SPPG Langsa Barat Full Speed! Salurkan Perhari 1000 Porsi MBG untuk Warga Terdampak Banjir
astakom.com, Jakarta — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Langsa Barat, Kota Langsa, Aceh, menyalurkan paket Makan Bergizi Gratis kepada warga terdampak banjir dan longsor.
Petugas SPPG melakukan pendistribusian dengan mobil boks, membawa kantong besar berisi boks nasi MBG.
Salah satu petugas, Asraf, menyampaikan bahwa penyaluran tersebut telah berlangsung hampir sepekan, dengan jumlah distribusi mencapai 1.144 paket MBG setiap hari.
“Sejak Senin, tanggal 15 Desember. Membagikan ke daerah yang terdampak. (Setiap hari) 1.144, sekarang baru seminggu berjalan,” kata Asraf saat diwawancara wartawan astakom di Langsa Barat, Aceh, Minggu (21/12/2025).
Upaya maksimal relawan SPPG
Dia mengatakan ketersediaan bahan baku memang sulit, harganya juga lebih mahal. Namun, lanjut Asraf, para petugas dan relawan SPPG bekerja dengan hati.
“Memang agak susah, harga tinggi. Tapi kami sebagai relawan upayakan,” tuturnya.
Boks-boks nasi dibagikan ke rumah warga korban bencana atau kepada warga yang melintas. Di tiap rumah, biasanya mereka menurunkan sekitar tiga sampai empat kantong besar berisi paket MBG. Warga yang menerima kantong itu membagikan ke warga lainnya.
Relawan SPPG juga membagikan sembako
Selain paket MBG, para relawan juga membagikan sembako seperti beras untuk warga. Karung-karung beras dimasukkan ke dalam mobil boks untuk didistribusikan.
Yusi (46), warga terdampak bencana, mengaku bersyukur menerima paket MBG dari SPPG Langsa Barat. Ia sudah beberapa kali menerima bantuan makan gratis.
“Dua kali ini (terima). Karena tidak terima langsung. Kadang ada yang dapat dari mana, kita terima. Karena ada yang di jalan dapat. Rasanya Alhamdulillah sekali, banyak bersyukur,” tutur Yusi.
Ia mengatakan juga telah menerima bantuan berupa paket sembako dari pemerintah. Isinya di antara lain beras, mi instan, dan air minum.
Harapan masyarakat untuk penanganan bencana
Yusi pun bercerita saat ini rumahnya belum bisa ditempati karena banjir merendam rumahnya hingga setinggi tiga meter. Meskipun air sudah surut, ia masih memilih tinggal di tempat lain di dataran yang lebih tinggi. Namun, ia kerap bolak-balik ke untuk membereskan rumahnya agar bisa ditempati lagi.
“Ini masih dibersih-bersihin. Kami tinggal dekat tetangga yang lebih tinggi datarannya. Dari tanggal 26 (November) malam,” ucap dia.
Yusi berharap penanganan pascabencana bisa lebih baik lagi. Kendati begitu, ia dan keluarganya mencoba tetap tabah dan bersyukur. “Kita banyak-banyak bersyukur,” katanya.













