93 Persen Warga Jakarta Kurang Gerak, Padahal Bisa Lho Produktif dengan Cara Ini!
astakom.com, Jakarta — Gaya hidup warga Ibu Kota tengah menjadi sorotan. Berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2025 hingga awal 2026, sebanyak 93 persen warga DKI Jakarta tercatat kurang aktivitas fisik, termasuk olahraga.
Temuan ini menjadi sinyal serius terkait meningkatnya risiko penyakit tidak menular, khususnya gangguan kardiovaskular.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengungkapkan bahwa hasil skrining menunjukkan dominasi faktor risiko yang berkaitan dengan kesehatan jantung.
"Dari hasil pemeriksaan, temuan terbanyak berasal dari kelompok risiko penyakit kardiovaskular, terutama obesitas sentral dan kurangnya aktivitas fisik (93 persen)," kata Ani Ruspitawati saat dihubungi di Jakarta, seperti dilansir dari salah satu media nasional pada Senin (16/2/2026).
Kurang gerak dan risiko penyakit jantung
Obesitas sentral, penumpukan lemak di area perut, yang ikut ditemukan dalam hasil CKG merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung, stroke, hingga diabetes tipe 2. Kurangnya aktivitas fisik dalam jangka panjang dapat memperburuk kondisi metabolisme tubuh dan meningkatkan tekanan darah.
Padahal, pedoman kesehatan global telah memberikan standar yang jelas. World Health Organization (WHO) merekomendasikan orang dewasa usia 18–64 tahun untuk melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu, atau sekitar 30 menit per hari selama lima hari. Aktivitas ini bisa berupa jalan cepat, bersepeda santai, atau olahraga aerobik ringan.
Rekomendasi serupa juga ditegaskan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang menyebut aktivitas aerobik moderat secara rutin membantu menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.
Sementara itu, American Heart Association (AHA) menyatakan bahwa berjalan kaki secara konsisten dapat membantu mengontrol tekanan darah, menjaga berat badan, serta memperbaiki kadar kolesterol faktor penting dalam pencegahan penyakit kardiovaskular.
Artinya, anjuran 30 menit jalan cepat per hari bukan sekadar tren gaya hidup sehat, melainkan berbasis rekomendasi medis dan riset ilmiah.
Pola hidup urban jadi tantangan
Di kota besar seperti Jakarta, tantangan utama bukan hanya soal kesadaran, tetapi juga kebiasaan. Jam kerja panjang, kemacetan, hingga kebiasaan menghabiskan waktu di depan layar membuat durasi duduk semakin panjang.
Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa memecah waktu duduk panjang dengan berdiri atau bergerak ringan setiap 30–60 menit dapat membantu menjaga metabolisme dan mengurangi dampak negatif gaya hidup sedentary.
Dengan kata lain, olahraga tidak selalu harus ekstrem. Perubahan kecil namun konsisten bisa memberi dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan
Mengacu pada rekomendasi lembaga kesehatan global, beberapa langkah sederhana yang realistis antara lain:
- Jalan cepat/ Jogging 30 menit per hari
- Menggunakan tangga dibanding lift
- Berdiri dan peregangan ringan setiap satu jam bekerja
- Bersepeda atau lari santai di akhir pekan
- Mengurangi waktu duduk atau rebahan terlalu lama
Konsistensi menjadi kunci utama untuk keluar dari kategori “kurang gerak”.













