Iran Sukses “Shutdown” Starlink: Internet Satelit Kebanggaan Amerika Berantakan di Tengah Blackout

Editor: Dhea Vallerina Riyon
Kamis, 15 Januari 2026 | 17:25 WIB
Iran Sukses “Shutdown” Starlink: Internet Satelit Kebanggaan Amerika Berantakan di Tengah Blackout
Iran Sukses “Shutdown” Starlink: Internet Satelit Kebanggaan Amerika Berantakan di Tengah Blackout (Suray/Astakom/Gemini)

astakom.com, Techno - Teknologi internet satelit Starlink, yang selama ini digadang-gadang sebagai solusi konektivitas paling sulit diblokir, kini menghadapi ujian serius. Di tengah pemadaman internet nasional di Iran, layanan milik SpaceX tersebut dilaporkan mengalami gangguan signifikan akibat serangan elektronik dari darat, membuat koneksinya tak lagi stabil di sejumlah wilayah.

Laporan media internasional menyebut gangguan ini bukan sekadar pemutusan akses konvensional, melainkan interferensi sinyal tingkat lanjut yang menyasar frekuensi dan sistem navigasi satelit orbit rendah. Kasus ini memunculkan babak baru dalam lanskap teknologi global: internet satelit kini ikut masuk arena perang digital antarnegara.

Jamming elektronik bikin sinyal satelit kacau

Menurut laporan Forbes, Iran diduga menerapkan teknologi jamming dan spoofing GPS untuk mengganggu komunikasi antara terminal Starlink di permukaan dengan satelit di orbit rendah. Teknik ini bekerja dengan mengacaukan sinyal navigasi dan frekuensi radio, sehingga perangkat kesulitan mempertahankan koneksi yang stabil.

Akibatnya, Starlink di Iran dilaporkan tetap aktif secara teknis, tetapi nyaris tidak bisa digunakan secara normal. Pengguna mengalami koneksi putus-nyambung, kecepatan anjlok, hingga kegagalan sambungan total di area dengan intensitas gangguan tinggi.

Seperi yang di lansir dari media Forbes yang meneybutkan langkah ini sebagai bentuk electronic warfare tingkat negara yang menargetkan layanan satelit komersial, sesuatu yang sebelumnya nyaris tak pernah terdokumentasi secara terbuka, Kamis, (15/1/2026).

Starlink masih online, tapi tak lagi bebas sensor

SpaceX sebelumnya telah mengaktifkan akses Starlink di Iran dan merilis pembaruan sistem untuk meningkatkan ketahanan jaringan selama blackout.

Namun laporan dari lapangan menunjukkan bahwa pembaruan tersebut belum sepenuhnya mampu menahan gangguan sinyal masif yang dilakukan dari darat.

Para pengamat jaringan mencatat bahwa ketahanan Starlink sangat bergantung pada kondisi spektrum lokal. Ketika jamming dilakukan secara intensif dan terkoordinasi, bahkan jaringan satelit dengan ribuan node pun bisa terdampak.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa klaim “internet yang tak bisa diblokir” kini harus dihadapkan pada realitas baru: kendali spektrum dan teknologi perang elektronik masih menjadi faktor penentu.

Respons global: teknologi jadi isu geopolitik

Gangguan terhadap Starlink di Iran langsung memicu perhatian internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan membahas persoalan pemulihan konektivitas internet Iran bersama Elon Musk.

“Kami akan melihat apa yang bisa dilakukan untuk membantu memulihkan konektivitas,” ujar Trump, seperti dilansir dari media Reuters.

Sementara itu, Prancis menyatakan tengah mengkaji kemungkinan penyediaan akses internet satelit alternatif melalui operator Eropa untuk membantu warga Iran yang terdampak pemadaman massal.

Kasus ini menegaskan bahwa teknologi internet kini bukan sekadar urusan komersial, melainkan telah menjadi instrumen strategis dalam dinamika politik dan keamanan global.

Gen Z Takeaway
Starlink sempat dianggap internet “anti-blokir”, tapi kejadian di Iran nunjukin satu hal: di level teknologi tinggi, semua sistem punya celah. Perang digital sekarang bukan cuma soal aplikasi atau kabel, tapi soal kontrol sinyal, spektrum, dan perang elektronik. Bahkan satelit pun bisa “dibikin lumpuh” kalau negara sudah main di level tech warfare.

iran Iran Sukses Shutdown Starlink sinyal satelit Starlink Techno Teknologi

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB