astakom.com, Jakarta — Nama Yemisa Zebua, siswi asal Kabupaten Nias, Sumatera Utara, sempat mencuri perhatian publik setelah videonya yang meminta pembangunan jembatan kepada Presiden Prabowo Subianto viral di media sosial.
Saat itu ia menceritakan bagaimana para siswa harus menyeberangi sungai dengan risiko tinggi setiap hari demi bisa sampai ke sekolah.
Permintaan tersebut kemudian mendapat respons pemerintah melalui pembangunan jembatan di wilayah tersebut.
Pembangunan itu menjadi bagian dari program percepatan infrastruktur yang menargetkan pembangunan ratusan jembatan di daerah terpencil dan rawan bencana.
Dalam dialog daring bersama Presiden Prabowo pada Senin (9/3/2026), Yemisa kembali menyampaikan rasa terima kasih atas jembatan yang kini mempermudah akses sekolah, sekaligus mengungkap sejumlah harapan lain terkait pendidikan dan kesejahteraan siswa di daerahnya.
Akses sekolah kini lebih mudah berkat jembatan baru
Sebelum jembatan dibangun, perjalanan menuju sekolah bagi para siswa di wilayah tersebut bukan perkara mudah. Mereka harus menyeberangi aliran sungai yang cukup berbahaya setiap hari agar dapat mengikuti kegiatan belajar.
Kondisi tersebut membuat para siswa harus melepas sepatu agar tidak basah sebelum menyeberang. Situasi ini bahkan sempat menjadi sorotan publik setelah video yang menampilkan kondisi tersebut beredar luas di media sosial.
Kini situasi itu telah berubah setelah jembatan selesai dibangun. Yemisa menyampaikan bahwa akses menuju sekolah menjadi jauh lebih aman dan nyaman bagi para siswa.
“Terima kasih atas bantuan Bapak Presiden, sekarang kami tidak membuka sepatu lagi kalau berangkat ke sekolah,” ujar Yemisa.
Sampaikan cita-cita jadi dokter
Dalam percakapan tersebut, Presiden Prabowo juga menanyakan tentang kondisi pendidikan Yemisa. Ia diketahui berusia 17 tahun dan kini duduk di kelas 12.
Ketika ditanya mengenai rencana masa depan, Yemisa mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan bercita-cita menjadi dokter. Namun ia mengakui kondisi ekonomi keluarga menjadi kendala utama untuk mewujudkan impian tersebut.
“Orang tua saya tidak mampu,” kata Yemisa.
Menanggapi hal itu, Presiden Prabowo menyatakan akan memberikan kesempatan bagi Yemisa untuk mengikuti proses seleksi sebagai bagian dari upaya membantu pendidikan.
“Kedokteran? Ya sudah nanti kamu di tes,” ujar Presiden Prabowo.
Dalam kesempatan yang sama, Yemisa juga menyampaikan bahwa beberapa temannya memiliki keinginan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Presiden kemudian meminta jajaran TNI setempat untuk mencatat nama-nama para siswa tersebut.
“Danrem coba dicatat namanya, karena dia punya keberanian dan leadership langsung lapor ke saya,” kata Presiden Prabowo.
Soroti program makan bergizi gratis
Selain membicarakan pendidikan, Yemisa juga menyampaikan kondisi di sekolahnya yang hingga kini belum mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, program tersebut sangat dibutuhkan karena banyak siswa berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
“Belum sampai di sekolah kami Pak. Orang tua kami tidak mampu membiayai makan kami,” ujarnya.
Ketika Presiden menyinggung adanya kritik yang menyebut program MBG tidak diperlukan di sejumlah daerah, Yemisa langsung merespons dengan tegas.
“Siapa bilang? Bohong itu Pak,” katanya.
Selain persoalan makan bergizi, Yemisa juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur di sekitar sekolah, termasuk perbaikan akses jalan dan pengembangan fasilitas pendidikan di SMK Boronadu.
Di akhir percakapan, Presiden Prabowo berpesan agar Yemisa dan para siswa tetap fokus belajar serta terus berusaha meraih cita-cita mereka.
“Belajar yang benar ya,” pesan Presiden Prabowo.

