MBG di Kartasura: Dari PAUD hingga Harapan yang Menguat di Dapur SPPG
astakom.com, Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menyimpan dua cerita yang saling melengkapi.
Tentang penerimaan yang tumbuh di ruang kelas dan harapan yang menguat di dapur pelayanan gizi.
Di PAUD Anak Hebat Kartasura, Kepala Sekolah, Cita Restuningrum, mengaku awalnya mayoritas wali murid menolak program tersebut.
“Siapa yang setuju anaknya diberikan MBG? Adakah yang tidak setuju? Seperti itu. Nah, 70 persen itu orang tua tidak setuju diberikan MBG anaknya,” ujar Cita, berdasarkan rilis yang diterima redaksi astakom.com, Senin (2/3/2026).
Pendekatan persuasif wali murid
Alih-alih memaksa, Cita memilih pendekatan persuasif dengan masa uji coba satu minggu.
“Nah, terus akhirnya saya bilang, bagaimana kalau kita mencoba dulu? Mencoba satu minggu,” ujar Cita.
“Anak diberikan MBG, tapi tidak dimakan oleh anak, MBG-nya saya suruh bawa pulang. Supaya orang tua melihat menunya itu apa,” tambahnya.
Wali murid menerima anaknya mendapat MBG
Komite sekolah turut mengawasi menu harian, sementara anak-anak diberi kebebasan mencicipi sesuai izin orang tua. Hasilnya berubah signifikan.
“Terus di minggu kedua saya tanya, bagaimana Bunda, apakah mau menerima (MBG)? Akhirnya orang tua mau. Ini aman ya, nggak apa-apa tuh. Akhirnya sudah, anak-anak semuanya diberikan MBG,” ungkapnya.
Harapan yang tumbuh di dapur SPPG
Di sisi lain, di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pucangan 1 Kartasura, program MBG juga menjadi penopang hidup bagi Tri Wahyuni (52), seorang janda yang bekerja di dapur tersebut.
Ia berharap Presiden Prabowo Subianto memastikan program ini terus berjalan.
“Pak, kalau bisa MBG ada terus ya Pak. Jangan libur-libur, kasihan kami. Jangan ditutup ya Pak Prabowo,” katanya.
MBG jadi ruang pengabdian dan harapan
Bagi Tri, MBG bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang pengabdian dan harapan. “Mudah-mudahan saya bisa mengabdi lewat (program) MBG ini. Karena MBG ini benar-benar, Pak, saya merindukannya. Dan saya merasa nyaman kerja di sini,” ujarnya.
Dari ruang kelas hingga dapur pelayanan gizi, perjalanan MBG di Kartasura menunjukkan bagaimana sebuah program tak hanya soal asupan makanan bagi anak, tetapi juga tentang kepercayaan, ketenangan orang tua, dan keberlangsungan hidup keluarga.













