguna internet.
Ribuan laporan scam masuk setiap hari
Masalah penipuan digital di Indonesia juga terlihat dari tingginya laporan yang masuk setiap hari. Data Komdigi menunjukkan ada sekitar 1.700 laporan penipuan digital yang diterima setiap harinya.
Dalam statistik penanganan konten negatif internet pada periode Oktober 2024 hingga Oktober 2025, terdapat lebih dari 3 juta kasus konten bermasalah di internet.
Dari jumlah tersebut, sekitar 25 ribu kasus merupakan penipuan, menjadikannya salah satu kategori terbesar setelah perjudian dan pornografi.
Ramadan jadi 'musimnya' penipuan digital
Teguh juga mengungkapkan bahwa kasus penipuan digital biasanya meningkat pada momen tertentu, terutama menjelang hari besar keagamaan.
“Menjelang Lebaran atau Natal, kasus penipuan biasanya naik, misalnya penipuan tiket perjalanan atau tiket palsu. Pada momen ini banyak masyarakat yang bepergian,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang, yang menyebut periode Ramadan sering menjadi waktu dengan tingkat penipuan digital yang tinggi.
“THR season is scam season, karena banyak kemungkinan yang bisa terjadi dan akhirnya merugikan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, momen Ramadan biasanya diiringi peningkatan aktivitas belanja online serta pencairan THR dan bonus, yang kemudian dimanfaatkan pelaku kejahatan digital untuk melakukan berbagai modus penipuan.













