Slow but Sure! Pidie Jaya Aceh Berbenah Pascabencana, Rumah hingga Hutan Dipulihkan
astakom.com, Jakarta – Proses pemulihan pascabencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, terus menunjukkan perkembangan positif. Sejumlah wilayah terdampak mulai berangsur pulih berkat keterlibatan langsung personel TNI yang bekerja bersama masyarakat di lapangan.
Upaya pemulihan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembersihan rumah warga yang tertimbun lumpur, pembukaan kembali akses jalan lingkungan, hingga penanaman pohon di kawasan hutan lindung.
Seluruh kegiatan dilakukan dengan semangat gotong royong untuk mempercepat pemulihan pascabencana.
Dari pantauan lapangan pada Rabu, (4/2/2026), progres pemulihan terlihat di beberapa desa terdampak. Meski belum sepenuhnya rampung, berbagai pekerjaan fisik terus berjalan secara bertahap dan konsisten.
Langkah-langkah ini menjadi bagian dari upaya memulihkan aktivitas warga sekaligus memperkuat lingkungan agar lebih siap menghadapi potensi bencana ke depan.
Hutan Lindung Dihijaukan Kembali, Fokus Cegah Bencana Susulan
Salah satu progres paling signifikan terlihat di Desa Lhok Sandeng, Kabupaten Pidie Jaya. Di kawasan hutan lindung desa tersebut, kegiatan penanaman pohon dilaporkan telah rampung 100 persen.
Personel TNI terlihat mencangkul tanah untuk membuat lubang tanam sebelum bibit pohon ditanam secara merata. Penanaman ini dilakukan sebagai bagian dari pemulihan lingkungan pascabencana sekaligus upaya mencegah risiko bencana susulan, seperti longsor dan banjir bandang.
Pemulihan kawasan hutan lindung dinilai penting untuk mengembalikan fungsi alam sebagai penyangga wilayah. Dengan kondisi hutan yang kembali hijau, risiko kerusakan lingkungan diharapkan dapat ditekan.
Rumah Warga Dibersihkan Bertahap, Gotong Royong Jadi Kekuatan
Di Desa Kota Meureudu, Kecamatan Meureudu, fokus pemulihan menyasar permukiman warga yang sempat terendam lumpur tebal. Salah satunya rumah milik Ibu Hajjah Martini, yang hingga kini proses pembersihannya telah mencapai sekitar 46 persen.
Sebagian besar ruangan rumah masih tertimbun lumpur, namun kerja bakti terus dilakukan. Personel TNI dan warga bergotong royong membersihkan rumah, bahkan diiringi lantunan musik untuk menjaga semangat di tengah proses pemulihan.
Tak jauh dari lokasi tersebut, rumah milik Ibu Ti Hajar juga menjadi sasaran pembersihan. Dengan menggunakan sekop dan cangkul, sisa lumpur yang mengendap mulai disingkirkan. Progres pembersihan di rumah ini telah mencapai sekitar 50 persen dan terus diupayakan agar segera dapat ditempati kembali.
Sementara itu, rumah milik Ibu Rohani juga menunjukkan perubahan. Sekitar 40 persen area rumah berhasil dibersihkan, dan lantai rumah yang sebelumnya tertutup lumpur kini mulai terlihat kembali.
Akses Lingkungan Dibuka, Aktivitas Warga Mulai Bergerak Lagi
Selain rumah warga, pemulihan juga menyasar akses umum. Pembersihan lorong Jalan Meunasah Balek di Desa Kota Meureudu telah mencapai sekitar 46 persen. Lorong tersebut sebelumnya tertutup lumpur dan tidak dapat dilalui warga.
Personel TNI juga membersihkan selokan di sepanjang jalan desa yang sempat dipenuhi lumpur dan sampah kiriman banjir. Hingga kini, progres pembersihan selokan telah mencapai sekitar 41 persen.
Pembersihan akses jalan dan drainase dilakukan untuk mendukung kelancaran aktivitas warga sekaligus mencegah genangan air jika hujan kembali turun. Dengan terbukanya akses lingkungan, kehidupan masyarakat perlahan mulai kembali berjalan.













